Senin, 29 April 2013

CRUSH -- Chapter 2

Judul : Crush 
Author : Choi Hyuk Ra (Rentika)
Genre : Romance , Hurt.
Inspired from  : Song of Sandeul - Crush
Cast : Song Hyun Yoo as You
         Yesung as Kim Jong Woon
          Donghae as Lee Donghae
Other Cast : Ny. Lee as  Eomma Donghae
Cuap-cuap Author : Part ini agak panjang , and Mianhae FF sebelumnya banyak yang salah. Banyak typo-typo bertebaran kemana-mana, apalagi alurnya di part 1 kecepetan. Saran dan kritik selalu hamba terima dengan senang hati, untuk membuat karya ini lebih baik #BOW# Lets Fly!




*Story begin


"Bertahanlah Donghae-ah!!",  Jong Woon terus meneriaki Lee Donghae, menggoyang-goyangkan badan Lee Donghae, berharap tindakannya itu bisa membangunkan Lee Donghae, sahabatnya yang saat ini terbaring lemah di kasur dorong (?) rumah sakit. Dengan panik, ia ikuti arah kemana perawat-perawat itu mendorong Lee Donghae yang berlumuran darah di pelipis dan tangannya saat ini. Hingga tiba di depan pintu ruang ICU , Jong Woon berhenti, menatap Lee Donghae yang semakin tak terjangkau dari pandangannya, masuk dalam ruangan itu. Jong Woon berdiri khawatir , saling memautkan jemarinya dan meremasnya. "Lee Donghae, bertahanlah!", lirih Jong Woon. Keringat mulai tampak di pelipis Jong Woon, raut cemas terlukis di wajahnya. Sejurus kemudian ia ambil benda hitam yang ada di sakunya. Ia harus menghubungi ibu Lee Donghae. Jong Woonpun  mulai mencari nomor ibu Lee Donghae di kontaknya.  Ibu Lee Donghae yang sudah Jong Woon anggap sebagai ibunya sendiri. Dan sebaliknya. Jong Woon yang sudah ibu Lee Donghae anggap sebagai anaknya sendiri. Sedikit ragu untuk menekan tombol call. Tapi, ia beranikan diri. Ia harus memberitahukan keadaan Lee Donghae pada eommanya.


"Yeobeoseyo . . " terdengar suara eomma Lee Donghae.


"Yeobeoseyo . . ige Jong Woon ,eomma" jawab Jong Woon.


" Waeyo Jong Woon-ah?" , tanya eomma Donghae.


" Emm . . Lee Donghae eomma . . Dia kecelakaan, dan . . . sekarang dia ada di rumah sakit." jawab Jong Woon kemudian.


" MWO?!! Aigooo~~~ " Ibu Lee Donghae kaget , tak percaya apa yang di dengarnya. Ibu Lee Donghae begitu shock. Ia memegang kepalanya yang saat ini berdenyut. Membuat telpon yang semula di telinganya, terjatuh dan tergelantug bebas di meja. Dan .....


tutt....tutt...tutt...


"Yeobeoseyo! Yeobeoseyo!"  Jong Woon mengerutkan dahinya. Kenapa telponnya mendadak diputus? Semoga ibu Lee Donghae segera ke tempatnya sekarang. Itu yang Jong Woon inginkan. Jong Woon masih cemas. Uisanim belum tanpak dari balik ruang itu, keluar memberi penjelasan. Cukup lama Jong Woon menunggu kabar dari dokter yang menangani Lee Donghae depan ruang ICU. Rasa khawatir terus menerus menggelayut di pikirannya. Ada rasa tak enak yang Jong Woon rasakan. Seperti firasat buruk. Entahlah~ semoga tak terjadi apa-apa, Jong Woon terus berpikir positif. Tak lama, ibu Lee Donghae datang dengan raut yang lebih cemas dari raut Jong Woon saat ini. Sedikit terengah-engah menghampiri Jong Woon. 


"Jong Woon-ah, Lee Donghae eodisseo? . . . eodisseo?" tanya ibu Lee Donghae dengan suara lemahnya dan sedikit terengah akibat berlari menemui Jong Woon. 


" Tenang eomma. . dia sedang dalam ruang ICU. ", Jong Woon menenangkan ibu Lee Donghae yang sangat khawatir itu. Merangkul pundak eomma Donghae sopan dan mengusap-usapnya untuk memberi ketenangan. 


Tak lama kemudian, keluarlah uisanim yang menangani Lee Donghae. Ibu Lee Donghae langsung menghampiri uisanim. Jong Woon mengikuti arah ibu Lee Donghae di belakangnya. 


"Bagaimana dengan anakku ,uisa? " tanya Ibu Lee Donghae menggoyang-goyangkan lengan baju uisanim. Tampak raut khawatir terlukid dalam wajah yeoja paruh baya itu. Si uisa yang ditarik lengan bajunya itu terlihat sedikit menunduk , terdiam sebentar dan kemudian menatap kembali wajah ibu Lee Donghae yang menanti jawaban dari uisa. 


" Jeoseonghamnida, kami sudah berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan nyawa anak , ibu. Tapi, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Anak ibu telah meninggal. Dan sekali lagi kami minta maaf. " ucap uisanim.


JLEB! Apa yang dikatakan uisa? Lee Donghae sudah pergi? Jantung Jong Woon serasa berhenti berdetak. Jong Woon terdiam. Sedikit mencerna apa yang di katakan oleh uisa. Sedetik kemudian , muncul pemikiran,  Apa ia harus senang karena ada peluang ia bisa mendapatkan Hyun Yoo? ataukah dia sedih karena sahabatnya telah pergi?  Seketika ia teringat Hyun Yoo, yang merupakan pacar dari sahabatnya --- Lee Donghae.  Bagaimana caranya memberitahu Hyun Yoo? Dia tak sanggup jika harus memberitahu Hyun Yoo tentang apa yang terjadi sekarang --- Lee Donghae telah pergi untuk selamanya? Akankah Hyun Yoo percaya jika Lee Donghae sudah pergi? Lagi pula dia tidak ingin melihat air mata Hyun Yoo --- sahabat yang ia cintai, jatuh, ketika mendengarkan kabar ini. Dia tak akan tahan melihat air mata seorang yeoja yang ia cintai itu meluncur begitu saja. Dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya nanti dan luka yang akan ditimbulkan. Pasti Hyun Yoo sangat terpukul. 


" Ini tidak mungkin,kan uisa??!! kau pasti bohong! kau bohong!" , teriak Ibu Lee Donghae yang terus mengguncang lengan uisa. 


" Maaf, bu . . kami sudah berusaha." ucap uisa itu menunduk.


" LEE DONGHAE-AHHH.... ANAKKU.... HAAA..HUHU.. ANAKKU..." teriak yeoja paruh baya itu memukul-mukul dadanya. Seperti ada hantaman yang sangat keras dirasa oleh Ny. Lee di dadanya saat ini. Kaki Ny.Lee terasa sangat lemas sekarang, serasa lumpuh , tak ada daya untuknya berlama-lama berdiri. Ny.Lee benar-benar terpukul. 


Yeoja paruh baya --- Ibu Lee Donghaepun tersungkur,duduk di lantai,memengang dadanya. Yang dirasa saat ini sesak. Ia tak percaya apa yang ia dengarkan. Dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Air mata meluncur deras di kulit keriputnya. Bukan sekedar isakan, tapi, tangis yang sedikit teriakan. Ia memanggil nama Lee Donghae di sela-sela tangisnya itu. Melihat itu, Jong Woon berjongkok, merangkul pundak ibu Lee Donghae. Jong Woon mengerti perasaan yang dirasakan yeoja ini sekarang. Dia memaklumi karena Lee Donghae merupakan anak satu-satunya Ny.Lee. Apalagi Ia telah ditinggal oleh suaminya karena suatu penyakit ganas --- kanker otak 5 tahun lalu. Penyakit yang sama seperti Lee Donghae idapkan. Hanya Lee Donghaelah satu-satunya yang Ny.Lee punya. Tapi, apa daya Tuhan telah mengambilnya. Bagaimana dia bisa hidup? Itu pasti yang ada di benak Ny.Lee. Jong Woon terus mencoba memberi ketenangan. Tapi, ibu Lee Donghae tak henti-hentinya menangis. Sepertinya ia ingin sekali mengeluarkan air yang ada di matanya itu hingga tak ada yang tersisa. Hingga pada akhirnya, dirasa pandangan Ny.Lee tiba-tiba kabur dan sejurus kemudian Ny. Lee pingsan di pangkuan Jong Woon.


SKIP>>


                     ********************

Di tempat lain, Hyun Yoo sedang menunggu Lee Donghae di sebuah restaurant favorit mereka. Tampak saat ini, Hyun Yoo menggigit bibir bawahnya, melihat jam tangan kecilnya dan mendengus kesal. Bagaimana tidak, restauran yang tadinya ramai di kunjungi oleh beberapa pengunjung. Sekarang tinggal dirinyalah yang tetap bertahan disitu. Hanya karena menunggu pangeran tampannya datang. Sungguh kesal memang.  "Namja yang tak menepati janji! ", kesalnya dalam hati. Hyun Yoo tak henti-hentinya mengembuskan nafas kesal. Haruskah ia pergi dari restaurant ini ? Jika pergi ia takut kalau namja yang ia cintai itu akan kecewa. Tapi, dia sudah menunggu namja itu hampir 1 jam. Bayangkan 1 jam!! . Tidakkah itu membuat bokong Hyun Yoo saat ini terasa panas. Sepercik kekhawatiran tiba-tiba muncul dari balik hatinya, apakah terjadi sesuatu dengan Lee Donghae saat ini. Kenapa ia tak menemuinya? "Chagiya, kau tidak apa-apa kan?" , tanyanya dalam hati. Entahlah~ hatinya kalut saat ini. Saat sibuk dengan kekalutan hatinya. Pelayan restaurant kemudian menghampiri yeoja yang saat ini sedang duduk menopang dagu dengan sebelah tangannya.

"Maaf Nunna , apakah anda tidak pulang? hari sudah semakin larut ,nunna. Restaurant kami akan segera tutup." , tanya pelayan restaurant pada Hyun Yoo sopan.


" Bolehkah aku menunggu di sini sebentar lagi? Setelah itu, aku akan segera pergi " , pinta Hyun Yoo pada pelayan itu dengan tersenyum tipis. 


"Baiklah nunna, tapi hanya sebentar. Kalau begitu saya Permisi." Jawab pealayan itu mengangguk dan melenggang pergi.


"Ne, Gamsahamnida." ,Hyun Yoo mengangguk berterima kasih dengan masih menunjukkan senyum mirisnya itu. 


Genap sudah, 2 jam dia menunggu namja yang bernama Lee Donghae itu. Tapi, namja yang Hyun Yoo tunggu itu tak kunjung datang. Hingga akhirnya dia memutuskan pulang kembali ke apartementnya dengan raut muram. Terlihat juga sepercik kekhawatiran dari raut muramnya itu. Dia takut terjadi sesuatu pada Lee Donghae. Tapi, dia berusaha untuk berpikir positif. Dia berharap semoga tidak terjadi apa-apa padanya. 


Sesampainya di apartement, setelah Hyun Yoo selesai menekan password pintu apartementnya. Hyun Yoo bergegas mandi dan mengganti dress yang sedang ia kenakan itu dengan piyama tidurnya. Kemudian merebahkan diri di tempat tidurnya. Memandang langit-langit kamar berwarna creamnya itu.  Pikirannya saat ini tertuju terus pada Lee Donghae. Apa yang terjadi pada Lee Donghae? Kenapa Lee Donghae tak menemuinya? Apakah memang terjadi sesuatu pada Lee Donghae? . Pertanyaan itu terus muncul dalam pikirannya saat ini. Tak lama kemudian, ada niatan dari hatinya untuk menelpon Donghae. Diambilah ponsel yang terletak di meja samping tempat tidurnya dan memencet angka 1 untuk panggilan cepatnya. Lalu, sebelah tangannya terangkat, menempelkan benda hitam itu ke telinganya. 


tutt...tutt..tutt... Nomer yang anda tuju tidak aktif~


Rasa khawatir yang Hyun Yoo rasakan semakin bertambah saja tatkala ponsel Donghae tak aktif. Hyun Yoo tampak menggigit jarinya khawatir. Dia terus mencoba lagi menghubungi namja itu. Tapi, hasilnya nihil. Ponsel Donghae sepertinya memang tak aktif. Apa yang terjadi dengannya? Biasanya, Donghae  tak pernah mematikan ponselnya seperti ini.  Bila ada urusan yang menyebabkan Donghae tidak bisa menemuinya, pasti Donghae akan memberi kabar pada Hyun Yoo. Hyun Yoo menghembuskan nafas kasar. Hatinya masih bergemuruh tak enak. Tiba-tiba , rasa kantuk mulai melanda. Dan sejurus kemudian, mata Hyun Yoo sayu-sayu mulai menutup. Dan diapun mulai tertidur di sofanya dengan posisi berbaring dan masih memegang ponsel di dadanya. 


                        *******************

Raja siang mulai kembali dari tempat peristirahatannya. Membangunkan orang-orang dari tidur panjangnya setelah melakukan aktivitas pada malam hari yang begitu melelahkan. Terutama yeoja yang saat ini masih sibuk dengan alam mimpinya. Sinar matahari mulai menerpa celah-celah gorden kamarnya. Tapi, tak membuat si empunya terusik. Hingga akhirnya alarm milik Hyun Yoo mulai berdering.

Hyun Yoo-ah~ Chagi~ Ireona, jebal!

Hyun Yoo-ah~ Chagi~ Ireona, Jebal!

Terdengar suara Donghae dalam alarm itu , membangunkan Hyun Yoo yang masih sibuk dengan alam bawah sadarnya. Sebuah alarm bentuk panda yang lucu dengan memangku tulisan "saranghae" di perut panda itu. Alarm yang dihadiahkan oleh Donghae saat Hyun Yoo berulang tahun. Suara dalam alarm panda itu memang suara yang sengaja Donghae rekam untuk mebangunkan yeojanya itu. 


Alarm milik Hyun Yoo terus saja berbunyi, tapi, yeoja itu hanya menggeliat kecil . Tak lama, akhirnya Hyun Yoo memaksakan untuk membuka matanya yang masih terasa berat itu. Matanya yang sebenarnya terus mendorongnya untuk tidur lagi. Tapi, ia pasakan tubuhnya itu untuk bangun. Dengan malas, ia dudukan badanya bersandar pada tempat tidurnya. Tampak, yeoja itu mengucek matanya sesekali, memperjelas penglihatan yang buram akibat efek dari tidurnya tadi. Setelah itu kakinya mulai menuruni tempat tidurnya. Lalu, menyeret kaki ke kamar mandi dengan sedikit gontai. 


Pagi ini dia memang berniat ingin pergi ke rumah Lee Donghae .Rumah seorang namja yang terus ia khawatirkan. Dia juga ingin meminta penjelasan tentang ketidakhadirannya ke restaurant. Tak dipungkiri , jika ia tak melihat Lee Donghae 1 jampun lamanya, dia pasti akan mengkhawatirkan sosok itu. Rasanya Hyun Yoo seperti kehilangan separuh jiwanya . Tapi, sebelum Hyun Yoo ke rumah Donghae, Hyun Yoo akan menemui sahabatnya dulu ----- Kim Jong Woon , karena memang ia tak tau persis kediaman Lee Donghae berada. Kim Jong Woonlah yang  tau , karena dia teman akrab kampusnya. Kediaman Jong Woon cukup dekat dengan apartement Hyun Yoo. Jadi, mungkin dia akan berjalan kaki saja untuk menemui sahabat baiknya itu.


Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian yang nyaman baginya. Memakai pakaian yang simple , dan tetap menampilkan pesona seorang yeoja berambut pendek , bernama Hyun Yoo itu. Apalagi ,walaupun Hyun Yoo tak memakai make-up sekalipun. Dia masih terlihat cantik natural. Beruntung sekali memang seorang Lee Donghae mendapatkan yeoja sepertinya.  Selesai dengan urusan itu, sebelah tangannya kemudian mengambil tas kecil favoritnya , menentengnya, seraya melenggangkan kaki keluar apartementnya. 


                        *******************

Kim Jong Woon Apartement. .
Terlihat seorang namja tampan, dengan rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan. Rambut yang sedikit acak-acakan itu tak membuat ketampanan seorang Kim Jong Woon luntur seketika. Saat ini, ia sedang berdiri memandang pemandangan luar dari balik balkon apartementnya. Memandang hilir mudik kendaraan di kota Seoul yang sibuk dengan aktivitasnya. Tampak di tangan kanannya tergenggam sebuah ponsel. Entah apa yang akan dilakukan dengan ponsel itu. Tak lama kemudian, tangan kanannya itu mulai terangkat. Ia hendak memencet sebuah nama yang tertera disana. "Hyun Yoo Nae sarang", itulah nama yang saat ini tertera di ponsel Jong Woon. Sepertinya Jong Woon ingin menghubungi Hyun Yoo. Ya, dia memang berniat menelpon Hyun Yoo. Ada yang harus dibicarakannya. Tapi, saat ingin menekan tombol call, ada sedikit keraguan dalam dirinya. Haruskah ia melakukannya? Ia hembuskan nafasnya pelan. Dan meletakkan kembali ponsel yang sebelumnya terangkat, dan sekarang menggantung di genggaman tangan kanannya. Diurungkannya niat untuk menghubungi Hyun Yoo.

Hyun Yoo-ah ,

Jika aku memberitahumu ,apakah kau akan percaya padaku?
Memberitahu bahwa namja yang kau cintai ---- Lee Donghae sudah pergi,
Tapi, bisakah setelah itu kau melupakannya dan melihatku?
Melihat ketulusan cintaku? 
Jika itupun kau tak bisa , 
aku akan menunggumu. . Song Hyun Yoo-ah~

Tteett... tteet...  


Suara bel apartement Jong Woon berbunyi. Menandakan akan ada seorang tamu yang akan bertamu di rumahnya. Hal itu seketika membuat si pemilik apartement sedikit tersentak akibat suara bel itu. Membuyarkan lamunan dan renungannya tadi. Segera ia melangkahkan kakinya ke arah pintu apartementnya. Menggapai knop pintu tersebut dan membukanya. 


CKLEK~


"Hyun Yoo-ah~" , Jong Woon sedikit tersentak, bagaimana tidak? orang yang sedari tadi ia pikirkan, datang ke rumahnya. Apa dia ingin menanyakan tentang Lee Donghae?Entahlah~ tapi, mungkin iya. Terlihat dari raut khawatir yang Hyun Yoo pancarkan dari wajah cantiknya itu. Lingkaran hitam di mata Hyun Yoo ,juga menggambarkan kalau semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan Lee Donghae. 


"Waeyo? Wae kau kaget seperti itu ? seperti aku ini hantu saja." , Hyun Yoo mengerutkan dahinya heran akan sikap sahabat yang ada didepannya ini dan masih menampakkan wajah polos lemahnya.


"A..A..Anniyo . . Masuk dan duduklah ,akan kubuatkan kau minuman dulu.", sambut Jong Woon mengalihkan keterkagetannya tadi. Hyun Yoo menyeret badanya ke sofa apartement Jong Woon. Mendudukkan badannya, melepas semua beban yang ada. Sesekali Hyun Yoo menunduk dan mengalihkan pandangannya ke arah kaca  bening apartement Jong Woon yang langsung  mengarah pada pemandangan kota Seoul. Lalu, menghembuskan nafasnya berat. Hatinya saat ini masih terasa tak enak. Itu karena Lee Donghae tak memberikan kabar padanya setelah kejadian di restaurant itu. Dirasa sofa, tempat Hyun Yoo duduki sedikit menurun , lantas membuat Hyun Yoo menoleh ke arah samping. Tepat, saat ini Jong Woon sedang duduk di sampingnya dengan membawa sebuah gelas. 


"Ige . .  " Hyun Yoo menerima gelas yang berisi minuman yang Jong Woon sodorkan padanya . Hyun Yoo tak langsung meminumnya. Ia genggam gelas itu dipangkuannya dengan kedua tangannya. " Eoh? Gomawo " , ucap Hyun Yoo kemudian dan mengembangkan senyum tipisnya. Jong Woon membalasnya dengan senyum simpulnya. Hening seketika. Jong Woon menunduk , menelusuri pikirannya  sendiri.


" Jong Woon-ah ~ " Jong Woon menoleh setelah Hyun Yoo memulai membuka suaranya " Aku kemari untuk meminta kau membantuku ... memberitahuku tempat rumah Lee Donghae berada. . . Kau tahu? aku sekarang ini mencemaskannya. . Dia tak mengabari semenjak aku menunggunya di restaurant untuk kencan kami . . Aku sungguh takut terjadi apa-apa dengannya , sunggguh! Kau kan sahabat di kampusnya . . Apa kau tak mengetahui kabar tentangnya? " . Jong Woon tak bisa menjawab . Jong Woon menatap mata Hyun Yoo lekat. Ia melihat di mata Hyun Yoo , seperti terpatri tentang Lee Donghae dan Lee Donghae. Sekhawatir itukah kau pada Lee Donghae, Hyun Yoo-ah? Apa ia harus memberitahukannya sekarang. Di satu sisi , dia harus memberitahukannya. Tapi, di sisi lain ia tak tega. 

" Emm . . tentang Lee Donghae . . " Jong Woon sedikit menundukkan kepalanya. Merasa tak tega untuk mengatakannya.

"Wae geure? Ada apa dengan Lee Donghae? Apa memang terjadi sesuatu padanya, Jong Woon-ah?" , ucap Hyun Yoo penasaran dengan sederet pertanyaan menghujami Jong Woon. Hyun Yoo memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Jong Woon yang sedikit tertunduk. Tapi, Jong Woon masih berat untuk mengatakannya. " Katakanlah~" , paksa Hyun Yoo menggoyang-goyangkan lengan Jong Woon dan masih memiringkan wajahnya , guna melihat ekspresi wajah Jong Woon di sampingnya saat ini. Jong Woon menghela nafas berat sebelum memberanikan berkata pada yeoja ini.


" Dong .. Donghae . . . Donghae meninggal , Hyun Yoo-ah " , ucap Jong Woon sedikit terbata-bata dan kembali menatap yeoja yang ada di sampingnya ini.Tangan Jong Woon kemudian terangkat memegang kedua bahu Hyun Yoo. Memberikan keyakinan, bahwa ucapannya memang benar. 


DEG! Jantung Hyun Yoo seakan-akan berhenti berdetak. Itu tak mungkin! Kenapa kau mengatakan hal yang tak lucu itu, Jong Woon-ah! , batinnya. Apa benar kekhawatirannya dan ketakenakan hatinya ini, memang benar adanya? bahwa memang terjadi sesuatu pada Lee Donghae? Hyun Yoo menatap wajah Jong Woon lekat, melihat kepastian dari ucapanya lewat mata intensnya. Tapi, tak ada. Sepertinya tak ada kebohongan di balik mata Jong Woon yang menatapnya kini. Ia menggeleng-geleng kepalanya pelan. Tak benar! Itu tak benar! , runtuknya terus menyangkal itu semua. Kemudian ia menghempaskan tangan Jong Woon yang sedari tadi memegang kedua bahunya. Dan memalingkan wajahnya, menghindari tatap mata dengan Jong Woon. Matanya mulai terasa panas. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapan namja ini. Hyun Yoo hembuskan nafasnya kasar dan mulai tertawa miris. Padahal tak ada sesuatu yang lucu saat ini.


" Hahaha.. ya, kau pasti bercanda. Itu tak mungkin Jong Woon-ah. Tak mungkin! " ,ucap Hyun Yoo yang masih menatap ke arah depan dan menggeleng-geleng kepalanya. Menyangkal apa yang dikatakan Jong Woon. Menyangkal pernyataan yang sebetulnya adalah kebenaran. Ia tak bisa menerima ini begitu saja. Namja yang ia cintai telah meninggal? Tidak! Tidak Benar!, runtuk Hyun Yoo dalam hati.


" Itu benar, Hyun Yoo-ah ~ Lee Donghae telah .... " belum ia selesai menjelaskan, Hyun Yoo buru-buru menyela. Ia tak tahan lagi mendengar kata " meninggal " . Kata itu seperti pisau yang siap sedia menusuknya dan mencabik-cabik hatinya. 


" Cukup!! Jong Woon-ah! aku tak percaya padamu! Leluconmu sungguh tak lucu sekarang !! " ,sangkal Hyun Yoo yang masih tak percaya. Ia mulai menatap Jong Woon tajam dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. 


"Tapi...."  


" Geumanhae !! Jong Woon ! Geumanhae !! Aku membencimu!" , Hyun Yoo berdiri dan beranjak ingin pergi. Menyangklet tasnya kembali. Dan mulai melangkahkan kakinya pergi. 


Sementara Jong Woon terdiam terpaku menatap kepergian Hyun Yoo. Tidak Hyun Yoo! Kau jangan membenciku! Akan ku buktikan padamu! , runtuknya dalam hati dan bergegas mengejar Hyun Yoo sebelum menggapai knop pintu apartementnya. Saat Hyun Yoo telah menggapai knop pintu apartement Jong Woon. Sebuah tangan, tiba-tiba menghalangi niatnya untuk membuka knop pintu itu. Ya, saat ini Jong Woon menarik tangan Hyun Yoo, memaksa untuk membalikkan badannya, menghadap namja itu, menatap mata sayu tajam seorang Jong Woon. " Kajima! Geure!! Jika kau tak mempercayaiku. Akan ku antarkan kau menemuinya! Kajja!". Tarikan Jong Woon yang kuat, membuat yeoja itu sedikit meringis kesakitan. Jong Woon menggeret Hyun Yoo keluar apartementnya dengan paksa. Langkah Jong Woon yang lebar , memaksa yeoja itu mengikuti namja itu dengan sedikit berlari. 


" Lepaskan! Sakit Jong Woon-ah! Aku bisa berjalan sendiri. "Hyun Yoo mencoba melepaskan tangan Jong Woon yang sedari tadi memegang tangannya dengan kuat.  Tapi, tenaga Jong Woon lebih kuat darinya. Akhirnya ,iapun menurut saja arah Jong Woon menariknya pergi. 


"Masuklah!" Jong Woon membukakan pintu mobil yang diparkir di basement bawah apartement. Hyun Yoo menuruti saja apa yang dikatakan sahabatnya itu. Jong Woon juga mulai masuk dan duduk disisi mobil. Kemudian iapun mulai melajukan mobilnya. 


Selama perjalanan , Hyun Yoo terus memandang jalanan di samping kaca jendela mobil. Hyun Yoo merasa semua yang dikatakan Jong Woon itu bohong. Itu tidak benar. Kenapa Jong Woon harus berbohong padanya seperti itu? Mengatakan bahwa Donghae meninggal? Apa dia akan percaya? Atau Jong Woon mengatakan itu karena dia menyukainya? Meskipun begitu, Hyun Yoo akan tetap menganggapnya sebagai sahabat , tak lebih. Hyun Yoo hening dengan semua pemikirannya dan perkiraannya itu. Sementara Jong Woon melirik yeoja disampingnya yang sedari tadi diam. Dia penasaran apa yang dipikirannya. Jong Woon kemudian menfokuskan diri dengan jalan yang dihadapannya. Suasana masih hening. 


Sesampainya di tempat tujuan, Hyun Yoo begitu bingung , itu terlihat dari dahi Hyun Yoo yang mulai mengkerut , " Tempat apa ini? Kenapa dia membawaku ke sini? " ,tanyanya dalam hati, bingung apa yang dilakukan sahabatnya ini, membawa ke tempat ini , apa maksudnya? Hyun Yoo yang penasaran, memulai pembicaraan, menanyakan tentang keingintahuannya ini, " Igo, Eodisseo? Ini bukan rumah Lee Donghae, Jong Woon-ah, ini tempat pemakaman!!"


"Huh~ Ini sungguh tak lucu, Jong Woon-ah" dengan sedikit smirk Hyun Yoo dan melirik Jong Woon dari ekor matanya. Cepat antar aku ke rumahnya sekarang! " Jong Woon diam. "Apa kau mendengarku? " , ucap Hyun Yoo lagi. Jong Woon hanya diam , sejurus kemudian dia keluar dari mobil dan beranjak membuka pintu samping mobil tempat Hyun Yoo duduk. " Ikut aku ! " , perintah Jong Woon pada Hyun Yoo menggeret tangannya keluar mobil. " Aish ! " , Hyun Yoo sedikit meringis dan menuruti saja kemauannya , toh, kekuatan Jong Woon menarik tangannya saat ini lebih kuat dari usahanya untuk melepaskan. Hyun Yoo terus mengikuti arah Jong Woon berjalan, melihat punggung Jong Woon dari belakang yang masih memegang tangannya. Dan sedikit mengalihkan pandangannya ke arah sekelilingnya yang penuh dengan nisan yang berjejer rapi. Hyun Yoo menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Membuyarkan kemungkinan yang akan terjadi. Tiba-tiba, Jong Woon berhenti. Membuat Hyun Yoo reflek berhenti. 


" Jong Woon-ah, kenapa. . ." , belum selesai ia merangkai kata-katanya, mata Hyun Yoo seketika terbelalak tak percaya. Kedua tangan Hyun Yoo terangkat menutup mulutnya. Sungguh ! Apa benar yang ada dihadapannya ini? Nisan bertuliskan Lee Donghae? "Tidak ! Kau jangan meninggalkanku Lee Donghae" , ucapnya menggeleng-geleng kepala pelan  yang masih setia menutup mulutnya. Sejurus kemudian kristal bening mengalir begitu saja dari pelupuk mata yeoja itu. Tes..tes .. Lama-lama begitu deras. Ia tak bisa menahan semua sakit yang ia rasakan pada dadanya, semakin sesak menerima kenyataan ini. Tangan yang satunya kemudian bergerak memegang dadanya. Sakit! ya,  yang ia rasakan adalah sakit. Kaki Hyun Yoo terasa lemas sekarang, iapun tersungkur di samping nisan Lee Donghae. Jong Woon hanya diam, menatap sayu Hyun Yoo, membiarkan yeoja itu meluapkan semua sakit kehilangan namja yang dicintainya. Meskipun hatinya juga ikut sakit, melihat sahabat yang ia cintai begitu terluka dan terpukul.


" Oppa ... Kenapa kau meninggalkaku begitu saja. Kau sudah berjanji akan terus menemaniku, menjagaku, dan mencintaiku. Kenapa sekarang kau mengingkarinya oppa?  ", isaknya tangis Hyun Yoo begitu kencang. Ia meremas rumput tempat Lee Donghae bersemayam dan memukul-mukul lemah dengan tangis yang tak henti-hentinya ia keluarkan. " Oppa~" ,teriaknya serak, efek tangisnya. Jong Woon tak tahan lagi , melihat yeoja ini semakin terpukul. Dia pun berjongkok, merangkul pundak Hyun Yoo dari samping . Menyenderkan kepala yeoja itu ke dada bidangnya itu untuk bersandar. Mengelus pundak yeoja itu , memberi  ketenangan. Pundak yeoja itu naik turun akibat isak tangisnya itu. Dirasa, saat ini , baju yang Jong Woon kenakan mulai basah, mungkin karena efek tangis Hyun Yoo yang saat ini ada di dekapannya. " Uljima~ " , lirih Jong Woon kemudian.


Hyun Yoo-ah, Ini adalah tangismu yang terakhir . . 

Tak akan ada tangis-tangis yang lain . .
Akan kubuat senyum ceria itu terukir lagi di wajahmu . .
Hyun Yoo-ah, Uljima, ada aku disini . . 
Akan kubuat kau bahagia di sisiku . .

TempeBacemCabe


Akhirnya selesai juga Chapter- 2 nya . . fiyuuhh~~ Mian lama, karena gak ada inspirasi lanjutannya gimana. . maklumlah baru pemula buat ni FF . . Kritik dan saran ,ne? Hargai author . . Tulis di komen bawah ini . . ^0^ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar