Aku mulai melangkahkan kakiku ke tempat itu, menuju tempat tinggal kami. Sebuah apartemen yang dulu kami tinggali bersama sebelum aku dan dia berpisah, terlepas dari satu ikatan.
Jika harus mengakui perasaanku sebenarnya, jujur aku menyesal melepaskannya. Aku menyesal telah berpisah dengannya. Aku telah mengabaikannya selama ini, tidak memperhatikannya, dan mengaku tidak mencintainya. Tapi sekarang, aku benar-benar merasa kehilangannya. Aku sungguh merindukannya, dan aku menyadari jika aku mencintainya sekarang.
Di sini—di apartemen ini—aku berada sekarang. Tempat tinggal yang sempat aku jual beberapa hari setelah aku memintanya untuk menandatangani surat perpisahan kami dan dalam hitungan minggu, aku membelinya kembali.
Aku memasuki sebuah ruangan, kamar kami. Kamar yang minimalis dengan perpaduan warna putih dan coklat muda. Di sudut kanan sana, dekat jendela, terdapat sebuah meja—tempat favoritnya—yang kini tidak ada satu pun barang di atasnya.
Di meja ini, dia selalu menghabiskan waktunya untuk menulis dan mengerjakan tugas kuliahnya. Meskipun aku tidak terlalu memperhatikannya waktu itu, tapi aku sedikit mengetahui apa yang selalu dia lakukan di sini.
Aku memperhatikan ruangan ini, terutama tempat favoritnya ini. Ada satu hal yang menarik perhatianku. Ada ujung kertas yang terselip di sudut laci meja. Aku mulai membuka laci yang ada di bawah meja tersebut, dan aku menemukan selembar kertas. Selembar kertas berwarna biru, warna favoritnya. Tulisannyakah?
Aku menarik sebuah kursi yang ada di dekatku, mendudukinya, dan kemudian membaca tulisan yang ada di kertas yang kupegang sekarang.
Oppa… terima kasih atas semuanya.Terima kasih telah bersedia mendampingiku dalam beberapa bulan ini, meskipun kau tidak menginginkannya.Maaf jika aku terlalu lancang meletakkan namamu di hatiku—di lubuk hatiku—tanpa seizinmu.Maaf jika selama ini aku selalu menganggumu. Mengganggu kehidupanmu bersama hyeongdeul-mu, mengganggu karirmu, mengganggu kehidupan pribadimu.Terima kasih telah mengajarkanku tentang cinta. Karenamu, sekarang aku lebih memahami arti cinta yang sesungguhnya.Terima kasih telah mengizinkanku tinggal di tempat yang nyaman selama beberapa bulan ini.Terima kasih telah merawatku saat aku sakit, meskipun kau merasa terganggu.Maaf jika kehadiranku membuatmu repot.Maaf jika kehadiranku menganggumu selama ini.Maaf telah membuatmu kewalahan saat merawatku ketika aku sakit dan telah mengacaukan kegiatanmu saat itu.Mulai saat ini, aku tidak akan menganggumu lagi, tidak akan membuatmu repot, dan tidak akan membuatmu kewalahan lagi.Sekali lagi, aku mengucapkan banyak terima kasih atas semuanya.Jeongmal kamsahamnida.Aku akan selalu mencintaimu.Saranghaeyo yeongwonhi,Lee Tae Min oppa ^^
Pipiku terasa basah sekarang. Tanpa kusadari, aku telah meneteskan air mata. Sekejam itukah sikapku selama ini padanya? Telah mengabaikannya selama ini. Aku sangat menyesal sekarang.
Eomma… bisakah aku menarik ucapanku saat itu. Saat kau memintaku agar aku tidak menyesali apa yang akan kulakukan—berpisah dengannya—dan saat itu aku menjawab jika aku tidak akan pernah menyesal. Bolehkah aku menarik kembali ucapanku itu, eomma? Aku sungguh menyesal sekarang. Sangat sangat menyesal telah melepaskannya.
Jeongmal kamsahamnida, hanya itu kalimat terakhir yang kau ucapkan sambil membungkukkan badanmu 90º di hadapanku dan kemudian pergi. Han Ha Jin-ah, di mana dirimu sekarang?
Words count: 482 words
by
Source : http://shining8909193.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar