PART 3
*********************
Sejak kejadian itu, Hyun Yoo tak mau makan ataupun tak mau berangkat kuliah. Dia ingin sendiri. Hanya ingin ditemani dengan angin sepoi yang menerpa rambut pendeknya saat ini. Udara di Seoul sangat cerah, tapi, tak secerah hatinya. Lihatlah! Saat ini dia sedang duduk di kursi ayunan, termenung di sebuah taman dekat apartementnya. Memandang kosong ke depan dengan mata sayu dan lingkaran hitam yang terlukis disana. Kelihatan sangat lelah memang. Lelah bukan karena tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk , tapi, lelah dengan takdir yang menurutnya kejam menyiksanya. Namja yang 1 tahun menjalin cinta dengannya harus pergi selamanya. Itulah yang ia pikirkan selama ini. Kenapa Tuhan mengambilnya dengan cepat?
Hyun Yoo menunduk, matanya mulai berair. Seakan bendungan air matanya ini akan jebol seketika. Kala kejadian masa lalunya bersama Lee Donghae tergambar di benaknya.
FLASBACK ON#
Tepatnya ,saat pertama kali bertemu Lee Donghae. Dia bertemu Lee Donghae di sebuah Perpustakaan. Suatu hari di perpustakaan , Hyun Yoo ingin mencari buku Kesenian untuk tugas esainya. Sayangnya, buku itu terlampau tinggi tempatnya untuk ia gapai. Hyun Yoo yang berpawakan sedikit pendek, mencoba berjinjit-jinjit menggapai buku itu. Sesekali dia mendengus kesal dan mencoba kembali meraih buku itu. Hingga sebuah tangan kekar mengambil buku yang yeoja itu ingin ambil.
"Igo . . . " , kata namja yang tepat di belakang Hyun Yoo, tapi, Hyun Yoo tak tahu namanya.
Hyun Yoo terdiam sejenak dengan tangan yang masih terangkat. Dan kemudian menoleh, " Eoh, Gamsahamnida. . " , Hyun Yoo langsung menganggukkan kepalanya sopan berterima kasih. " Chonmaneyo " , balas namja itu dengan senyumannya. Sebuah senyuman yang pasti akan membuat para yeoja yang melihatnya akan diam membeku.
Saat Hyun Yoo mendongak, tatapan mereka seketika bertemu. Namja itu masih mengeluarkan senyum pemikatnya. Tatapan tajam namja itu seakan menghipnotis yeoja yang ada dihadapannya. Diam tak bergerak. Sepertinya waktu berhenti berputar, seakan ada bunga sakura yang turun bertebaran disekeliling mereka. Membuat jantung Hyun Yoo berdetak dengan kencang tak seperti biasanya. Tak pernah ia rasakan perasaan ini sebelumnya. Kenapa perasaannya seperti ini? Padahal ia sama sekali tak mengenal namja ini. "Apa ini Love In First Sight? ", batinya. Hyun Yoo masih terpaku. Tiba-tiba sebuah tangan bergerak - gerak di depan matanya. Membuat kesadarannya kembali. Hyun Yoo sedikit tersentak. " Eoh! "
" Gwenchanayo ? " , tanya namja itu.
" e . . emm. . Gwenchana. " , jawab Hyun Yoo dengan rona merah yang muncul di pipi mulusnya. Membuat Hyun Yoo menunduk malu.
" Agasshi, jurusan sastra? ", Hyun Yoo serentak mendongak, kembali menatap namja itu.
" N..Ne ", Jawab Hyun Yoo sedikit tergagap. Tak dipungkiri keguugupan yang ia rasakan. Menatap namja tampan dihadapannya. Dengan senyum mautnya. Arghh~ dia bisa gila.
" Wahh, kebetulan aku juga jurusan sastra , perkenalkan namaku Lee Donghae. Bagapseumnida" , ucap namja itu memperkenalkan diri.
" Nde, N..Nado " jawab Hyun Yoo yang masih tergagap. Efek jantungnya yang memompa cukup cepat mungkin?
Semenjak itu, mereka sering bertemu. Bukan karena se-fakultas yang sama, tapi, memang Lee Donghae selama kuliah disana , sepertinya . . sudah mengincar yeoja bernama Hyun Yoo ini sebelumnya. Sampai akhirnya, mereka mulai bersahabat. Hyun Yoo mulai memperkenalkan Lee Donghae pada Kim Jong Woon -- sahabat kecilnya. Mereka bertiga tak segan-segan bertukar pikiran bersama-sama dan saling bercanda ria. Sungguh akrab persahabatan mereka bertiga. Terkadang sikap Lee Donghae yang perhatian ,membuat Hyun Yoo senang. Tapi, beda halnya dengan Jong Woon yang mulai mencintai sahabatnya ini. Hatinya seperti tercabik-cabik tat kala melihat perhatian Lee Donghae pada Hyun Yoo yang terlihat seperti bukan sekedar sahabat. Hingga pada akhirnya, Lee Donghae menembak Hyun Yoo dengan romantis di sebuah restaurant. Yang sampai sekarang menjadi tempat favorit mereka. Kemesraan demi kemesraan ia tampilkan , sekalipun itu di depan Jong Woon, yang tak Hyun Yoo ketahui bahwa namja itu juga mencintainya, tapi , takut untuk mengungkapkan. Jong Woon hanya bisa menerima dan menampilkan senyum palsu kepada kedua sahabatnya itu, memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja, tapi, sebenarnya tidak. Dalam hati, Ia meruntuki kebodohannya, tak mengungkapkan cintanya dari awal. Yang bisa Jong Woon lakukan hanya memendam rasa pada Hyun Yoo, walau itu akan membuatnya sakit.
FLASBACK OFF#
Hyun Yoo tak henti-hentinya meneteskan air mata. Tat kala memori kejadian dan kebersamaan masa lalu bersama Lee Donghae itu terputar kembali. Isakan demi isakan ia keluarkan. Hatinya sakit memikirkan bahwa takdir telah merenggut nyawa kekasihnya. Ia masih belum terima.
"Chagiya~ Chagiya~"
Hyun Yoo tersentak dari isakannya. Seperti ... suara Lee Donghae? Suara namja yang Hyun Yoo rindukan. Hyun Yoo membelalakkan mata sayunya bingung. Hyun Yoo masih bertanya-tanya, apa pendengarannya salah?Apa dia memang sudah gila? Hyun Yoo masih bertanya-tanya. Entahlah~ suara itu terdengar jelas di telinganya.
"Chagiya~ Chagiya~" , ulang suara itu. Ya Tuhan, itu suara Donghae. Batinnya senang. Tapi , dimana dia? " Cha..chagiya~ Oppa-ah~" teriak Hyun Yoo dengan suara seraknya. Dia mendongak, menoleh ke kiri dan ke kanan.
" Oppa-ah~ eoddiga ? ", Hyun Yoo masih mencari-cari sumber suara. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. Menyeret kakinya pelan seraya menoleh ke kiri dan ke kanan. Tapi, tak ada sosok yang ia cari. Tiba-tiba, kepalanya mulai berdenyut, matanya mulai buram menatap pandangan di depan, Tidak! Ia harus bertahan , ia tak boleh pingsan. Ia sangat rindu pada Donghae. Dia harus melihatnya. Tekad bulat itu terus bergemuruh dalam hati. Tapi, semuanya sia-sia , tanah yang ia pijak mulai berputar-putar. Hyun Yoo tak bisa menahan kakinya berpijak sekarang. Iapun linglung ke samping. Untungnya, ada seseorang yang menopang tubuhnya. Hyun Yoo melihat bayangan Lee Donghae samar."Donghae-ah~", lirihnya, sebelum tatapannya semakin buram. Iapun menutup matanya dan mulai tak sadarkan diri.
********************
Seorang namja sedang berjalan sedikit tergesa-gesa ke arah apartementnya. Namja itu Jong Woon. Saat ini , Jong Woon menggendong seorang yeoja yang tak sadarkan diri ala bridal style. Jong Woon menatap sayu wajah lelah yang terlukis jelas di raut yeoja yang ia gendong kini.
Sesampainya, di depan pintu apartement, tangan Jong Woon yang masih setia menggendong Hyun Yoo, berusaha menekan password pintu apartement.
PIPE! Ttilili..lilit...
Pintu apartement terbuka , Dia segera mengarahkan kakinya ke kamar tidur. Membaringkan yeoja itu di tempat tidurnya. Setelah itu, Jong Woon menggeret kursi kecil, dan kemudian duduk di samping tempat tidur Hyun Yoo. Memandang yeoja itu sayu . Yeoja yang saat ini tidur terpejam di hadapannya. Terlihat damai menurutnya. Tapi, rasanya sakit ketika melihat wajah lelah yeoja ini. Lelah terhadap beban hidup yang ia alami. Terlihat yeoja itu mulai mengerutkan dahinya, sedikit mengigau. Keringat juga mulai tampak di dahi dan pelipisnya. Tangan Jong Woon kemudian terangkat, menempelkan telapak tangannya pada yeoja itu.
" Astaga . . demam!! " batinnya panik, setelah menempelkan tangannya ke dahi Hyun Yoo.
Jong Woon segera berlari ke arah dapur, mengambil baskom dan mengisinya dengan air yang cukup serta tak lupa sapu tangan untuk mengompres dahi Hyun Yoo. Jong Woon menghampiri Hyun Yoo yang terlihat tak nyaman dengan tidurnya itu, mungkin efek panas yang dia rasakan. Diapun meletakkan baskom yang berisi air di bawah kursi tempat ia duduk. Tangannya dengan telaten memeras sapu tangan yang sudah dicelupkan di baskom berisi air itu. Kemudian, melipat sapu tangan kecil tersebut menjadi 2 dan meletakkannya di dahi Hyun Yoo. Jong Woon kembali duduk di samping tempat tidur Hyun Yoo. Kembali memandang wajah yeoja itu dari ujung kepala , dahi yang terpampang indah, hidung mancung Hyun Yoo . Hingga . . ketika matanya tertuju pada bibir pink Hyun Yoo. GLEK! Jong Woon menelan ludahnya susah payah. Jantung Jong Woon terasa berdegup kencang. Ingin sekali ia mencium lembut bibir manis itu. Dengan sedikit ragu, Jong Woon mencoba mendekat, mempersempit jarak diantara mereka. Hingga Jong Woon bisa merasakan deru nafas Hyun Yoo yang saat ini tertidur damai. CHU~
1 detik, 2 detik, 3 detik , 4 detik , 5 detik . . .
Hanya 5 detik Jong Woon menempelkan bibirnya pada bibir Hyun Yoo. Ya, hanya menempelkan. Dia memang tak berniat untuk lebih memperdalam. Ia takut akan mengganggu istirahat Hyun Yoo dan membangunkannya. Apalagi, ia masih belum berani menyatakan perasaannya secara langsung.
" Saranghae . . " bisiknya setelah selesai melepaskan tautan bibirnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Sebelah tangan Jong Woon memegang dadanya yang masih berdetak kencang.
Semalaman Jong Woon terus mengganti kompres dan meletakkan kembali ke dahi Hyun Yoo. Hingga malam semakin larut , Jong Woon merasakan matanya mulai berat. Dan iapun tertidur di sisi Hyun Yoo, dengan posisi ,memiringkan kepalanya bersandar pada satu tangannya yang dilipat, yang ia gunakan sebagai penopang untuk tidur. Sedangkan tangan satunya menggenggam tangan Hyun Yoo lembut.
Hari berlalu , Malam yang sunyi berganti pagi yang cerah, disertai kicauan burung-burung gereja yang mewarnai pagi itu. Gumpalan awan yang terlukis indah di langit biru. Menambah keindahan kota Seoul. Sinar mataharipun mulai menjelajah diantara sela-sela gorden apartement Jong Woon. Mengusik namja yang sedari tadi tidur dengan posisi tak nyaman. Membuat sang namja terbangun dari mimpinya.
" Sudah pagi? " , Bangunnya sambil mengerutkan kening dan mulai mengucek-ucek matanya. "Akhh~ punggungku pegal sekali " ,eluhnya, mungkin efek tidur yang tak nyaman itu. Ia pun mulai menggerakkan persendian bahunya, sedangkan tangan satunya memegang bahu yang ia gerakkan. Sejenak Jong Woon menghentikan aktivitasnya memandang wajah damai Hyun Yoo. Terlihat ia begitu lemah, hingga sinar mataharipun tak membuatnya terasa terganggu. Jong Woon mengecup singkat dahi Hyun Yoo dengan lembut.
Lalu, memegang dahi Hyun Yoo, memastikan bahwa demamnya sudah mulai reda. Setelah itu, melepaskan sapu tangan yang sedari tadi menempel di dahi Hyun Yoo. Sejurus kemudian Jong Woon beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kaki, membuka gorden putih kamarnya. Mata simpit Jong Woon menyipit , sedikit silau, tat kala pantulan sinar matahari menerpa wajahnya. Setelah selesai dengan urusan itu, Jong Woon bergegas ke dapur, membuatkan sup untuk Hyun Yoo.
Mata Hyun Yoo kembali terbuka dengan pelan. Agak samar melihat pandangan di depannya. Ia kerjapkan matanya perlahan. Hingga akhirnya matanya mulai terbuka sempurna. Ia menatap langit-langit kamar itu sejenak. " Tunggu ! Ini sepertinya bukan apartementku" ,batinnya bingung.
Dia kemudian mencoba menyandarkan badanya di tempat tidur itu. " Argghh~ ini di mana? kenapa aku bisa sampai di sini?." , erangnya dengan memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Kejadian saat di taman kemudian terlintas di kepalanya.
" Donghae-ah~", lirihnya setelah mengingat kejadian di taman lalu, kejadian di taman lalu terputar kembali, ketika ia tiba-tiba mendengar suara Donghae menyerukannya. Setelah itu, ia tak sadarkan diri dan melihat samar wajah Donghae. Dan setelah itu, ia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Seperti. . . Donghaelah yang menolongnya pingsan. Tapi, Entahlah. . Mungkin itu hanya halusinasinya saja. Tak mungkin , seseorang yang sudah mati akan hidup kembali. Lalu, siapa yang menolongnya, hingga sampai ke tempat ini? Itulah yang masih dipertanyakan oleh Hyun Yoo. Tiba-tiba, Ia mencium bau masakan di luar kamar.
" Siapa yang memasak pagi-pagi begini? ", herannya dalam hati. Karena penasaran, Hyun Yoopun menggerakkan badanya ke pinggir tempat tidur tersebut. Duduk sejenak menetralkan pusing akibat efek seharian ia tertidur pingsan. Ia melangkahkan kakinya pelan keluar kamar. Ia melihat seorang namja dengan hem putih polosnya dan celemek hijau terpasang disana. Namja yang tak tahu itu siapa. Karena namja itu masih membelakangi Hyun Yoo yang sedari tadi hanya diam di depan kamar. Tak lama, Hyun Yoo memberanikan diri untuk menyeret kakinya pelan ke arah namja itu. Namja itu terlihat masih sibuk membereskan masakannya . Hingga akhirnya, namja itu membalikkan badannya dengan menbawa mangkok berisi bubur yang siap ia hidangkan menuju meja makan. Hyun Yoo berhenti melangkah dan mulai membelalakkan matanya yang sayu itu, " Jong Woon-ah . ." , lirihnya.
" Oh?. . kau sudah bangun? Duduklah! Aku sudah membuatkanmu bubur ." Jong Woon menggeret kursi dan menarik tangan Hyun Yoo lembut, mendudukkan yeoja itu disana. Hyun Yoo terlihat masih mencoba mencerna kata-kata Jong Woon. Perhatian yang Jong Woon berikan membuatnya tak habis pikir. Dia rela memasakkan makanan untuknya pagi-pagi sekali. Sepertinya dia juga kurang tidur karena menemaninya semalaman saat dia pingsan. " Kenapa kau lakukan ini? " , tanya Hyun Yoo dalam hati. Dia terus mengikuti arah pergerakan Jong Woon melakukan aktivitasnya. Setelah selesai, Jong Woon kembali ke meja makan, duduk di hadapan Hyun Yoo. Seketika Hyun Yoo menunduk, mengalihkan pandangannya yang sedari tadi terus mengikuti pergerakan namja itu.
" Kenapa belum dimakan ? Cepatlah makan . . Kau harus banyak makan, supaya kau cepat sembuh.", kata Jong Woon disertai dengan senyum manisnya.
"Nde ..", angguknya pelan dan mulai meraih sendok makan yang ada di atas meja, menyuapkan sup ke mulutnya. Sedangkan Jong Woon menatap yeoja di hadapannya intens dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Ia mengikuti pergerakan tangan Hyun Yoo yang memakan bubur itu hati-hati. Ingin sekali ia melihat ekspresi Hyun Yoo mengenai masakannya. Tapi, yeoja itu sepertinya menikmati masakan Jong Woon. Lihatlah~ dia terlihat lahap , walau dengan sikap hati-hati , dia menyuapkan sendok itu ke mulutnya. Namun, itu sudah membuat Jong Woon senang.
" Otthe? Massitta? " , tanya Jong Woon penasaran, karena Hyun Yoo sedari tadi tak memberikan ekspresi tak enak atau enak tentang masakan Jong Woon. Hyun Yoo mendongak , menatap namja yang duduk di depannya. Hyun Yoo hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi , mengiyakan, masakan Jong Woon yang memang enak. Jong Woon tersenyum puas melihat Hyun Yoo memakan masakan buatanya. Tidak sia-sia , ia memasakkan bubur itu.
Hening. Jong Woon terus memperhatikan yeoja dihadapannya. Sedangkan Hyun Yoo, menikmati masakan yang Jong Woon hidangkan untuknya. Hyun Yoo merasa sedari tadi Jong Woon memperhatikannya. Dan itu membuatnya sedikit salah tingkah. Membuat orang yang sedari memakan masakannya itu terlihat canggung. Iapun tak tahan lagi dengan rasa canggung yang ia buat sendiri. Hyun Yoo mulai angkat bicara ,
" K..kau tak makan? " , tanyanya pada namja itu.
" Sudah. ." , angguk Jong Woon dengan tetap menampakkan senyumnya. Hyun Yoo menunduk ,menghindari senyum Jong Woon, dan mengalihkan pandangannya kembali ke mangkok berisi bubur itu.
" Karena aku sudah kenyang hanya dengan melihat wajah cantikmu yang melahap bubur buatanku" , ucap Jong Woon lirih tanpa sadar, tapi, masih terdengar oleh yeoja yang ada didepannya.
" Mwo? " , Hyun Yoo tersentak tak mengerti , mendongak dan menatap namja itu seraya mengerutkan alisnya. Apa yang Jong Woon katakan barusan?
Jong Woon membelalakkan mata sipitnya itu tak percaya. " Tunggu! kenapa aku mengatakan itu padanya? Apa aku sudah gila? Arggh~ " , runtuknya dalam hati." Ne? Ahh. . A. . Ani . . Aniyo . Ehmm . . aku . .aku mau ke kamar mandi dlu. " , ucap Jong Woon salah tingkah sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Hyun Yoo masih menatap kepergian Jong Woon tak percaya. Dia memiringkan kepalanya sejenak mencoba berpikir, kata-kata itu terus terulang di benak Hyun Yoo. Sepertinya , Hyun Yoo pernah mendengar kata-kata itu. Bayangan di masa lalu bersama Lee Donghae di Restaurant terakhir ia bertemu, tergambar di benaknya. Ya, benar, itu kata-kata yang hampir sama diucapkan oleh Lee Donghae dulu . " ahh. . . Ini hanya kebetulan, ya, kebetulan saja", yakinnya pada dirinya sendiri. Diapun menghentikan aktivitasnya. Kata-kata itu membuatnya tak berselera makan lagi. Hyun Yoopun bergegas ke dapur mencuci mangkok bubur itu. Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali ke apartementnya. Karena ia tak ingin Jong Woon khawatir, Ia pun menuliskan note yang ia taruh di atas meja makan.
*********************
Jong Woon keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya di dalam sana. Ia menggosok-gosokkan rambut yang basah itu dengan handuk sambil berjalan ke arah dapur. Sesampainya di dapur , tepat di ruang makan, Jong Woon terkejut karena yeoja itu sudah tak ada. Rasa khawatir merambat di relung hatinya. " Kemana dia ?." , " Hyun Yoo-ah ! Hyun Yoo-ah! " , panggilnya beranjak ke kamar, tapi, di kamar juga tak ada. Dia kembali lagi ke meja makan. Di temukannya note kecil tergeletak di sana.
Jong Woon-ah terima kasih atas semuanya.
Saat kau membaca note ini, aku sudah kembali ke apartement.
Jadi, Jangan khawatirkan aku, Aku ingin sendiri sekarang.
Hyun Yoo
" Huuft . . " Jong Woon menghela nafas pelan. Jong Woon menerawang ke depan. Harusnya Hyun Yoo tak menghadapi semuanya dengan sendiri. Itu malah akan membuat beban bagi dirinya. Dia masih punya sesorang untuk bersandar yaitu Jong Woon. Sebagai seorang sahabat, bukankah harus berbagi suka dan duka bersama?
Suatu saat nanti, aku akan ungkapkan perasaanku . .
Tak peduli , kau menerimaku atau tidak. .
Aku tak ingin memendam terus perasaan ini . .
Aku hanya ingin kau tahu , bahwa aku mencintaimu. .
Saranghaeyo Hyun Yoo-ah~ (Jong Woon)
SKIPP>>
********************
6 bulan kemudian . . .
Malam berganti siang, hari berganti hari , minggu berganti minggu ,hingga bulan berganti bulan Hyun Yoo sudah mulai mencoba melupakan kepergian kekasihnya. Walau perlu waktu lama untuk melupakan semua kenangan-kenangan masa lalunya. Jong Woon -- sahabat masa kecilnya selalu menemaninya dan menghiburnya. Seakan menyuruhnya Jangan melihat ke belakang , tetaplah lurus memandang ke depan . Tapi, sekeras apapun mecoba melupakan kenangan itu, sebuah kenangan tidak akan terhapus begitu saja. Itu yang dialami Hyun Yoo. Dia akan teringat kembali masa-masa lalunya jika ada seseorang yang mengingatkannya pada Lee Donghae. Dan itu membuat Hyun Yoo merasa sedih. Namun, Hyun Yoo tetap membiarkan kenangan itu hanya sebagai kenangan. Ya . . . hanya kenangan , Kenangan yang indah.
Sikap Jong Woon yang selalu menghiburnya, membuat Hyun Yoo tertawa kembali dan memberikan perhatian padanya, membuat Hyun Yoo merasa sangat nyaman. Lebih dari Lee Donghae berikan dulu. Apalagi, sekarang Hyun Yoo merasa sangat aneh jika Jong Woon tak ada di sisinya. Seperti ada sesuatu yang hilang. Entahlah~ ia tak mengetahui perasaannya itu dengan jelas.
Jong Woon Family's House
Semua keluarga Jong Woon berkumpul meja makan. Sepertinya ada suatu hal penting yang harus dibicarakan.
" Suamiku, apa kau yakin Jong Woon akan menerima perjodohan ini? Dia kan sudah besar , dia sudah punya selera tersendiri. Atau mungkin . . dia juga sudah punya kekasih. " , terlihat eomma Jong Woon tak yakin dengan perjodohan yang suaminya lakukan.
" Mau apa lagi, aku harus melaksanakan perjodohan ini. Ini akan membantu bisnis kita , istriku. Kau tahu, bisnis kita semakin lama mengalami penurunan. Jika Jong Woon menerima perjodohan ini dengan anak rekan bisnisku, itu akan sangat membantu untuk meningkatkan investasi kita. " , papar Appa Jong Woon.
" Tapi suamiku . . " , sanggah eomma Jong Woon tak sampai melanjutkan perkataannya, suaminya menyela.
" Tenanglah, hal ini bisa aku atasi." Jawab Appa Jong Woon tenang sambil menyesap kopi, seakan tahu apa yang dikatakan istrinya selanjutnya.
Terlihat Jong Woon memasuki rumah, setelah dibukakan oleh pembantu. Ia langsung melenggangkan kaki ke dalam dan menuju ruang makan. Ini aneh sekali menurutnya. Ia tak mengerti kenapa ia mendadak harus disuruh pulang ke rumah dan diajak makan malam seperti ini. Dan ditambah lagi, Appanya yang sungguh sibuk dengan bisnisnya terlihat menyempatkan waktu untuk acara keluarga seperti ini. Jong Woon mengerutkan keningnya sejenak. Ia berharap akan menerima kabar baik. Iapun berjalan ke arah kursi samping eommanya. Menunduk memberi salam sejenak. Dan mulai duduk. Sedangkan dongsaengnya -- Kim Ahra , yang masih SMA, duduk di samping Appanya.
" Ada apa appa dan eomma memanggilku untuk makan malam, ini sungguh aneh? " , tanyanya heran sambil menoleh bergantian ke arah eomma dan appa-nya , ketika menyebut kata -- Appa dan Eomma .
" Jong Woon-ah, begini . . . langsung saja Appa jelaskan , aku menerima perjodohanmu dengan rekan bisnisku. " jelas Appa Jong Woon.
"Ne ? " , tanya Jong Woon tak mengerti apa yang dikatakan Appanya . Jong Woon masih terbelalak tak percaya. Apa ?! perjodohan? Apa maksudnya dengan perjodohan? Apa aku mau dijodohkan? aish, yang benar saja, batinnya dalam hati.
" Mak . . maksud Appa? " , lanjut Jong Woon tak percaya.
" Maksud `Appa . . .kau akan kujodohkan dengan anak perempuan rekan bisnisku, dan minggu depan kita akan berkumpul seperti ini dengan orang tua calon istrimu nanti. Setelah itu, menentukan tanggal pertunangan dan kemudian segera menentukan tanggal pernikahan " , papar Appa Jong Woon tenang , tapi, tegas dalam pengucapannya.
" Huh! Jangan bercanda Appa , aku tak akan menerima perjodohan ini. ", ucap Jong Woon dengan smirknya.
" Kau harus ! "
" Wae? Kenapa harus ? Apa Appa tak tahu . . . ? sudah ada yang mengisi hatiku. Dan aku bisa memilih calon istri yang cocok untukku. Aku bisa menentukan sendiri, Aku sudah dewasa, Appa! " Jong Woon sungguh tak mengerti tujuan Appanya kali ini. Eomma yang ada di sisinya terus menggenggam erat tangan Jong Woon di sampingnya.
" Arra . . Aku tahu kau sudah dewasa dan bisa menentukan pilihanmu sendiri. Kau tahu, Appa terpaksa menerimanya karena bisnis kita sedang dilanda krisis kebangkrutan. Hutang perusahaan semakin menumpuk. Jika hal itu, terjadi, perusahaan akan bangkrut dan siapa yang akan membiayai adikmu sekolah nanti , siapa yang akan membiayaimu kuliah dan memenuhi kebutuhan kita sehari-hari ? hem?! " , jelas Appa Jong Woon.
" Appa !! " , Jong Woon berdiri dari kursinya, tak tahan lagi dengan sifat keras kepala Appanya. Eomma Jong Woon langsung memegang tangan Jong Woon, mengajaknya kembali duduk.
" Pokoknya kau harus! Ini demi keluarga ini, Jong Woon. ", paksa Appa Jong Woon.
" Tapi, kenapa harus perjodohan? bisa saja kita berinvestasi dengan rekan bisnis tanpa adanya perjodohan,kan ?! Ck, sungguh tak masuk akal!" , ucap Jong Woon kesal. Dia sungguh tak menginginkan perjodohan ini. Sungguh, tak habis pikir dengan apa yang Appa-nya kehendaki, Tidakkah Appanya mengerti sekali ini saja tentang perasaannya? Kenapa segala sesuatu yang Jong Woon lakukan harus ditentukan? Jurusan ditentukan , sekolah ditentukan, lalu, apa lagi? pendamping hidup juga ditentukan? Aishh . . Itu sungguh keterlaluan, batinnya.
" Appa egois!! Aku tidak akan menyetujuinya sampai kapanpun! Tak akan! " , Jong Woon tak tahan lagi berdebat dengan Appanya yang keras kepala dan egois itu. Dia memutuskan berdiri dan beranjak pergi dengan menyangklet tas dipundaknya. Tak memperdulikan teriakan Appanya yang memanggil-manggil namanya. Ia anggap sebagai angin lalu.
" Yakk! Jong Woon-ah!! dengarkan Appa dulu!! Aishh! Anak itu, Tak sopan sekali ! " Teriak Appa Jong Woon yang tak digubris oleh anaknya. Lalu berdiri hendak menghentikan laju langkah Jong Woon . Tapi, sebelah tangan laki-laki itu tertahan oleh sebuah tangan. Dilihatnya, ternyata eomma Jong Woon menahannya.
" Tenanglah , suamiku! Biarkan dia pergi dulu . . " ucap Eomma Jong Woon memegang lengan suaminya dan sesekali ia memberi ketenangan dengan mengusap-usap lembut.
" Tapi, istriku. . . "
" Geure . . Kita bicarakan lagi nanti ,ne? Kau istirahatlah dulu . . Kau pasti lelah dengan semua masalah ini " , kata eomma Jong Woon menggandeng lengan suaminya.
************************
At Night in Park Family's House
Seorang yeoja sedang berdiri di depan cermin panjang dalam kamarnya. Dia Park Hyo Jin. Yeoja berambut coklat panjang, sedikit curly dibagian bawah. Tampak ia sedang memasangkan pakaian, lebih tepatnya Dress yang cocok untuknya. Sedikit bingung untuk memilihnya. Sekian lama ia pilah-pilah Dress yang cocok untuknya. Ia putuskan untuk memilih Dress Syifon dengan lengan terbuka berwarna crream yang menampilkan lengan putih mulus yeoja itu. Dengan hiasan bunga mawar di bagian dada kirinya. Raut bahagia tak lepas dari wajahnya. Bagaimana tidak, Ia akan dijodohkan keluarganya dengan seorang namja tampan bernama Kim Jong Woon. Namja yang ia kagumi sejak pertama kali ia menginjakkan kaki ke tempat perkuliahan. Ketika pertama kali bertemu, dia seperti melihat pangeran tampan yang ada di Dongeng Cinderella. Sungguh tampan.Walaupun ia satu mata kuliah dengan Jong Woon, ia tak berani untuk menyapa ataupun berkenalan dengannya. Dan sekarang, lihatlah! betapa bahagianya ia bisa dijodohkan dengan pangeran tampannya itu. Ia tahu memang. . kalau perjodohan ini karena Ayah Jong Woon ingin berinvestasi dengan ayahnya , yang notabene sebagai pengusaha yang mempunyai saham terbesar saat ini. Itu tak masalah, yang terpenting, ia memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan Jong Woon.
Setelah mengganti pakaiannya dengan Dress cantik. Dia memoles wajahnya natural dengan make-up lengkap yang ada di depan kaca riasnya. Dia harus terlihat cantik dan elegant didepan keluarga Kim terutama pada Jong Woon.
" Cha~ Selesai ! Yeppo~ " , Park Hyo Jin tersenyum senang , memuji diri sendiri.
Diapun melenggangkan kaki keluar kamar , menemui keluarganya yang menunggu dia dari tadi.
" Wuahhh. . Yeppudaa anak appa~ ", ucap Tuan Park tersenyum senang , ketika anaknya menuruni tangga tingkat rumah mewah itu. Yang dipuji hanya tersenyum malu.
" Sudah siap ? " , tanya eomma Hyo Jin.
" Siap! Kajja! ", senyumnya senang sambil menggaet tangan eomma dan appanya.
***********************
Sampailah keluarga Park di sebuah Restaurant . Restaurant yang classic tapi, tetap menampilkan kemewahan restaurant itu. Di bagian dalam restaurant, dindingnya berwarna merah maroon gelap dengan motif bulat warna emas. Tidak banyak memang orang yang datang ke tempat itu. Maklumlah, hanya orang-orang yang berduit saja yang bisa ke situ, tak terkecuali keluarga Park.
Ketika memasuki restaurant, terlihat keluarga Kim sedang menunggu kedatangan keluarga Park. Park Hyo Jin mencoba mencari sosok Jong Woon.Ia terlihat mengerutkan dahi, sosok yang ia cari tak ada. Apa dia tak menyetujui perjodohan ini? Hyo Jin terlihat sedikit murung. Tapi, setelah sampai didepan keluarga Kim, ia tunjukkan senyum elegantnya dan mulai mengangguk memberi hormat pada keluarga Kim. Keluarga Kim pun mempersilahkan keluarga Park untuk duduk.
" Apa kabar Tuan Kim? Apa kalian menunggu lama? " , ucap suara berat Tuan Park sambil membenarkan jasn dan duduknya. Sementara Hyo Jin dan eommanya duduk dengan elegantnya.
" Tidak,Tidak,kami baru saja tiba 1 menit yang lalu.",sanggah nada berat milik Tuan Kim. Tuan Park hanya mengangguk mengerti.
" Apa ini putrimu Tuan Park ?Neomu Neomu Yeppuda seperti ibunya. Pasti ibunya dulu mudanya secantik ini " puji Tuan Kim ke Hyo Jin. Yang dipuji hanya mengangguk dengan senyum simpulnya, " Gamsahamnida. " ,ucap pelan yang masih bisa didengar oleh semua Tuan Kim.
" hahaha. . Ahh. . tidak putriku ini lebih mirip ayahnya. tapi, sifatnya itu yang sangat mirip denganku. " , jawab Ny.Park menyangkalnya.
" Ngomong-ngomong, apa putramu ini yang akan di jodohkan dengan putriku? "
" Ahhh . . tidak, ini putra bungsuku, Kim Jong Hyun, dia masih SMA. Yang akan kujodohkan dengan putrimu adalah Putraku yang pertama, Kim Jong Woon. "
" Lantas, kemana dia? ", tanya balik tuan Park dengan mengerutkan keningnya heran.
" Emhh . .i. .ituu. .Dia ada urusan sebentar. Sepertinya dia agak sedikit terlambat. Tapi,dia bilang akan menyusul segera. " , Jawab Tuan Kim agak gagap, karena kelakuan putranya yang terlambat dalam acara keluarga ini.
Bukannya Jong Woon tidak sengaja terlambat, ia memang sengaja terlambat, karena ia ingin memikirkan ini terlebih dahulu. Memikirkan , apakah ini memang takdir yang harus ia jalani sesungguhnya? Menikahi orang yang tak ia cintai? Kalau benar, ia akan terima, walau banyak keraguan dalam dirinya.
" Ohh . . " , Tuan Park mengangguk mengerti. Walau ia sedikit heran dengan kelakuan putra pertama Tuan Kim itu. Tapi, ia mencoba memakluminya ,mungkin ada urusan yang tak bisa ditunda, sehingga putra Tuan Kim sedikit terlambat untuk datang.
Keluarga Kim mencoba mengalihkan perhatiannya mengenai masalah Jong Woon yang tak datang tepat waktu. Tuan Kim terus mengobrol panjang, dan tak segan-segan bercanda dengan Tuan Park .Ny. Park ataupun Ny. Kim juga saling memuji satu sama lain. Kim Jong Hyun, sibuk memainkan games I-PHONE nya , tak berniat mendengar percakapan kedua orang tua itu. Sementara Hyo Jin sedari tadi tak berkonsentrasi pada percakapan antara orang tua paruh baya ini. Dia memikirkan Jong Woon. Dia takut , kalau Jong Woon tak menerima perjodohan ini. Apalagi , setahunya, Jong Woon dekat dengan Hyun Yoo. Tapi, ia tak tahu sedekat apa Jong Woon dengan Hyun Yoo. Hyo Jin menundukkan sedikit kepalanya. Dalam hati, ia berharap Jong Woon datang ke perjodohan ini.
" Jeoseonghamnida , aku terlambat. " , terdengar suara seorang namja. Seketika Hyo Jin mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu. Jantung seketika berhenti berdetak. Ia tak percaya siapa yang ia lihat saat ini. Seketika , terlintas senyum manis di bibir Hyo Jin.
Jong Woon Oppa
Pangeran tampanku yang aku idam-idamkan,
Yang sebentar lagi akan menjadi suamiku?
Ini sungguh mimpi yang sungguh-sungguh nyata.
BUKAN. . BUKAN MIMPI. .INI NYATA. .
" Ohh, ini putramu? Wah, tampan seperti ayahnya. Duduklah,nak! " , ucap Tuan Park dengan ramah mempersilahkan. Jong Woon mulai duduk di samping adiknya, tepat di depan Hyo Jin. Hyo Jin tak melepaskan pandangan kagumnya pada Jong Woon, ia terus mengikuti pergerakan Jong Woon.
" A . . Anyeonghaseyo ." , sapa Hyo Jin gugup pada namja tampan dihadapannya . Tapi yang disapa hanya mengangguk acuh. Hyo Jin hanya tersenyum kecut mendapat perlakuan tersebut. Sementara, Tn. Kim berdecak kesal. "Sungguh tak ramah sekali ", gumamnya. Rasanya ingin ia jitak kepala anaknya itu. Jong Woon yang tahu Appanya saat ini memandang kesal, sejurus kemudian mengalihkan pandangannya malas ke yeoja di hadapannya.
Jadi ini yeoja yang dijodohkan denganku,
Sepertinya aku pernah melihatnya,
Entahlah, mungkin hanya imajinasiku saja,
Sedangkan yang ditatap, sedikit salah tingkah dan tersipu malu. Terlihat semburat merah di pipi tirusnya. Hyo Jinpun sedikit menyembunyikan mukanya , tak menatap Jong Woon. Jika ia menatapnya , mungkin ia akan pingsan seketika. Apalagi, tatapan Jong Woon yang terkenal di kalangan wanita, sebagai tatapan Ddang- Charisma, yang bisa membuat para wanita yang melihatnya akan meleleh seketika. Melihat orang yang dilihatnya tersipu malu, ia tersenyum geli akan hal itu. Dan mulai mengalihkan pandangannya malas ke arah sekeliling.
" Ok, semuanya sudah berkumpul. Kapan kita melangsungkan pernikahan? " , tanya Tuan Kim.
" Secepatnya , lebih baik. " , Jawab Tuan Park.
" Bagaimana kalau pernikahannya kita laksanakan 2 bulan lagi, sedangkan pertunangannya kita laksanakan minggu depan . . ?" , ucap Tuan Kim memberi usul.
" Baiklah, aku setuju, bagaimana Hyo Jin?", tanya Tuan Park pada Park Hyo Jin.
" Ne , aku setuju setuju saja Appa ", Hyo Jin hanya mengangguk pelan, dengan senyum yang merekah di bibirnya. " Ck! yeoja ini . ." , decak Jong Woon kesal dengan senyum smirknya menatap Hyo Jin.
" Kalau kau ,nak Jong Woon? ", tanya Tuan Park pada Jong Woon.
" Eoh? Terserah.", jawab Jong Woon singkat dengan menghadapkan wajah malas pada Tuan Park. "Aissh , Kau!", gumam Tn. Kim menahan emosi, Tn.Kim menatap kesal pada Jong Woon saat mendengar putranya menjawab dengan tingkah acuhnya itu. Tuan. Kim yang tak enak hati hanya tersenyum ngambang pada Tuan Park. Sesaat kemudian, ponsel Jong Woon bergetar, iapun mengambil ponsel itu dari sakunya. Dilihatnya siapa orang yang menghubunginya saat ini. " Hyun Yoo-ah?? " , gumamnya. Jong Woonpun meminta izin untuk pergi ke toilet pada semua orang di tempat itu. Hyo Jin mendongak , menatap Jong Woon yang mulai berdiri dan pergi ke toilet. Sepertinya ia mendapatkan telepon dari seseorang, yang entah Hyo Jin tak tahu itu siapa . Hyo Jin yang penasaran hanya bisa memandang Jong Woon pergi. Sesampainya di toilet, Jong Woon menekan tombol hijau pada ponsel touch creennya.
" Ne? Yeobesse . . " , terdengar suara yeoja yang sedang terengah-engah dibalik ponsel Jong Woon. Jong Woon yang bingung mengernyitkan dahi.
" Jonghh . . Jong Woon-ah , ahk. . ahhk . .akk. .kuuh takut . . Ak..kuuhh. .hiks! hiks! hiks! .", Jong Woon sedikit membelalakkan mata sipitnya. Di seberang sana, terdengar suara isakan-isakan . Sepertinya Hyun Yoo menangis. Tapi, kenapa? Jong Woon semakin khawatir dibuatnya.
" Yaak! Wae??!! " , terlihat raut cemas di wajah Jong Woon.
" Hiks. .Hiks . Akkuhh . .akhh. .khuhhh. .hiks. .hiks. .", suara yeoja itu mulai melemah.
" Ya! Neo Eoddisseo?!! ", Jong Woon semakin panik dengan keadaan yeoja yang menelponnya saat ini.
" Jong Woon-ahh. . " jawab yeoja itu semakin melemah dan pelan. Sesaat kemudian tak ada suara dan isakan lagi , melainkan suara gemeretak, seperti suara ponsel jatuh. Jong Woon semakin panik, Iapun melangkahkan kakinya kasar dan sedikit berlari, keluar dari restaurant itu tak memperdulikan keluarganya yang saat ini melongo melihat kepergian Jong Woon ,yang sama sekali tak memberi salam pada mereka terutama pada Hyo Jin. Hyo Jin mendengus napas kasar. Hyo Jin kecewa , sedikit kesal pada namja itu, ia sungguh tak menyangka namja yang ia sukai begitu cuek dan tak ramah.Inikah sifatnya? Ia memandang kosong lurus ke depan dan sejurus kemudian terukir senyum smirk di bibirnya.
Jong Woon Oppa,
Aku tahu kau tak menyukaiku,
Tapi, suatu saat nanti kau harus menjadi milikku, HARUS!
*******************************