Jumat, 09 Agustus 2013

CRUSH --- CHAPTER 4a ( Strange Feel )

Judul : Crush
Author : Choi Hyuk Ra (Rentika)
Genre : Romance , Hurt.
Inspired from  : Song of Sandeul - Crush
Cast : Song Hyun Yoo as You
           Yesung as Kim Jong Woon
           Park Hyo Jin (new cast)
Other Cast : Temukan sendiri.




                   Anyeong! Chapter 4 udah rilis! Mianhae kalo semakin Geje and banyak typo-yuponya pas baca, karena author juga manusia. Udah deh gak banyak bacot. Lets Fly!



PART 4
“Anak Tuan Kim itu benar-benar tidak sopan! Sebaiknya kita pikirkan terlebih dahulu rencana perjodohan ini.” Gerutu Tuan Park atas sikap Jong Woon tadi. Park Hyo Jin, Ia sedari tadi hanya memalingkan wajahnya ke arah luar, jendela samping mobilnya. Tampak raut kekecewaan disana. Namja yang disukainya tidak benar-benar menerima perjodohan ini. Tidak tahukah Jong Woon bahwa ia sangat menginginkan perjodohan ini? Bahwa ia ingin Jong Woon menjadi miliknya seutuhnya. Apa ini semua karena Park Hyun Yoo? Seberapa pentngkah ia baginya? Sedetik kemudian ia hembuskan nafasnya kesal.

                Di sisi lain, Jong Woon mengendarai mobilnya dengan terburu-buru, tak dihiraukannya keramaian lalu lalang mobil malam itu. Yang ia pikirkan hanya Hyun Yoo dan Hyun Yoo. Dia dimana ? Dia kenapa? Pikirannya kalut saat ini. Jong Woon mengambil ponsel yang ada disamping jok mobilnya, mencoba menghubungi Hyun Yoo. Sayang, tak ada jawaban darinya. Tak menyerah, ia mencoba menghubunginya lagi. Tapi, hasilnya NIHIL. Jong Woon mengacak rambutnya frustasi dan memukul stir kemudinya.  Tak jarang juga ia menghembuskan napas kasar . Hati dan pikirannya benar-benar kalut.

            Dia tak boleh terlalu panik.  Ia harus mencari cara untuk menemukan Hyun Yoo berada. Sebuah ide terlintas dipikirannya. Yah, sebuah GPS di ponselnya , mungkin akan sedikit membantunya menemukan Hyun Yoo. Ia yakin ponsel Hyun Yoo aktif, dan itu akan mempermudah mencari keberadaan Hyun Yoo. Jong Woon mulai membuka aplikasi GPS di ponselnya. “Incheon?!! Berarti dia masih di daerah sini. ” , gumamnya. Sedikit kelegaan , tapi, dia masih bingung harus mencarinya dimana. Haruskah ia menelusuri semua kota Incheon?  Itu sungguh tak masuk akal.

            Oke, tunggu aku Hyun Yoo!!
            Bertahanlah!

            Tiba-tiba terlintas di pikirannya , bukankah jam segini adalah waktu Hyun Yoo untuk pulang dari kerjanya. Jong Woon tahu betul  jam-jam aktivitas Hyun Yoo. Ya, pasti Hyun Yoo tak jauh-jauh dari tempat kerja magangnya. Apalagi Hyun Yoo pernah bercerita kalau jalan menuju tempat ia tinggal sangatlah sepi saat malam hari. Di tambah lagi di pinggir-pinggir jalan terdapat kedai soju. Yang banyak dinikmati oleh para pemabuk. Tapi, mau bagaimana lagi, Hyun Yoo harus bekerja,  ia tidak ingin merepotkan keluarganya untuk membayar uang kuliahnya. Ia ingin mandiri, dan mencukupi kebutuhannya sendiri. Hyun Yoo hanya menampilkan ekspresi beraninya pada Jong Woon ketika bercerita tentang itu dan selalu mengatakan aku akan baik-baik saja, tak akan terjadi masalah yang berbahaya. Tapi, Jong Woon tahu, dia sebenarnya sangatlah penakut.

            Saat ini, Jong Woon berada di sekitar tempat Hyun Yoo bekerja. Ia putuskan untuk turun dari mobil. Tak diperdulikannya salju yang mulai turun mengotori pundaknya dan hawa dingin malam hari yang menusuk kulit. Walaupun, ia sudah memakai jas , tapi, tak cukup untuk menjadi penghangat malam itu.  “ Hyun Yoo-ah !!!” , teriak Jong Woon sambil menelusuri jalan tersebut mencari Hyun Yoo. Ia terlihat lelah dan kedinginan. Tapi, ia tak peduli, saat ini ia harus menemukan Hyun Yoo. “Hyun Yoo, Eoddiya??”, lirihnya panik seraya mengacak rambutnya kesal, karena tak menemukan Hyun Yoo. Tapi. . . tunggu! Sepertinya ia melihat sesuatu dibalik tembok itu. Jong Woonpun mendekati  tempat itu perlahan , memastikan apa yang ia lihat itu. Tenggorokan Jong Woon seketika tercekat. Dia tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Hyun Yoo tergeletak lemah tak sadarkan diri. Dengan rambut dan baju yang sedikit tak beraturan. Lutut Jong Woon terasa lemas, dan iapun mulai berjongkok, melihat raut wajah yeoja yang ia cinta lebih dekat.
“ Apa yang terjadi denganmu, Hyun Yoo-ah?!!”, teriak Jong Woon dab menepuk pelan pipi Hyun Yoo.

“Hyun Yoo-ah~ Palli Irreona!!” , lanjutnya membangunkan Hyun Yoo dari pingsannya. Tapi, tak ada respon dari yeoja itu. “ Bertahanlah~” , lirihnya.

Tak butuh waktu lama lagi ia harus mebawa Hyun Yoo pulang. Ia harus menggendong tubuh Hyun Yoo. Tangan Jong Woon berusaha meraih punggung Hyun Yoo dengan hat-hati. Tapi, itu malah membuat si empunya, terbangun. Sesekali Hyun Yoo mengerjapkan matanya. Menetralisir pandangan di depannya. Ia terlonjak kaget, tat kala ada yan menyentuhnya.

” Ka!! Jebal! Ka!! Hiks. . hiks. . ” Hyun Yoo menghempaskan tangan Jong Woon sambil memejamkan mata dan menutupi telinganya. Refleks ia mundur dan saat ini ia malah menenggelamkan kepalanya ke kedua lututnya. Ia takut kalau yang menyentuhnya sekarang adalah orang mabuk tadi. Melihat Hyun Yoo ketakutan, hati Jong Woon terasa sakit. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tak berada di sisinya. Padahal ia sudah berjanji akan selalu ada di sisi gadis itu.

“ Jangan sentuh aku!! “ , pintanya saat Jong Woon akan mendekapnya. Jong Woon sedikit terlonjak, Sikap Hyun Yoo saat ini seperti menggambarkan bahwa ia sedang trauma akan suatu hal, yang ia tak tahu kenapa. Jong Woon tak tahan lagi melihatnya seperti ini, Jong Woon menarik paksa kedua bahu Hyun Yoo. “ Hyun Yoo-ah~ Lihat aku! Ini aku Jong Woon”, sedikit mengguncang bahu Hyun Yoo, karena, Hyun Yoo sesekali sempat meronta.

Jong Woon ,kau datang, batin Hyun Yoo senang. Seketika air mata Hyun Yoo kembali deras mengalir di pipinya. Ia terus menunduk, linangan air amata terus menetes. Ia sangat senang. Namja yang sudah seperti Guardian Angel untuknya, telah datang. Tapi, ia tak bisa mengekspresikan rasa senangnya. Yang hanya ia lakukan hanyalah menangis. Mungkin ia masih takut akan kejadian yang menimpa dirinya tadi. Jong Woon mendekap erat tubuh Hyun Yoo, memberikan dada bidangnya untuk bersandar dan meluapkan tangisannya. Sesekali mengusap-usa lembut rambut Hyun Yoo.

“ Menangislah, aku tak akan pergi darimu, aku akan disini untukmu”

Kemudian Jong Woon mulai merenggangkan pelukannya. Tangan Jong Woon terangkat , memegang dagu Hyun Yoo lembut, membantunya mendongak dan menatapnya. Dan beralih mengusap-usap lembut pundak Hyun Yoo, memberikan ketenangan. “ Gwenchana~ Gwenchana~” , bisiknya kemudian. Membuat Hyun Yoo berhenti menangis dan hanya membuat isakan – isakan kecil. Seketika jantung Hyun Yoo serasa berdetak tak seperti biasa melihat tatapan Jong Woon tulus.

Tatapan diantara mereka berdua tak dapat diartikan. Jong Woon terus saja menatap wajah yeoja dihadapannya. Tak terasa, ia malah semakin menarik dagu Hyun Yoo semakin mendekat. Jong Woon mulai memejamkan matanya. Sedangkan Hyun Yoo hanya terbelalak kaget, apa yang akan dilakukannya . Pikirannya langsung kalut. Hembusan nafas Jong Woon mulai terasa di pipi Hyun Yoo. Hyun Yoo tak ingin melihat apa yang dilakukan Jong Woon selanjutnya. Iapun ikut memejamkan mata. Sampai akhirnya . . . 

Chuu~~

Jong Woon mulai melumat lembut bibir pink Hyun Yoo , tak ada paksaan. Dan tak ada rasa nafsu di dalamnya. Yang hanya adalah rasa kasih sayang tulus untuk Hyun Yoo. Sepertinya Hyun Yoo masih kaget dengan perlakuan Jong Woon, sehingga ia tak membalas ciuman namja itu. Ia terdiam dengan pikirannya sendiri. Cukup lama mereka menautkan bibir mereka, hingga akhirnya , Jong Woon merasa ada yang meremas jasnya. Ia pun melepas tautannya itu. Nafas kedua insan itu, sedikit tersengal-sengal akibat tautan yang dibuat mereka. Tangan Jong Woon terangkat kembali, mengusap lembut bibir Hyun Yoo yang basah akibat ciumannya. Seulas senyum terukir manis di bibir Jong Woon. Sebaliknya Hyun Yoo mendongak dan membelalak tak  percaya. Ia seperti membeku sekarang. Ia sungguh tak mengerti maksud ciuman ini. Entahlah~ apa ia terlalu naïf?

Ku harap kau segera mengerti ,
Dan membuka hatimu untukku, Hyun Yoo-ah~

Cukup lama ia menatap mata sayu dan lelah Hyun Yoo. Iapun mulai tersadar dan sedikit malu karena tingkah Jong Woon yang tiba-tiba. Sesekali ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ehem~ kajja kita pulang! “, Jong Woon mencoba menormalkan suaranya agar tidak terlihat gugup. Jong Woon yang melihat Hyun Yoo semakin menundukkan kepalanya , mencoba meraih tangan yeoja itu, dan menggengamnya. Seakan ia tak ingin yeojanya hilang dari sissinya lagi. DEG! Hyun Yoo yang digenggam tangannya hanya diam, bahkan semakin menunduk.

Mungkinkah ini cinta? Kenapa. . ?
Genggaman tangan hangatmu sekarang, membuat hatiku berdesir tak karuan,
Perasaan ini, perasaan yang sama ketika pertama kali aku bertemu dengan Donghae.
Hahh~ apa aku jatuh cinta lagi ?
Ani, Ani~

“ Gwenchana?”, Tanya Jong Woon ketika melihat Hyun Yoo geleng-geleng kepala sendiri. 

“ Nde?” Reflek Hyun Yoo tersontak dari lamunannya dan mendongak ke samping.

“ Kenapa kau tadi geleng-geleng kepala sambil memegang dadamu?”, Tanya Jong Woon penasaran.

“Apa kau tidak apa-apa? Apa dadamu sakit? Apa seharusnya kita pergi ke dokter?”, lanjutnya khawatir.

“Ah? A. . Aniyo~ Gwenchana”, sangkal Hyun Yoo sambil mengibaskan-ibaskan tangan satunya.

“Jinja ?”, Tanya Jong Woon meyakinkan.

“Ehm!” Hyun Yoo mengangguk dan kembali menunduk.

                Huufftt~~ Sepertinya memang iya, aku harus pergi ke dokter,
                Pikiran dan hatiku mulai gila. .

*******************************

                Sepanjang jalan, Jong Woon menfokuskan pada jalan yang didepannya. Ia tak berniat untuk mengajak bicara Hyun Yoo. Ia memberi  kesempatan untuk Hyun Yoo beristirahat, mungkin dia lelah. Di sela-sela menyetirnya ia berpikir,  dengan kejadian apa yang menimpanya sehingga membuatnya ketakutan seperti tadi. Apalagi, pakaian yang dipakai Hyun Yoo sudah tak serapi biasanya. Rambut Hyun Yoo juga terlihat acak-acakan. Jong Woon menggeleng cepat. Ani! Ia harus berpikir positif. Ia akan menanyakannya nanti.

“Eoh ? Kau sudah tidur?” , Jong Woon terkesiap, karena kepala Hyun Yoo tiba-tiba bersandar ke pundaknya. Ya, saat ini Hyun Yoo tertidur di pundak Jong Woon yang sedang sibuk menyetir. Sesekali Jong Woon melihat raut damai dan juga lelah yang terpancar di wajah manis Hyun Yoo. Tak terasa bibir Jong Woon menari sudut membentuk senyuman.

*******************************

           Sebuah mobil hitam berhenti di sebuah rumah. Ya, Hyun Yoo sekarang memang sudah tak tinggal di apartement. Dua minggu lalu , setelah kematian Donghae, ia harus menerima kepahitan lagi. Dia harus merelakan ayahnya yang sebagai kepala rumah tangga sekaligus penopang nafkah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Hyun Yoo sangat depresi akan hal itu. Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Untungnya, dia punya sahabat seperti Jong Woon yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka. Dan itu membuatnya kembali tegar, bahwa dirinya tak sendirian.

        Karena kepergian sang ayahnya, ia mulai mencari pekerjaan, untuk membayar semua uang kuliah dan kebutuhan keluarganya. Diapun menjual apartementnya hanya untuk mencukupi itu, dan kemudian pindah ke rumah yang saat ini Hyun Yoo tempati. Rumah yang terlihat lumayan kecil dan sederhana, terletak di atap. Cukup nyaman untuk di tinggali 1 orang saja. Meski begitu, Hyun Yoo tetap bersyukur dengan apa yang ada. Yang terpenting dia masih punya tempat berlindung, tidur, makan dan sebagainya ,itu sudah cukup.

         Jong Woon hanya diam di tempat. Berusaha tak melakukan gerakan yang bisa mengganggu ketenangan orang yang saat ini terlihat sangat nyaman memejamkan matanya dengan bersandar di bahu tegap Jong Woon. Karena gerakan sekecil apapun , munngkin saja. . akan membuat yeoja di sampingnya bangun. Jong Woon tampak tersenyum . Ia terus menatap wajah manis Hyun Yoo lekat. Seakan ia ingin waktu berhenti berputar.  Ia telusuri seluruh lekuk wajah yeoja yang ada di sisinya. Sampai ketika, saat pandangannya beralih ke bibir Hyun Yoo. Glek! Ia menelan salivanya dengan susah payah. Jantung Jong Woon kembali berdebar tak sesuai irama. “ Arggh~ Jangan Lagi~” geutu Jong Woon kesal. Jong Woon langsung mengalihkan pandangan ke luar jendela, dan menghirup oksigen sebisanya. Sambil terus meremas dadanya, yang terus berdetak aneh.

“ Eungh~” Tak berapa menit kemudian, ada pergerakan dari yeoja di sisinya. Hyun Yoo mengerjapkan matanya dan sesekali melenguh kecil. Saat matanya benar-benar terbuka, Ia terkejut . Kenapa ia bisa tidur dan bersandar di bahu Jong  Woon? Hyun Yoo kira ia sedari tadi bersandar di kaca. Melihat kenyataan itu, dengan sigap ia menjauhkan kepalanya dari bahu Jong Woon. Jong Woon hanya tersenyum geli melihat tingkah yeoja di sampingnya .

Aisshh~ Memalukan~~ , gerutunya dalam hati kesal dan sedikit salah tingkah. Mungkin mukanya mulai memerah saat ini. Hyun Yoo menghirup nafas panjang untuk menetralisir kegugupannya. Ia harus terlihat biasa saja.

“ Sudah sampai ya ?” , tanyanya berusaha untuk tak terlihat canggung.

“Ne” , jawab Jong Woon singkat dengan senyum  yang terukir di wajahnya.

“ Ehm. .” Hyun Yoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena kecanggungan.

“ Kalau begitu, Gomawo sudah mengatarkanku, Jong Woon”, lanjutnya dan mulai menggapai pintu mobil di sisinya.

“ Changkaman!”, cegah Jong Woon. Iapun keluar dari mobil dan berjalan kesisi mobil, tempat Hyun Yoo duduk. Jong Woonpun membukakan pintu mobil untuk Hyun Yoo.

“ Go. .gomawo”, ucapnya ragu setelah keluar dari mobil . Tingkah Jong Woon memang sedikit aneh dan membuat Hyun Yoo tampak canggung.

“ Tak masalah. Cepatlah istirahatkan tubuhmu. .Kau terlihat lelah. .” , ucap Jong Woon dengan senyum tulusnya.

“ Ne”, Jawab Hyun Yoo dengan membalas senyum tulus namja itu.
Jong Woon terus memandang punggung Hyun Yoo yang semakin menghilang di balik pintu rumahnya.

TaoBaekhyunChanyeol


To be continued~~~~~~

Mian semakin GEJHE dan AMBURADUL ~ HUWAAHH~ MIANHAE~ T,T  dan banyak Typo-typonya~
Saking lamanya gak ngelanjutin , jadi , bingung ceritanya enaknya mau diterusin kayak gimana, -__-)?
jadinya begini dehh~~ Okke deh! Moga suka yaah~
KRITIK dan SARAN yang membangun aku tunggu~
Hargai AUTHOR ,ne ! ^^
KOMEN MU SANGAT BERHARGA! #BOW
THANKS FOR VISIT BEFORE! 

Kamis, 23 Mei 2013

CRUSH -- Chapter 3

Judul : Crush
Author : Choi Hyuk Ra (Rentika)
Genre : Romance , Hurt.
Inspired from  : Song of Sandeul - Crush
Cast : Song Hyun Yoo as You
         Yesung as Kim Jong Woon
  Park Hyo Jin (new cast)
Other Cast : Temukan sendiri.

                   Anyeong! Chapter 3 udah rilis! Mianhae kalo semakin Geje and banyak typo-yuponya pas baca, karena author juga manusia. Udah deh gak banyak bacot. Lets Fly!



PART 3
*********************
Sejak kejadian itu, Hyun Yoo tak mau makan ataupun tak mau berangkat kuliah. Dia ingin sendiri. Hanya ingin ditemani dengan angin sepoi yang menerpa rambut pendeknya saat ini. Udara di Seoul sangat cerah, tapi, tak secerah hatinya. Lihatlah! Saat ini dia sedang duduk di kursi ayunan, termenung di sebuah taman dekat apartementnya. Memandang kosong ke depan dengan mata sayu dan lingkaran hitam yang terlukis disana. Kelihatan sangat lelah memang. Lelah bukan karena tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk , tapi, lelah dengan takdir yang menurutnya kejam menyiksanya. Namja yang 1 tahun menjalin cinta dengannya harus  pergi selamanya. Itulah yang ia pikirkan selama ini. Kenapa Tuhan mengambilnya dengan cepat? 

Hyun Yoo menunduk, matanya mulai berair. Seakan bendungan air matanya ini akan jebol seketika. Kala kejadian masa lalunya bersama Lee Donghae tergambar di benaknya.

FLASBACK ON#

Tepatnya ,saat pertama kali bertemu Lee Donghae. Dia bertemu Lee Donghae di sebuah Perpustakaan. Suatu hari di perpustakaan , Hyun Yoo ingin mencari buku Kesenian untuk tugas esainya. Sayangnya, buku itu terlampau tinggi tempatnya untuk ia gapai. Hyun Yoo yang berpawakan sedikit pendek, mencoba berjinjit-jinjit menggapai buku itu. Sesekali dia mendengus kesal dan mencoba kembali meraih buku itu. Hingga sebuah tangan kekar mengambil buku yang yeoja itu ingin ambil. 

"Igo . . . " , kata namja yang tepat di belakang Hyun Yoo, tapi, Hyun Yoo tak tahu namanya.

Hyun Yoo terdiam sejenak dengan tangan yang masih terangkat. Dan kemudian  menoleh, " Eoh, Gamsahamnida. . " , Hyun Yoo langsung menganggukkan kepalanya sopan berterima kasih. " Chonmaneyo " , balas namja itu dengan senyumannya. Sebuah senyuman yang pasti akan membuat para yeoja yang melihatnya akan diam membeku. 

Saat Hyun Yoo mendongak, tatapan mereka seketika bertemu. Namja itu masih mengeluarkan senyum pemikatnya. Tatapan tajam namja itu seakan menghipnotis yeoja yang ada dihadapannya. Diam tak bergerak. Sepertinya waktu berhenti berputar, seakan ada bunga sakura yang turun bertebaran disekeliling mereka. Membuat jantung Hyun Yoo berdetak dengan kencang tak seperti biasanya. Tak pernah ia rasakan perasaan ini sebelumnya. Kenapa perasaannya seperti ini? Padahal ia sama sekali tak mengenal namja ini. "Apa ini Love In First Sight? ", batinya. Hyun Yoo masih terpaku. Tiba-tiba sebuah tangan bergerak - gerak di depan matanya. Membuat kesadarannya kembali. Hyun Yoo sedikit tersentak. " Eoh! "

" Gwenchanayo ? " , tanya namja itu.

" e . . emm. . Gwenchana. " , jawab Hyun Yoo dengan rona merah yang muncul di pipi mulusnya. Membuat Hyun Yoo menunduk malu. 

" Agasshi, jurusan sastra? ", Hyun Yoo serentak mendongak, kembali menatap namja itu. 
" N..Ne ", Jawab Hyun Yoo sedikit tergagap. Tak dipungkiri keguugupan yang ia rasakan. Menatap namja tampan dihadapannya. Dengan senyum mautnya. Arghh~ dia bisa gila. 

" Wahh, kebetulan aku juga jurusan sastra , perkenalkan namaku Lee Donghae. Bagapseumnida" , ucap namja itu memperkenalkan diri. 

" Nde, N..Nado " jawab Hyun Yoo yang masih tergagap. Efek jantungnya yang memompa cukup cepat mungkin? 

Semenjak itu, mereka sering bertemu. Bukan karena se-fakultas yang sama, tapi, memang Lee Donghae selama kuliah disana , sepertinya . . sudah mengincar yeoja bernama Hyun Yoo ini sebelumnya. Sampai akhirnya, mereka mulai bersahabat. Hyun Yoo mulai memperkenalkan Lee Donghae pada Kim Jong Woon -- sahabat kecilnya. Mereka bertiga tak segan-segan bertukar pikiran bersama-sama dan saling bercanda ria. Sungguh akrab persahabatan mereka bertiga. Terkadang sikap Lee Donghae yang perhatian ,membuat Hyun Yoo senang. Tapi, beda halnya dengan Jong Woon yang mulai mencintai sahabatnya ini. Hatinya seperti tercabik-cabik tat kala melihat perhatian Lee Donghae pada Hyun Yoo yang terlihat seperti bukan sekedar sahabat. Hingga pada akhirnya, Lee Donghae menembak Hyun Yoo dengan romantis di sebuah restaurant. Yang sampai sekarang menjadi tempat favorit mereka. Kemesraan demi kemesraan ia tampilkan , sekalipun itu di depan Jong Woon, yang tak Hyun Yoo ketahui bahwa namja itu juga mencintainya, tapi , takut untuk mengungkapkan. Jong Woon hanya bisa menerima dan menampilkan senyum palsu  kepada kedua sahabatnya itu, memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja, tapi, sebenarnya tidak. Dalam hati, Ia meruntuki kebodohannya, tak mengungkapkan cintanya dari awal. Yang bisa Jong Woon lakukan hanya memendam rasa pada Hyun Yoo, walau itu akan membuatnya sakit.

FLASBACK OFF#

Hyun Yoo tak henti-hentinya meneteskan air mata. Tat kala memori kejadian dan kebersamaan masa lalu bersama Lee Donghae itu terputar kembali. Isakan demi isakan ia keluarkan. Hatinya sakit memikirkan bahwa takdir telah merenggut nyawa kekasihnya. Ia masih belum terima. 

"Chagiya~ Chagiya~" 

Hyun Yoo tersentak dari isakannya. Seperti ... suara Lee Donghae? Suara namja yang Hyun Yoo rindukan. Hyun Yoo membelalakkan mata sayunya bingung. Hyun Yoo masih bertanya-tanya, apa pendengarannya salah?Apa dia memang sudah gila? Hyun Yoo masih bertanya-tanya. Entahlah~ suara itu terdengar jelas di telinganya.

"Chagiya~ Chagiya~" , ulang suara itu. Ya Tuhan, itu suara Donghae. Batinnya senang. Tapi , dimana dia? " Cha..chagiya~ Oppa-ah~" teriak Hyun Yoo dengan suara seraknya. Dia mendongak, menoleh ke kiri dan ke kanan.

  " Oppa-ah~ eoddiga ? ", Hyun Yoo masih mencari-cari sumber suara. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. Menyeret kakinya pelan seraya menoleh ke kiri dan ke kanan. Tapi, tak ada sosok yang ia cari. Tiba-tiba, kepalanya mulai berdenyut, matanya mulai buram menatap  pandangan di depan, Tidak! Ia harus bertahan , ia tak boleh pingsan. Ia sangat rindu pada Donghae. Dia harus melihatnya. Tekad bulat itu terus bergemuruh dalam hati. Tapi, semuanya sia-sia , tanah yang ia pijak mulai berputar-putar. Hyun Yoo tak bisa menahan kakinya berpijak sekarang. Iapun linglung ke samping. Untungnya, ada seseorang yang menopang tubuhnya. Hyun Yoo melihat bayangan Lee Donghae samar."Donghae-ah~", lirihnya, sebelum tatapannya semakin buram. Iapun menutup matanya dan mulai tak sadarkan diri. 

********************

Seorang namja sedang berjalan sedikit tergesa-gesa ke arah apartementnya. Namja itu Jong Woon. Saat ini , Jong Woon menggendong seorang yeoja yang tak sadarkan diri ala bridal style. Jong Woon menatap sayu wajah lelah yang terlukis jelas di raut yeoja yang ia gendong kini. 

Sesampainya, di depan pintu apartement, tangan Jong Woon yang masih setia menggendong Hyun Yoo,  berusaha menekan password pintu apartement.

PIPE! Ttilili..lilit... 

Pintu apartement terbuka , Dia segera mengarahkan kakinya ke kamar  tidur. Membaringkan yeoja itu di tempat tidurnya. Setelah itu, Jong Woon menggeret kursi kecil, dan kemudian duduk di samping tempat tidur Hyun Yoo. Memandang yeoja itu sayu . Yeoja yang saat ini tidur terpejam di hadapannya. Terlihat damai menurutnya. Tapi, rasanya sakit ketika melihat wajah lelah yeoja ini. Lelah terhadap beban hidup yang ia alami. Terlihat yeoja itu mulai mengerutkan dahinya, sedikit mengigau. Keringat juga mulai tampak di dahi dan pelipisnya. Tangan Jong Woon kemudian terangkat, menempelkan telapak tangannya pada yeoja itu. 

" Astaga . . demam!! " batinnya panik, setelah menempelkan tangannya ke dahi Hyun Yoo. 

Jong Woon segera berlari ke arah dapur, mengambil baskom dan mengisinya dengan air yang cukup serta tak lupa sapu tangan untuk mengompres dahi Hyun Yoo. Jong Woon menghampiri Hyun Yoo yang terlihat tak nyaman dengan tidurnya itu, mungkin efek panas yang dia rasakan. Diapun meletakkan baskom yang berisi air di bawah kursi tempat ia duduk. Tangannya dengan telaten memeras sapu tangan yang sudah dicelupkan di baskom berisi air itu. Kemudian, melipat sapu tangan kecil tersebut menjadi 2 dan meletakkannya di dahi Hyun Yoo. Jong Woon kembali duduk di samping tempat tidur Hyun Yoo. Kembali memandang  wajah yeoja itu dari ujung kepala , dahi yang terpampang indah, hidung mancung Hyun Yoo . Hingga . . ketika matanya tertuju pada bibir pink Hyun Yoo. GLEK! Jong Woon menelan ludahnya susah payah. Jantung Jong Woon terasa berdegup kencang. Ingin sekali ia mencium lembut bibir manis itu. Dengan sedikit ragu, Jong Woon mencoba mendekat, mempersempit jarak diantara mereka. Hingga Jong Woon bisa merasakan deru nafas Hyun Yoo yang saat ini tertidur damai. CHU~

1 detik, 2 detik, 3 detik , 4 detik , 5 detik . . .

Hanya  5 detik Jong Woon menempelkan bibirnya pada bibir Hyun Yoo. Ya, hanya menempelkan. Dia memang tak berniat untuk lebih memperdalam. Ia takut akan mengganggu istirahat Hyun Yoo dan membangunkannya. Apalagi, ia masih belum berani menyatakan perasaannya secara langsung. 
" Saranghae . . " bisiknya setelah selesai melepaskan tautan bibirnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Sebelah tangan Jong Woon memegang dadanya yang masih berdetak kencang.

Semalaman Jong Woon terus mengganti kompres dan meletakkan kembali ke dahi Hyun Yoo. Hingga malam semakin larut , Jong Woon merasakan matanya mulai berat. Dan iapun tertidur di sisi Hyun Yoo, dengan posisi ,memiringkan kepalanya bersandar pada satu tangannya yang dilipat, yang ia gunakan sebagai penopang untuk tidur. Sedangkan tangan satunya menggenggam tangan Hyun Yoo lembut. 

Hari berlalu , Malam yang sunyi berganti pagi yang cerah, disertai kicauan burung-burung gereja yang mewarnai pagi itu. Gumpalan awan yang terlukis indah di langit biru. Menambah keindahan kota Seoul. Sinar mataharipun mulai menjelajah diantara sela-sela gorden apartement Jong Woon. Mengusik namja yang sedari tadi tidur dengan posisi tak nyaman. Membuat sang namja terbangun dari mimpinya. 

" Sudah pagi? " , Bangunnya sambil mengerutkan kening dan mulai mengucek-ucek matanya. "Akhh~ punggungku pegal sekali " ,eluhnya, mungkin efek tidur yang tak nyaman itu. Ia pun mulai menggerakkan persendian bahunya, sedangkan tangan satunya memegang bahu yang ia gerakkan. Sejenak Jong Woon menghentikan aktivitasnya memandang wajah damai Hyun Yoo.  Terlihat ia begitu lemah, hingga sinar mataharipun tak membuatnya terasa terganggu. Jong Woon mengecup singkat dahi Hyun Yoo dengan lembut. 

Lalu, memegang dahi Hyun Yoo, memastikan bahwa demamnya sudah mulai reda. Setelah itu, melepaskan sapu tangan yang sedari tadi menempel di dahi Hyun Yoo. Sejurus kemudian Jong Woon beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kaki, membuka gorden putih kamarnya. Mata simpit Jong Woon menyipit , sedikit silau, tat kala pantulan sinar matahari menerpa wajahnya. Setelah selesai dengan urusan itu, Jong Woon bergegas ke dapur, membuatkan sup untuk Hyun Yoo. 

***********************

Mata Hyun Yoo kembali terbuka dengan pelan. Agak samar melihat pandangan di depannya. Ia kerjapkan matanya perlahan. Hingga akhirnya matanya mulai terbuka sempurna. Ia menatap langit-langit kamar itu sejenak. " Tunggu ! Ini sepertinya bukan apartementku" ,batinnya bingung. 

Dia kemudian mencoba menyandarkan badanya di tempat tidur itu. " Argghh~ ini di mana? kenapa aku bisa sampai di sini?." , erangnya dengan memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Kejadian saat di taman kemudian terlintas di kepalanya.

  " Donghae-ah~", lirihnya setelah mengingat kejadian di taman lalu, kejadian di taman lalu terputar kembali, ketika ia tiba-tiba mendengar suara Donghae menyerukannya. Setelah itu, ia tak sadarkan diri dan melihat samar wajah Donghae. Dan setelah itu, ia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Seperti. . . Donghaelah yang menolongnya pingsan. Tapi, Entahlah. . Mungkin itu hanya halusinasinya saja. Tak mungkin , seseorang yang sudah mati akan hidup kembali. Lalu, siapa yang menolongnya, hingga sampai ke tempat ini? Itulah yang masih dipertanyakan oleh Hyun Yoo. Tiba-tiba, Ia mencium bau masakan di luar kamar. 

" Siapa yang memasak pagi-pagi begini? ", herannya dalam hati. Karena penasaran, Hyun Yoopun menggerakkan badanya ke pinggir tempat tidur tersebut. Duduk sejenak menetralkan pusing akibat efek seharian ia tertidur pingsan. Ia melangkahkan kakinya pelan keluar kamar. Ia melihat seorang namja dengan hem putih polosnya dan celemek hijau terpasang disana. Namja yang tak tahu itu siapa. Karena namja itu masih membelakangi Hyun Yoo yang sedari tadi hanya diam di depan kamar. Tak lama, Hyun Yoo memberanikan diri untuk menyeret kakinya pelan ke arah namja itu. Namja itu terlihat masih sibuk membereskan masakannya . Hingga akhirnya, namja itu membalikkan badannya dengan menbawa mangkok berisi bubur yang siap ia hidangkan menuju meja makan. Hyun Yoo berhenti melangkah dan mulai membelalakkan matanya yang sayu itu, " Jong Woon-ah . ." , lirihnya. 

" Oh?. . kau sudah bangun? Duduklah! Aku sudah membuatkanmu bubur ." Jong Woon menggeret kursi dan menarik tangan Hyun Yoo lembut, mendudukkan yeoja itu disana. Hyun Yoo terlihat masih mencoba mencerna kata-kata Jong Woon. Perhatian yang Jong Woon berikan membuatnya tak habis pikir. Dia rela memasakkan makanan untuknya pagi-pagi sekali. Sepertinya dia juga kurang tidur karena menemaninya semalaman saat dia pingsan. " Kenapa kau lakukan ini? " , tanya Hyun Yoo dalam hati. Dia terus mengikuti arah pergerakan Jong Woon melakukan aktivitasnya. Setelah selesai, Jong Woon kembali ke meja makan, duduk di hadapan Hyun Yoo. Seketika Hyun Yoo menunduk, mengalihkan pandangannya yang sedari tadi terus mengikuti pergerakan namja itu. 

" Kenapa belum dimakan ? Cepatlah makan . . Kau harus banyak makan, supaya kau cepat sembuh.", kata Jong Woon disertai dengan senyum manisnya.

"Nde ..", angguknya pelan dan mulai meraih sendok makan yang ada di atas meja, menyuapkan sup ke mulutnya. Sedangkan Jong Woon menatap yeoja di hadapannya intens dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Ia mengikuti pergerakan tangan Hyun Yoo yang memakan bubur itu hati-hati. Ingin sekali ia melihat ekspresi Hyun Yoo mengenai masakannya. Tapi, yeoja itu sepertinya menikmati masakan Jong Woon. Lihatlah~ dia terlihat lahap , walau dengan sikap hati-hati , dia menyuapkan sendok itu ke mulutnya. Namun, itu sudah membuat Jong Woon senang. 

" Otthe? Massitta? " , tanya Jong Woon penasaran, karena Hyun Yoo sedari tadi tak memberikan ekspresi tak enak atau enak tentang masakan Jong Woon. Hyun Yoo mendongak , menatap namja yang duduk di depannya. Hyun Yoo hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi , mengiyakan, masakan Jong Woon yang memang enak. Jong Woon tersenyum puas melihat Hyun Yoo memakan masakan buatanya. Tidak sia-sia , ia memasakkan bubur itu. 

Hening. Jong Woon terus memperhatikan yeoja dihadapannya. Sedangkan Hyun Yoo, menikmati masakan yang Jong Woon hidangkan untuknya. Hyun Yoo merasa sedari tadi Jong Woon memperhatikannya. Dan itu membuatnya sedikit salah tingkah. Membuat orang yang sedari memakan masakannya itu terlihat canggung. Iapun tak tahan lagi dengan rasa canggung yang ia buat sendiri. Hyun Yoo mulai angkat bicara ,

" K..kau tak makan? " , tanyanya pada namja itu. 

" Sudah. ." , angguk Jong Woon dengan tetap menampakkan senyumnya. Hyun Yoo menunduk ,menghindari senyum Jong Woon, dan mengalihkan pandangannya kembali ke mangkok berisi bubur itu. 

  " Karena aku sudah kenyang hanya dengan melihat wajah cantikmu yang melahap bubur buatanku" , ucap Jong Woon lirih tanpa sadar, tapi, masih terdengar oleh yeoja yang ada didepannya. 

" Mwo? " , Hyun Yoo tersentak tak mengerti , mendongak dan menatap namja itu seraya mengerutkan alisnya. Apa yang Jong Woon katakan barusan?

Jong Woon membelalakkan mata sipitnya itu tak percaya. " Tunggu! kenapa aku mengatakan itu padanya? Apa aku sudah gila? Arggh~ " , runtuknya dalam hati." Ne? Ahh. . A. . Ani . . Aniyo . Ehmm . . aku . .aku mau ke kamar mandi dlu. " , ucap Jong Woon salah tingkah sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.  

Hyun Yoo masih menatap kepergian Jong Woon tak percaya. Dia memiringkan kepalanya sejenak mencoba berpikir, kata-kata itu terus terulang di benak Hyun Yoo. Sepertinya , Hyun Yoo pernah mendengar kata-kata itu. Bayangan di masa lalu bersama Lee Donghae di Restaurant terakhir ia bertemu, tergambar di benaknya. Ya, benar, itu kata-kata yang hampir sama diucapkan oleh Lee Donghae dulu . " ahh. . . Ini hanya kebetulan, ya, kebetulan saja",  yakinnya pada dirinya sendiri.  Diapun menghentikan aktivitasnya. Kata-kata itu membuatnya tak berselera makan lagi.  Hyun Yoopun bergegas ke dapur mencuci mangkok bubur itu. Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali ke apartementnya. Karena ia tak ingin Jong Woon khawatir, Ia pun menuliskan note yang ia taruh di atas meja makan. 
                                                                 *********************
Jong Woon keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya di dalam sana. Ia menggosok-gosokkan rambut yang basah itu dengan handuk sambil berjalan ke arah dapur. Sesampainya di dapur , tepat di ruang makan, Jong Woon terkejut karena yeoja itu sudah tak ada. Rasa khawatir merambat di relung hatinya. " Kemana dia ?." , " Hyun Yoo-ah ! Hyun Yoo-ah! " , panggilnya beranjak ke kamar, tapi, di kamar juga tak ada. Dia kembali lagi ke meja makan. Di temukannya note kecil tergeletak di sana. 

Jong Woon-ah terima kasih atas semuanya.
 Saat kau membaca note ini, aku sudah kembali ke apartement. 
Jadi, Jangan khawatirkan aku, Aku ingin sendiri sekarang.
Hyun Yoo

" Huuft . . " Jong Woon menghela nafas pelan. Jong Woon menerawang ke depan. Harusnya Hyun Yoo tak menghadapi semuanya dengan sendiri. Itu malah akan membuat beban bagi dirinya. Dia masih punya sesorang untuk bersandar yaitu Jong Woon. Sebagai seorang sahabat, bukankah harus berbagi suka dan duka bersama? 

Suatu saat nanti, aku akan ungkapkan perasaanku . .
Tak peduli , kau menerimaku atau tidak. .
Aku tak ingin memendam terus perasaan ini . . 
Aku hanya ingin kau tahu , bahwa aku mencintaimu. .
Saranghaeyo Hyun Yoo-ah~ (Jong Woon)

SKIPP>>

                                                        ********************

  6 bulan kemudian . . .

Malam berganti siang, hari berganti hari , minggu berganti minggu ,hingga bulan berganti bulan  Hyun Yoo sudah mulai mencoba melupakan kepergian kekasihnya. Walau  perlu waktu lama untuk melupakan semua kenangan-kenangan masa lalunya. Jong Woon -- sahabat masa kecilnya selalu menemaninya dan menghiburnya. Seakan menyuruhnya Jangan melihat ke belakang , tetaplah lurus memandang ke depan . Tapi, sekeras apapun mecoba melupakan kenangan itu, sebuah kenangan tidak akan terhapus begitu saja. Itu yang dialami Hyun Yoo. Dia akan teringat kembali masa-masa lalunya jika ada seseorang yang mengingatkannya pada Lee Donghae. Dan itu membuat Hyun Yoo merasa sedih. Namun, Hyun Yoo tetap membiarkan kenangan itu hanya sebagai kenangan. Ya . . . hanya kenangan , Kenangan yang indah. 

Sikap Jong Woon yang selalu menghiburnya, membuat Hyun Yoo tertawa kembali dan memberikan perhatian padanya, membuat Hyun Yoo merasa sangat nyaman. Lebih dari Lee Donghae berikan dulu. Apalagi, sekarang Hyun Yoo merasa sangat aneh jika Jong Woon tak ada di sisinya. Seperti ada sesuatu yang hilang. Entahlah~ ia tak mengetahui perasaannya itu dengan jelas. 

Jong Woon Family's House

Semua keluarga Jong Woon berkumpul meja makan. Sepertinya ada suatu hal penting yang harus dibicarakan. 

" Suamiku, apa kau yakin Jong Woon akan menerima perjodohan ini?  Dia kan sudah besar , dia sudah punya selera tersendiri. Atau mungkin . .  dia juga sudah punya kekasih. " , terlihat eomma Jong Woon tak yakin dengan perjodohan yang suaminya lakukan.  

" Mau apa lagi, aku harus melaksanakan perjodohan ini. Ini akan membantu bisnis  kita , istriku. Kau tahu, bisnis kita semakin lama mengalami penurunan. Jika Jong Woon menerima perjodohan ini dengan anak rekan bisnisku, itu akan sangat membantu untuk meningkatkan investasi kita. " , papar Appa Jong Woon.

" Tapi suamiku . . " , sanggah eomma Jong Woon tak sampai melanjutkan perkataannya, suaminya menyela.

" Tenanglah, hal ini bisa aku atasi." Jawab Appa Jong Woon tenang sambil menyesap kopi, seakan tahu apa yang dikatakan istrinya selanjutnya.

Terlihat Jong Woon memasuki rumah, setelah dibukakan oleh pembantu. Ia langsung melenggangkan kaki ke dalam dan menuju ruang makan. Ini aneh sekali menurutnya. Ia tak mengerti kenapa ia mendadak harus disuruh pulang ke rumah dan diajak makan malam seperti ini. Dan ditambah lagi, Appanya yang sungguh sibuk dengan bisnisnya terlihat menyempatkan waktu untuk acara keluarga seperti ini. Jong Woon mengerutkan keningnya sejenak. Ia berharap akan menerima kabar baik. Iapun berjalan ke arah kursi samping eommanya. Menunduk memberi salam sejenak. Dan mulai duduk. Sedangkan dongsaengnya -- Kim Ahra , yang masih SMA, duduk di samping Appanya. 

" Ada apa appa dan eomma memanggilku untuk makan malam, ini sungguh aneh? " , tanyanya heran sambil menoleh bergantian ke arah eomma dan appa-nya , ketika menyebut kata -- Appa dan Eomma . 

" Jong Woon-ah, begini . . . langsung saja Appa jelaskan , aku menerima perjodohanmu dengan rekan bisnisku. " jelas Appa Jong Woon.

"Ne ? " , tanya Jong Woon tak mengerti apa yang dikatakan Appanya . Jong Woon masih terbelalak tak percaya. Apa ?! perjodohan? Apa maksudnya dengan perjodohan? Apa aku mau dijodohkan? aish, yang benar saja, batinnya dalam hati.

" Mak . . maksud Appa? " , lanjut Jong Woon tak percaya.

" Maksud `Appa . . .kau akan kujodohkan dengan anak perempuan rekan bisnisku, dan minggu depan kita akan berkumpul seperti ini dengan orang tua calon istrimu nanti. Setelah itu, menentukan tanggal pertunangan dan kemudian segera menentukan tanggal pernikahan " , papar Appa Jong Woon tenang , tapi, tegas dalam pengucapannya. 

" Huh! Jangan bercanda Appa , aku tak akan menerima perjodohan ini. ", ucap Jong Woon dengan smirknya.

" Kau harus ! "  

" Wae? Kenapa harus ? Apa Appa tak tahu . . . ? sudah ada yang mengisi hatiku. Dan aku bisa memilih calon istri yang cocok untukku. Aku bisa menentukan sendiri, Aku sudah dewasa, Appa! " Jong Woon sungguh tak mengerti tujuan Appanya kali ini. Eomma yang ada di sisinya terus menggenggam erat tangan Jong Woon di sampingnya. 

" Arra . . Aku tahu kau sudah dewasa dan bisa menentukan pilihanmu sendiri. Kau tahu, Appa terpaksa menerimanya karena bisnis kita sedang dilanda krisis kebangkrutan. Hutang  perusahaan semakin menumpuk. Jika hal itu, terjadi, perusahaan akan bangkrut dan siapa yang akan membiayai adikmu sekolah nanti , siapa yang akan membiayaimu kuliah dan memenuhi kebutuhan kita sehari-hari ? hem?! " , jelas Appa Jong Woon.

"  Appa !! " , Jong Woon berdiri dari kursinya, tak tahan lagi dengan sifat keras kepala Appanya. Eomma Jong Woon langsung memegang tangan Jong Woon, mengajaknya kembali duduk. 

" Pokoknya kau harus! Ini demi keluarga ini, Jong Woon. ", paksa Appa Jong Woon. 

" Tapi, kenapa harus perjodohan? bisa saja kita berinvestasi dengan rekan bisnis tanpa adanya perjodohan,kan ?! Ck, sungguh tak masuk akal!" , ucap Jong Woon kesal. Dia sungguh tak menginginkan perjodohan ini. Sungguh, tak habis pikir dengan apa yang Appa-nya kehendaki, Tidakkah Appanya mengerti sekali ini saja tentang perasaannya? Kenapa segala sesuatu yang Jong Woon lakukan harus ditentukan? Jurusan ditentukan , sekolah ditentukan, lalu, apa lagi? pendamping hidup juga ditentukan? Aishh . . Itu sungguh keterlaluan, batinnya. 

" Appa egois!! Aku tidak akan menyetujuinya sampai kapanpun!  Tak akan! " , Jong Woon tak tahan lagi berdebat dengan Appanya yang keras kepala dan egois itu. Dia memutuskan berdiri dan beranjak pergi dengan menyangklet tas dipundaknya. Tak memperdulikan teriakan Appanya yang memanggil-manggil namanya. Ia anggap sebagai angin lalu.

" Yakk! Jong Woon-ah!! dengarkan Appa dulu!!  Aishh! Anak itu, Tak sopan sekali ! " Teriak Appa Jong Woon yang tak digubris oleh anaknya. Lalu berdiri hendak menghentikan laju langkah Jong Woon . Tapi, sebelah tangan laki-laki itu tertahan oleh sebuah tangan. Dilihatnya, ternyata eomma Jong Woon menahannya. 

" Tenanglah , suamiku! Biarkan dia pergi dulu . . " ucap Eomma Jong Woon memegang lengan suaminya dan sesekali ia memberi ketenangan dengan mengusap-usap lembut.

" Tapi, istriku. . . " 

" Geure . . Kita bicarakan lagi nanti ,ne? Kau istirahatlah dulu . . Kau pasti lelah dengan semua masalah ini " , kata eomma Jong Woon menggandeng lengan suaminya. 

   ************************

At Night in Park Family's House

Seorang yeoja sedang berdiri di depan cermin panjang dalam kamarnya. Dia Park Hyo Jin. Yeoja berambut coklat panjang, sedikit curly dibagian bawah. Tampak ia sedang memasangkan pakaian, lebih tepatnya Dress yang cocok untuknya. Sedikit bingung untuk memilihnya. Sekian lama ia pilah-pilah Dress yang cocok untuknya. Ia putuskan untuk memilih Dress Syifon dengan lengan terbuka berwarna crream yang menampilkan lengan putih mulus yeoja itu.  Dengan hiasan bunga mawar di bagian dada kirinya. Raut bahagia tak lepas dari wajahnya. Bagaimana tidak, Ia akan dijodohkan keluarganya dengan seorang namja tampan bernama Kim Jong Woon. Namja yang ia kagumi sejak pertama kali ia menginjakkan kaki ke tempat perkuliahan. Ketika pertama kali bertemu, dia seperti melihat pangeran tampan yang ada di Dongeng Cinderella. Sungguh tampan.Walaupun ia satu mata kuliah dengan Jong Woon, ia tak berani untuk menyapa ataupun berkenalan dengannya. Dan sekarang, lihatlah! betapa bahagianya ia bisa dijodohkan dengan pangeran tampannya itu. Ia tahu memang. . kalau perjodohan ini karena Ayah Jong Woon ingin berinvestasi dengan ayahnya , yang notabene sebagai pengusaha yang mempunyai saham terbesar saat ini. Itu tak masalah, yang terpenting, ia memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan Jong Woon.

Setelah mengganti pakaiannya dengan Dress cantik. Dia memoles wajahnya natural dengan make-up lengkap yang ada di depan kaca riasnya. Dia harus terlihat cantik dan elegant didepan keluarga Kim terutama pada Jong Woon. 

" Cha~ Selesai ! Yeppo~ " , Park Hyo Jin tersenyum senang , memuji diri sendiri. 

Diapun melenggangkan kaki keluar kamar , menemui keluarganya yang menunggu dia dari tadi. 
" Wuahhh. . Yeppudaa anak appa~ ", ucap Tuan Park tersenyum senang , ketika anaknya menuruni tangga tingkat rumah mewah itu. Yang dipuji hanya tersenyum malu. 

" Sudah siap ? " , tanya eomma Hyo Jin. 

" Siap! Kajja! ", senyumnya senang sambil menggaet tangan eomma dan appanya.
                                   ***********************
Sampailah keluarga Park di sebuah Restaurant . Restaurant yang classic tapi, tetap menampilkan kemewahan restaurant itu. Di bagian dalam restaurant, dindingnya berwarna merah maroon gelap dengan motif bulat warna emas. Tidak banyak memang orang yang datang ke tempat itu. Maklumlah, hanya orang-orang yang berduit saja yang bisa ke situ, tak terkecuali keluarga Park. 

Ketika memasuki restaurant, terlihat keluarga Kim sedang menunggu kedatangan keluarga Park. Park Hyo Jin mencoba mencari sosok Jong Woon.Ia terlihat mengerutkan dahi, sosok yang ia cari tak ada. Apa dia tak menyetujui perjodohan ini? Hyo Jin terlihat sedikit murung. Tapi, setelah sampai didepan keluarga Kim, ia tunjukkan senyum elegantnya  dan mulai mengangguk memberi hormat pada keluarga Kim. Keluarga Kim pun mempersilahkan keluarga Park untuk duduk. 

" Apa kabar Tuan Kim? Apa kalian menunggu lama? " , ucap suara berat Tuan Park sambil membenarkan jasn dan duduknya. Sementara Hyo Jin dan eommanya duduk dengan elegantnya.

" Tidak,Tidak,kami baru saja tiba 1 menit yang lalu.",sanggah nada berat milik Tuan Kim. Tuan Park hanya mengangguk mengerti.

" Apa ini putrimu Tuan Park ?Neomu Neomu Yeppuda seperti ibunya. Pasti ibunya dulu mudanya secantik ini " puji Tuan Kim  ke Hyo Jin. Yang dipuji hanya mengangguk dengan senyum simpulnya, " Gamsahamnida. " ,ucap pelan yang masih bisa didengar oleh semua Tuan Kim.

" hahaha. . Ahh. . tidak putriku ini lebih mirip ayahnya. tapi, sifatnya itu yang sangat mirip denganku. "  , jawab Ny.Park menyangkalnya. 

" Ngomong-ngomong, apa putramu ini yang akan di jodohkan dengan putriku? "

" Ahhh . . tidak, ini putra bungsuku, Kim Jong Hyun, dia masih SMA. Yang akan kujodohkan dengan putrimu adalah Putraku yang pertama,  Kim Jong Woon. "

" Lantas,  kemana dia? ", tanya balik tuan Park dengan mengerutkan keningnya heran.

" Emhh . .i. .ituu. .Dia ada urusan sebentar. Sepertinya dia agak sedikit terlambat. Tapi,dia bilang akan menyusul segera. " , Jawab Tuan Kim agak gagap, karena kelakuan putranya yang terlambat dalam acara keluarga ini. 

Bukannya Jong Woon tidak sengaja terlambat, ia memang sengaja terlambat, karena ia ingin memikirkan ini terlebih dahulu. Memikirkan , apakah ini memang takdir yang harus ia jalani sesungguhnya? Menikahi orang yang tak ia cintai? Kalau benar, ia akan terima, walau banyak keraguan dalam dirinya. 

" Ohh . . " , Tuan Park mengangguk mengerti. Walau ia sedikit heran dengan kelakuan putra pertama Tuan Kim itu. Tapi, ia mencoba memakluminya ,mungkin ada urusan yang tak bisa ditunda, sehingga putra Tuan Kim sedikit terlambat untuk datang.

Keluarga Kim mencoba mengalihkan perhatiannya mengenai masalah Jong Woon yang tak datang tepat waktu. Tuan Kim terus mengobrol panjang, dan tak segan-segan bercanda dengan Tuan Park .Ny. Park ataupun Ny. Kim juga saling memuji satu sama lain. Kim Jong Hyun, sibuk memainkan games I-PHONE nya , tak berniat mendengar percakapan kedua orang tua itu. Sementara  Hyo Jin sedari tadi tak berkonsentrasi pada percakapan antara orang tua paruh baya ini. Dia memikirkan Jong Woon. Dia takut , kalau Jong Woon tak menerima perjodohan ini. Apalagi , setahunya, Jong Woon dekat dengan Hyun Yoo. Tapi, ia tak tahu sedekat apa Jong Woon dengan Hyun Yoo. Hyo Jin menundukkan sedikit kepalanya. Dalam hati, ia berharap Jong Woon datang ke perjodohan ini.

" Jeoseonghamnida , aku terlambat. "  , terdengar suara seorang namja. Seketika Hyo Jin mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu. Jantung seketika berhenti berdetak. Ia tak percaya siapa yang ia lihat saat ini. Seketika , terlintas senyum manis di bibir Hyo Jin.

Jong Woon Oppa
Pangeran tampanku yang aku idam-idamkan,
Yang sebentar lagi akan menjadi suamiku?
Ini sungguh mimpi yang sungguh-sungguh nyata. 
BUKAN. . BUKAN MIMPI. .INI NYATA. . 

" Ohh, ini putramu? Wah, tampan seperti ayahnya. Duduklah,nak! " , ucap Tuan Park dengan ramah mempersilahkan. Jong Woon mulai duduk di samping adiknya, tepat di depan Hyo Jin. Hyo Jin tak melepaskan pandangan kagumnya pada Jong Woon, ia terus mengikuti pergerakan Jong Woon. 

" A . . Anyeonghaseyo ." , sapa Hyo Jin gugup pada namja tampan dihadapannya . Tapi yang disapa hanya mengangguk acuh. Hyo Jin hanya tersenyum kecut mendapat perlakuan tersebut. Sementara, Tn. Kim berdecak kesal. "Sungguh tak ramah sekali ", gumamnya. Rasanya ingin ia jitak kepala anaknya itu. Jong Woon yang tahu Appanya saat ini memandang kesal, sejurus kemudian mengalihkan pandangannya malas ke yeoja di hadapannya. 

Jadi ini yeoja yang dijodohkan denganku,
Sepertinya aku pernah melihatnya,
Entahlah, mungkin hanya imajinasiku saja,

         Sedangkan yang ditatap, sedikit salah tingkah dan tersipu malu. Terlihat semburat merah di pipi tirusnya. Hyo Jinpun sedikit menyembunyikan mukanya , tak menatap Jong Woon. Jika ia menatapnya , mungkin ia akan pingsan seketika. Apalagi, tatapan Jong Woon yang terkenal di kalangan wanita, sebagai tatapan Ddang- Charisma, yang bisa membuat para wanita yang melihatnya akan meleleh seketika. Melihat orang yang dilihatnya tersipu malu, ia tersenyum geli akan hal itu. Dan mulai mengalihkan pandangannya malas ke arah sekeliling. 

" Ok, semuanya sudah berkumpul. Kapan kita melangsungkan pernikahan? " , tanya Tuan Kim. 
" Secepatnya , lebih baik. " , Jawab Tuan Park.

" Bagaimana kalau pernikahannya kita laksanakan 2 bulan lagi, sedangkan pertunangannya kita laksanakan minggu depan . . ?" , ucap Tuan Kim memberi usul.

" Baiklah, aku setuju, bagaimana Hyo Jin?", tanya Tuan Park pada Park Hyo Jin.

" Ne , aku setuju setuju saja Appa ", Hyo Jin hanya mengangguk pelan, dengan senyum yang merekah di bibirnya. " Ck! yeoja ini . ." , decak Jong Woon kesal dengan senyum smirknya menatap Hyo Jin.

" Kalau kau ,nak Jong Woon? ", tanya Tuan Park pada Jong Woon.

" Eoh? Terserah.", jawab  Jong Woon singkat dengan menghadapkan wajah malas pada Tuan Park. "Aissh , Kau!", gumam Tn. Kim menahan emosi, Tn.Kim menatap kesal pada Jong Woon saat mendengar putranya menjawab dengan tingkah acuhnya itu. Tuan. Kim yang tak enak hati hanya tersenyum ngambang pada Tuan Park. Sesaat kemudian,  ponsel Jong Woon bergetar, iapun mengambil ponsel itu dari sakunya. Dilihatnya siapa orang yang menghubunginya saat ini. " Hyun Yoo-ah?? " , gumamnya. Jong Woonpun meminta izin untuk pergi ke toilet pada semua orang di tempat itu. Hyo Jin mendongak , menatap Jong Woon yang mulai berdiri dan pergi ke toilet. Sepertinya ia mendapatkan telepon dari seseorang, yang entah Hyo Jin tak tahu itu siapa . Hyo Jin yang penasaran hanya bisa memandang Jong Woon pergi. Sesampainya di toilet, Jong Woon menekan tombol hijau pada ponsel touch creennya. 

" Ne? Yeobesse . . " , terdengar suara yeoja yang sedang terengah-engah dibalik ponsel Jong Woon. Jong Woon yang bingung mengernyitkan dahi. 

" Jonghh . . Jong Woon-ah , ahk. . ahhk . .akk. .kuuh takut . . Ak..kuuhh. .hiks! hiks! hiks! .", Jong Woon sedikit membelalakkan mata sipitnya. Di seberang sana, terdengar suara isakan-isakan . Sepertinya Hyun Yoo menangis. Tapi, kenapa? Jong Woon semakin khawatir dibuatnya. 

" Yaak! Wae??!! " , terlihat raut cemas di wajah Jong Woon.

" Hiks. .Hiks . Akkuhh . .akhh. .khuhhh. .hiks. .hiks. .", suara yeoja itu mulai melemah.
" Ya! Neo Eoddisseo?!! ", Jong Woon semakin panik dengan keadaan yeoja yang menelponnya saat ini. 

" Jong Woon-ahh. . " jawab yeoja itu semakin melemah dan pelan. Sesaat kemudian tak ada suara dan isakan lagi , melainkan suara gemeretak, seperti suara ponsel jatuh. Jong Woon semakin panik, Iapun melangkahkan kakinya kasar dan sedikit berlari, keluar dari restaurant itu tak memperdulikan keluarganya yang saat ini melongo melihat kepergian Jong Woon ,yang sama sekali tak memberi salam pada mereka terutama pada Hyo Jin. Hyo Jin mendengus napas kasar. Hyo Jin kecewa , sedikit kesal pada namja itu, ia sungguh tak menyangka namja yang ia sukai begitu cuek dan tak ramah.Inikah sifatnya?  Ia memandang kosong lurus ke depan dan sejurus kemudian terukir senyum smirk di bibirnya.

Jong Woon Oppa,
Aku tahu kau tak menyukaiku,
Tapi, suatu saat nanti kau harus menjadi milikku, HARUS!

                                            *******************************

TempeBacemCabe

Fiyuuhh . . Akhirnya sesai juga Chapter 3 nya , Meski agak geje, and ada cast baru, tapi, moga kalian suka. Kritik dan saran selalu aku terima, tapi, jangan pedes-pedes ye, aku gak betah pedes, soalnya . . Salam BanillAvrilya!!

Senin, 29 April 2013

CRUSH -- Chapter 2

Judul : Crush 
Author : Choi Hyuk Ra (Rentika)
Genre : Romance , Hurt.
Inspired from  : Song of Sandeul - Crush
Cast : Song Hyun Yoo as You
         Yesung as Kim Jong Woon
          Donghae as Lee Donghae
Other Cast : Ny. Lee as  Eomma Donghae
Cuap-cuap Author : Part ini agak panjang , and Mianhae FF sebelumnya banyak yang salah. Banyak typo-typo bertebaran kemana-mana, apalagi alurnya di part 1 kecepetan. Saran dan kritik selalu hamba terima dengan senang hati, untuk membuat karya ini lebih baik #BOW# Lets Fly!




*Story begin


"Bertahanlah Donghae-ah!!",  Jong Woon terus meneriaki Lee Donghae, menggoyang-goyangkan badan Lee Donghae, berharap tindakannya itu bisa membangunkan Lee Donghae, sahabatnya yang saat ini terbaring lemah di kasur dorong (?) rumah sakit. Dengan panik, ia ikuti arah kemana perawat-perawat itu mendorong Lee Donghae yang berlumuran darah di pelipis dan tangannya saat ini. Hingga tiba di depan pintu ruang ICU , Jong Woon berhenti, menatap Lee Donghae yang semakin tak terjangkau dari pandangannya, masuk dalam ruangan itu. Jong Woon berdiri khawatir , saling memautkan jemarinya dan meremasnya. "Lee Donghae, bertahanlah!", lirih Jong Woon. Keringat mulai tampak di pelipis Jong Woon, raut cemas terlukis di wajahnya. Sejurus kemudian ia ambil benda hitam yang ada di sakunya. Ia harus menghubungi ibu Lee Donghae. Jong Woonpun  mulai mencari nomor ibu Lee Donghae di kontaknya.  Ibu Lee Donghae yang sudah Jong Woon anggap sebagai ibunya sendiri. Dan sebaliknya. Jong Woon yang sudah ibu Lee Donghae anggap sebagai anaknya sendiri. Sedikit ragu untuk menekan tombol call. Tapi, ia beranikan diri. Ia harus memberitahukan keadaan Lee Donghae pada eommanya.


"Yeobeoseyo . . " terdengar suara eomma Lee Donghae.


"Yeobeoseyo . . ige Jong Woon ,eomma" jawab Jong Woon.


" Waeyo Jong Woon-ah?" , tanya eomma Donghae.


" Emm . . Lee Donghae eomma . . Dia kecelakaan, dan . . . sekarang dia ada di rumah sakit." jawab Jong Woon kemudian.


" MWO?!! Aigooo~~~ " Ibu Lee Donghae kaget , tak percaya apa yang di dengarnya. Ibu Lee Donghae begitu shock. Ia memegang kepalanya yang saat ini berdenyut. Membuat telpon yang semula di telinganya, terjatuh dan tergelantug bebas di meja. Dan .....


tutt....tutt...tutt...


"Yeobeoseyo! Yeobeoseyo!"  Jong Woon mengerutkan dahinya. Kenapa telponnya mendadak diputus? Semoga ibu Lee Donghae segera ke tempatnya sekarang. Itu yang Jong Woon inginkan. Jong Woon masih cemas. Uisanim belum tanpak dari balik ruang itu, keluar memberi penjelasan. Cukup lama Jong Woon menunggu kabar dari dokter yang menangani Lee Donghae depan ruang ICU. Rasa khawatir terus menerus menggelayut di pikirannya. Ada rasa tak enak yang Jong Woon rasakan. Seperti firasat buruk. Entahlah~ semoga tak terjadi apa-apa, Jong Woon terus berpikir positif. Tak lama, ibu Lee Donghae datang dengan raut yang lebih cemas dari raut Jong Woon saat ini. Sedikit terengah-engah menghampiri Jong Woon. 


"Jong Woon-ah, Lee Donghae eodisseo? . . . eodisseo?" tanya ibu Lee Donghae dengan suara lemahnya dan sedikit terengah akibat berlari menemui Jong Woon. 


" Tenang eomma. . dia sedang dalam ruang ICU. ", Jong Woon menenangkan ibu Lee Donghae yang sangat khawatir itu. Merangkul pundak eomma Donghae sopan dan mengusap-usapnya untuk memberi ketenangan. 


Tak lama kemudian, keluarlah uisanim yang menangani Lee Donghae. Ibu Lee Donghae langsung menghampiri uisanim. Jong Woon mengikuti arah ibu Lee Donghae di belakangnya. 


"Bagaimana dengan anakku ,uisa? " tanya Ibu Lee Donghae menggoyang-goyangkan lengan baju uisanim. Tampak raut khawatir terlukid dalam wajah yeoja paruh baya itu. Si uisa yang ditarik lengan bajunya itu terlihat sedikit menunduk , terdiam sebentar dan kemudian menatap kembali wajah ibu Lee Donghae yang menanti jawaban dari uisa. 


" Jeoseonghamnida, kami sudah berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan nyawa anak , ibu. Tapi, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Anak ibu telah meninggal. Dan sekali lagi kami minta maaf. " ucap uisanim.


JLEB! Apa yang dikatakan uisa? Lee Donghae sudah pergi? Jantung Jong Woon serasa berhenti berdetak. Jong Woon terdiam. Sedikit mencerna apa yang di katakan oleh uisa. Sedetik kemudian , muncul pemikiran,  Apa ia harus senang karena ada peluang ia bisa mendapatkan Hyun Yoo? ataukah dia sedih karena sahabatnya telah pergi?  Seketika ia teringat Hyun Yoo, yang merupakan pacar dari sahabatnya --- Lee Donghae.  Bagaimana caranya memberitahu Hyun Yoo? Dia tak sanggup jika harus memberitahu Hyun Yoo tentang apa yang terjadi sekarang --- Lee Donghae telah pergi untuk selamanya? Akankah Hyun Yoo percaya jika Lee Donghae sudah pergi? Lagi pula dia tidak ingin melihat air mata Hyun Yoo --- sahabat yang ia cintai, jatuh, ketika mendengarkan kabar ini. Dia tak akan tahan melihat air mata seorang yeoja yang ia cintai itu meluncur begitu saja. Dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya nanti dan luka yang akan ditimbulkan. Pasti Hyun Yoo sangat terpukul. 


" Ini tidak mungkin,kan uisa??!! kau pasti bohong! kau bohong!" , teriak Ibu Lee Donghae yang terus mengguncang lengan uisa. 


" Maaf, bu . . kami sudah berusaha." ucap uisa itu menunduk.


" LEE DONGHAE-AHHH.... ANAKKU.... HAAA..HUHU.. ANAKKU..." teriak yeoja paruh baya itu memukul-mukul dadanya. Seperti ada hantaman yang sangat keras dirasa oleh Ny. Lee di dadanya saat ini. Kaki Ny.Lee terasa sangat lemas sekarang, serasa lumpuh , tak ada daya untuknya berlama-lama berdiri. Ny.Lee benar-benar terpukul. 


Yeoja paruh baya --- Ibu Lee Donghaepun tersungkur,duduk di lantai,memengang dadanya. Yang dirasa saat ini sesak. Ia tak percaya apa yang ia dengarkan. Dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Air mata meluncur deras di kulit keriputnya. Bukan sekedar isakan, tapi, tangis yang sedikit teriakan. Ia memanggil nama Lee Donghae di sela-sela tangisnya itu. Melihat itu, Jong Woon berjongkok, merangkul pundak ibu Lee Donghae. Jong Woon mengerti perasaan yang dirasakan yeoja ini sekarang. Dia memaklumi karena Lee Donghae merupakan anak satu-satunya Ny.Lee. Apalagi Ia telah ditinggal oleh suaminya karena suatu penyakit ganas --- kanker otak 5 tahun lalu. Penyakit yang sama seperti Lee Donghae idapkan. Hanya Lee Donghaelah satu-satunya yang Ny.Lee punya. Tapi, apa daya Tuhan telah mengambilnya. Bagaimana dia bisa hidup? Itu pasti yang ada di benak Ny.Lee. Jong Woon terus mencoba memberi ketenangan. Tapi, ibu Lee Donghae tak henti-hentinya menangis. Sepertinya ia ingin sekali mengeluarkan air yang ada di matanya itu hingga tak ada yang tersisa. Hingga pada akhirnya, dirasa pandangan Ny.Lee tiba-tiba kabur dan sejurus kemudian Ny. Lee pingsan di pangkuan Jong Woon.


SKIP>>


                     ********************

Di tempat lain, Hyun Yoo sedang menunggu Lee Donghae di sebuah restaurant favorit mereka. Tampak saat ini, Hyun Yoo menggigit bibir bawahnya, melihat jam tangan kecilnya dan mendengus kesal. Bagaimana tidak, restauran yang tadinya ramai di kunjungi oleh beberapa pengunjung. Sekarang tinggal dirinyalah yang tetap bertahan disitu. Hanya karena menunggu pangeran tampannya datang. Sungguh kesal memang.  "Namja yang tak menepati janji! ", kesalnya dalam hati. Hyun Yoo tak henti-hentinya mengembuskan nafas kesal. Haruskah ia pergi dari restaurant ini ? Jika pergi ia takut kalau namja yang ia cintai itu akan kecewa. Tapi, dia sudah menunggu namja itu hampir 1 jam. Bayangkan 1 jam!! . Tidakkah itu membuat bokong Hyun Yoo saat ini terasa panas. Sepercik kekhawatiran tiba-tiba muncul dari balik hatinya, apakah terjadi sesuatu dengan Lee Donghae saat ini. Kenapa ia tak menemuinya? "Chagiya, kau tidak apa-apa kan?" , tanyanya dalam hati. Entahlah~ hatinya kalut saat ini. Saat sibuk dengan kekalutan hatinya. Pelayan restaurant kemudian menghampiri yeoja yang saat ini sedang duduk menopang dagu dengan sebelah tangannya.

"Maaf Nunna , apakah anda tidak pulang? hari sudah semakin larut ,nunna. Restaurant kami akan segera tutup." , tanya pelayan restaurant pada Hyun Yoo sopan.


" Bolehkah aku menunggu di sini sebentar lagi? Setelah itu, aku akan segera pergi " , pinta Hyun Yoo pada pelayan itu dengan tersenyum tipis. 


"Baiklah nunna, tapi hanya sebentar. Kalau begitu saya Permisi." Jawab pealayan itu mengangguk dan melenggang pergi.


"Ne, Gamsahamnida." ,Hyun Yoo mengangguk berterima kasih dengan masih menunjukkan senyum mirisnya itu. 


Genap sudah, 2 jam dia menunggu namja yang bernama Lee Donghae itu. Tapi, namja yang Hyun Yoo tunggu itu tak kunjung datang. Hingga akhirnya dia memutuskan pulang kembali ke apartementnya dengan raut muram. Terlihat juga sepercik kekhawatiran dari raut muramnya itu. Dia takut terjadi sesuatu pada Lee Donghae. Tapi, dia berusaha untuk berpikir positif. Dia berharap semoga tidak terjadi apa-apa padanya. 


Sesampainya di apartement, setelah Hyun Yoo selesai menekan password pintu apartementnya. Hyun Yoo bergegas mandi dan mengganti dress yang sedang ia kenakan itu dengan piyama tidurnya. Kemudian merebahkan diri di tempat tidurnya. Memandang langit-langit kamar berwarna creamnya itu.  Pikirannya saat ini tertuju terus pada Lee Donghae. Apa yang terjadi pada Lee Donghae? Kenapa Lee Donghae tak menemuinya? Apakah memang terjadi sesuatu pada Lee Donghae? . Pertanyaan itu terus muncul dalam pikirannya saat ini. Tak lama kemudian, ada niatan dari hatinya untuk menelpon Donghae. Diambilah ponsel yang terletak di meja samping tempat tidurnya dan memencet angka 1 untuk panggilan cepatnya. Lalu, sebelah tangannya terangkat, menempelkan benda hitam itu ke telinganya. 


tutt...tutt..tutt... Nomer yang anda tuju tidak aktif~


Rasa khawatir yang Hyun Yoo rasakan semakin bertambah saja tatkala ponsel Donghae tak aktif. Hyun Yoo tampak menggigit jarinya khawatir. Dia terus mencoba lagi menghubungi namja itu. Tapi, hasilnya nihil. Ponsel Donghae sepertinya memang tak aktif. Apa yang terjadi dengannya? Biasanya, Donghae  tak pernah mematikan ponselnya seperti ini.  Bila ada urusan yang menyebabkan Donghae tidak bisa menemuinya, pasti Donghae akan memberi kabar pada Hyun Yoo. Hyun Yoo menghembuskan nafas kasar. Hatinya masih bergemuruh tak enak. Tiba-tiba , rasa kantuk mulai melanda. Dan sejurus kemudian, mata Hyun Yoo sayu-sayu mulai menutup. Dan diapun mulai tertidur di sofanya dengan posisi berbaring dan masih memegang ponsel di dadanya. 


                        *******************

Raja siang mulai kembali dari tempat peristirahatannya. Membangunkan orang-orang dari tidur panjangnya setelah melakukan aktivitas pada malam hari yang begitu melelahkan. Terutama yeoja yang saat ini masih sibuk dengan alam mimpinya. Sinar matahari mulai menerpa celah-celah gorden kamarnya. Tapi, tak membuat si empunya terusik. Hingga akhirnya alarm milik Hyun Yoo mulai berdering.

Hyun Yoo-ah~ Chagi~ Ireona, jebal!

Hyun Yoo-ah~ Chagi~ Ireona, Jebal!

Terdengar suara Donghae dalam alarm itu , membangunkan Hyun Yoo yang masih sibuk dengan alam bawah sadarnya. Sebuah alarm bentuk panda yang lucu dengan memangku tulisan "saranghae" di perut panda itu. Alarm yang dihadiahkan oleh Donghae saat Hyun Yoo berulang tahun. Suara dalam alarm panda itu memang suara yang sengaja Donghae rekam untuk mebangunkan yeojanya itu. 


Alarm milik Hyun Yoo terus saja berbunyi, tapi, yeoja itu hanya menggeliat kecil . Tak lama, akhirnya Hyun Yoo memaksakan untuk membuka matanya yang masih terasa berat itu. Matanya yang sebenarnya terus mendorongnya untuk tidur lagi. Tapi, ia pasakan tubuhnya itu untuk bangun. Dengan malas, ia dudukan badanya bersandar pada tempat tidurnya. Tampak, yeoja itu mengucek matanya sesekali, memperjelas penglihatan yang buram akibat efek dari tidurnya tadi. Setelah itu kakinya mulai menuruni tempat tidurnya. Lalu, menyeret kaki ke kamar mandi dengan sedikit gontai. 


Pagi ini dia memang berniat ingin pergi ke rumah Lee Donghae .Rumah seorang namja yang terus ia khawatirkan. Dia juga ingin meminta penjelasan tentang ketidakhadirannya ke restaurant. Tak dipungkiri , jika ia tak melihat Lee Donghae 1 jampun lamanya, dia pasti akan mengkhawatirkan sosok itu. Rasanya Hyun Yoo seperti kehilangan separuh jiwanya . Tapi, sebelum Hyun Yoo ke rumah Donghae, Hyun Yoo akan menemui sahabatnya dulu ----- Kim Jong Woon , karena memang ia tak tau persis kediaman Lee Donghae berada. Kim Jong Woonlah yang  tau , karena dia teman akrab kampusnya. Kediaman Jong Woon cukup dekat dengan apartement Hyun Yoo. Jadi, mungkin dia akan berjalan kaki saja untuk menemui sahabat baiknya itu.


Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian yang nyaman baginya. Memakai pakaian yang simple , dan tetap menampilkan pesona seorang yeoja berambut pendek , bernama Hyun Yoo itu. Apalagi ,walaupun Hyun Yoo tak memakai make-up sekalipun. Dia masih terlihat cantik natural. Beruntung sekali memang seorang Lee Donghae mendapatkan yeoja sepertinya.  Selesai dengan urusan itu, sebelah tangannya kemudian mengambil tas kecil favoritnya , menentengnya, seraya melenggangkan kaki keluar apartementnya. 


                        *******************

Kim Jong Woon Apartement. .
Terlihat seorang namja tampan, dengan rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan. Rambut yang sedikit acak-acakan itu tak membuat ketampanan seorang Kim Jong Woon luntur seketika. Saat ini, ia sedang berdiri memandang pemandangan luar dari balik balkon apartementnya. Memandang hilir mudik kendaraan di kota Seoul yang sibuk dengan aktivitasnya. Tampak di tangan kanannya tergenggam sebuah ponsel. Entah apa yang akan dilakukan dengan ponsel itu. Tak lama kemudian, tangan kanannya itu mulai terangkat. Ia hendak memencet sebuah nama yang tertera disana. "Hyun Yoo Nae sarang", itulah nama yang saat ini tertera di ponsel Jong Woon. Sepertinya Jong Woon ingin menghubungi Hyun Yoo. Ya, dia memang berniat menelpon Hyun Yoo. Ada yang harus dibicarakannya. Tapi, saat ingin menekan tombol call, ada sedikit keraguan dalam dirinya. Haruskah ia melakukannya? Ia hembuskan nafasnya pelan. Dan meletakkan kembali ponsel yang sebelumnya terangkat, dan sekarang menggantung di genggaman tangan kanannya. Diurungkannya niat untuk menghubungi Hyun Yoo.

Hyun Yoo-ah ,

Jika aku memberitahumu ,apakah kau akan percaya padaku?
Memberitahu bahwa namja yang kau cintai ---- Lee Donghae sudah pergi,
Tapi, bisakah setelah itu kau melupakannya dan melihatku?
Melihat ketulusan cintaku? 
Jika itupun kau tak bisa , 
aku akan menunggumu. . Song Hyun Yoo-ah~

Tteett... tteet...  


Suara bel apartement Jong Woon berbunyi. Menandakan akan ada seorang tamu yang akan bertamu di rumahnya. Hal itu seketika membuat si pemilik apartement sedikit tersentak akibat suara bel itu. Membuyarkan lamunan dan renungannya tadi. Segera ia melangkahkan kakinya ke arah pintu apartementnya. Menggapai knop pintu tersebut dan membukanya. 


CKLEK~


"Hyun Yoo-ah~" , Jong Woon sedikit tersentak, bagaimana tidak? orang yang sedari tadi ia pikirkan, datang ke rumahnya. Apa dia ingin menanyakan tentang Lee Donghae?Entahlah~ tapi, mungkin iya. Terlihat dari raut khawatir yang Hyun Yoo pancarkan dari wajah cantiknya itu. Lingkaran hitam di mata Hyun Yoo ,juga menggambarkan kalau semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan Lee Donghae. 


"Waeyo? Wae kau kaget seperti itu ? seperti aku ini hantu saja." , Hyun Yoo mengerutkan dahinya heran akan sikap sahabat yang ada didepannya ini dan masih menampakkan wajah polos lemahnya.


"A..A..Anniyo . . Masuk dan duduklah ,akan kubuatkan kau minuman dulu.", sambut Jong Woon mengalihkan keterkagetannya tadi. Hyun Yoo menyeret badanya ke sofa apartement Jong Woon. Mendudukkan badannya, melepas semua beban yang ada. Sesekali Hyun Yoo menunduk dan mengalihkan pandangannya ke arah kaca  bening apartement Jong Woon yang langsung  mengarah pada pemandangan kota Seoul. Lalu, menghembuskan nafasnya berat. Hatinya saat ini masih terasa tak enak. Itu karena Lee Donghae tak memberikan kabar padanya setelah kejadian di restaurant itu. Dirasa sofa, tempat Hyun Yoo duduki sedikit menurun , lantas membuat Hyun Yoo menoleh ke arah samping. Tepat, saat ini Jong Woon sedang duduk di sampingnya dengan membawa sebuah gelas. 


"Ige . .  " Hyun Yoo menerima gelas yang berisi minuman yang Jong Woon sodorkan padanya . Hyun Yoo tak langsung meminumnya. Ia genggam gelas itu dipangkuannya dengan kedua tangannya. " Eoh? Gomawo " , ucap Hyun Yoo kemudian dan mengembangkan senyum tipisnya. Jong Woon membalasnya dengan senyum simpulnya. Hening seketika. Jong Woon menunduk , menelusuri pikirannya  sendiri.


" Jong Woon-ah ~ " Jong Woon menoleh setelah Hyun Yoo memulai membuka suaranya " Aku kemari untuk meminta kau membantuku ... memberitahuku tempat rumah Lee Donghae berada. . . Kau tahu? aku sekarang ini mencemaskannya. . Dia tak mengabari semenjak aku menunggunya di restaurant untuk kencan kami . . Aku sungguh takut terjadi apa-apa dengannya , sunggguh! Kau kan sahabat di kampusnya . . Apa kau tak mengetahui kabar tentangnya? " . Jong Woon tak bisa menjawab . Jong Woon menatap mata Hyun Yoo lekat. Ia melihat di mata Hyun Yoo , seperti terpatri tentang Lee Donghae dan Lee Donghae. Sekhawatir itukah kau pada Lee Donghae, Hyun Yoo-ah? Apa ia harus memberitahukannya sekarang. Di satu sisi , dia harus memberitahukannya. Tapi, di sisi lain ia tak tega. 

" Emm . . tentang Lee Donghae . . " Jong Woon sedikit menundukkan kepalanya. Merasa tak tega untuk mengatakannya.

"Wae geure? Ada apa dengan Lee Donghae? Apa memang terjadi sesuatu padanya, Jong Woon-ah?" , ucap Hyun Yoo penasaran dengan sederet pertanyaan menghujami Jong Woon. Hyun Yoo memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Jong Woon yang sedikit tertunduk. Tapi, Jong Woon masih berat untuk mengatakannya. " Katakanlah~" , paksa Hyun Yoo menggoyang-goyangkan lengan Jong Woon dan masih memiringkan wajahnya , guna melihat ekspresi wajah Jong Woon di sampingnya saat ini. Jong Woon menghela nafas berat sebelum memberanikan berkata pada yeoja ini.


" Dong .. Donghae . . . Donghae meninggal , Hyun Yoo-ah " , ucap Jong Woon sedikit terbata-bata dan kembali menatap yeoja yang ada di sampingnya ini.Tangan Jong Woon kemudian terangkat memegang kedua bahu Hyun Yoo. Memberikan keyakinan, bahwa ucapannya memang benar. 


DEG! Jantung Hyun Yoo seakan-akan berhenti berdetak. Itu tak mungkin! Kenapa kau mengatakan hal yang tak lucu itu, Jong Woon-ah! , batinnya. Apa benar kekhawatirannya dan ketakenakan hatinya ini, memang benar adanya? bahwa memang terjadi sesuatu pada Lee Donghae? Hyun Yoo menatap wajah Jong Woon lekat, melihat kepastian dari ucapanya lewat mata intensnya. Tapi, tak ada. Sepertinya tak ada kebohongan di balik mata Jong Woon yang menatapnya kini. Ia menggeleng-geleng kepalanya pelan. Tak benar! Itu tak benar! , runtuknya terus menyangkal itu semua. Kemudian ia menghempaskan tangan Jong Woon yang sedari tadi memegang kedua bahunya. Dan memalingkan wajahnya, menghindari tatap mata dengan Jong Woon. Matanya mulai terasa panas. Ia tak ingin terlihat lemah dihadapan namja ini. Hyun Yoo hembuskan nafasnya kasar dan mulai tertawa miris. Padahal tak ada sesuatu yang lucu saat ini.


" Hahaha.. ya, kau pasti bercanda. Itu tak mungkin Jong Woon-ah. Tak mungkin! " ,ucap Hyun Yoo yang masih menatap ke arah depan dan menggeleng-geleng kepalanya. Menyangkal apa yang dikatakan Jong Woon. Menyangkal pernyataan yang sebetulnya adalah kebenaran. Ia tak bisa menerima ini begitu saja. Namja yang ia cintai telah meninggal? Tidak! Tidak Benar!, runtuk Hyun Yoo dalam hati.


" Itu benar, Hyun Yoo-ah ~ Lee Donghae telah .... " belum ia selesai menjelaskan, Hyun Yoo buru-buru menyela. Ia tak tahan lagi mendengar kata " meninggal " . Kata itu seperti pisau yang siap sedia menusuknya dan mencabik-cabik hatinya. 


" Cukup!! Jong Woon-ah! aku tak percaya padamu! Leluconmu sungguh tak lucu sekarang !! " ,sangkal Hyun Yoo yang masih tak percaya. Ia mulai menatap Jong Woon tajam dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. 


"Tapi...."  


" Geumanhae !! Jong Woon ! Geumanhae !! Aku membencimu!" , Hyun Yoo berdiri dan beranjak ingin pergi. Menyangklet tasnya kembali. Dan mulai melangkahkan kakinya pergi. 


Sementara Jong Woon terdiam terpaku menatap kepergian Hyun Yoo. Tidak Hyun Yoo! Kau jangan membenciku! Akan ku buktikan padamu! , runtuknya dalam hati dan bergegas mengejar Hyun Yoo sebelum menggapai knop pintu apartementnya. Saat Hyun Yoo telah menggapai knop pintu apartement Jong Woon. Sebuah tangan, tiba-tiba menghalangi niatnya untuk membuka knop pintu itu. Ya, saat ini Jong Woon menarik tangan Hyun Yoo, memaksa untuk membalikkan badannya, menghadap namja itu, menatap mata sayu tajam seorang Jong Woon. " Kajima! Geure!! Jika kau tak mempercayaiku. Akan ku antarkan kau menemuinya! Kajja!". Tarikan Jong Woon yang kuat, membuat yeoja itu sedikit meringis kesakitan. Jong Woon menggeret Hyun Yoo keluar apartementnya dengan paksa. Langkah Jong Woon yang lebar , memaksa yeoja itu mengikuti namja itu dengan sedikit berlari. 


" Lepaskan! Sakit Jong Woon-ah! Aku bisa berjalan sendiri. "Hyun Yoo mencoba melepaskan tangan Jong Woon yang sedari tadi memegang tangannya dengan kuat.  Tapi, tenaga Jong Woon lebih kuat darinya. Akhirnya ,iapun menurut saja arah Jong Woon menariknya pergi. 


"Masuklah!" Jong Woon membukakan pintu mobil yang diparkir di basement bawah apartement. Hyun Yoo menuruti saja apa yang dikatakan sahabatnya itu. Jong Woon juga mulai masuk dan duduk disisi mobil. Kemudian iapun mulai melajukan mobilnya. 


Selama perjalanan , Hyun Yoo terus memandang jalanan di samping kaca jendela mobil. Hyun Yoo merasa semua yang dikatakan Jong Woon itu bohong. Itu tidak benar. Kenapa Jong Woon harus berbohong padanya seperti itu? Mengatakan bahwa Donghae meninggal? Apa dia akan percaya? Atau Jong Woon mengatakan itu karena dia menyukainya? Meskipun begitu, Hyun Yoo akan tetap menganggapnya sebagai sahabat , tak lebih. Hyun Yoo hening dengan semua pemikirannya dan perkiraannya itu. Sementara Jong Woon melirik yeoja disampingnya yang sedari tadi diam. Dia penasaran apa yang dipikirannya. Jong Woon kemudian menfokuskan diri dengan jalan yang dihadapannya. Suasana masih hening. 


Sesampainya di tempat tujuan, Hyun Yoo begitu bingung , itu terlihat dari dahi Hyun Yoo yang mulai mengkerut , " Tempat apa ini? Kenapa dia membawaku ke sini? " ,tanyanya dalam hati, bingung apa yang dilakukan sahabatnya ini, membawa ke tempat ini , apa maksudnya? Hyun Yoo yang penasaran, memulai pembicaraan, menanyakan tentang keingintahuannya ini, " Igo, Eodisseo? Ini bukan rumah Lee Donghae, Jong Woon-ah, ini tempat pemakaman!!"


"Huh~ Ini sungguh tak lucu, Jong Woon-ah" dengan sedikit smirk Hyun Yoo dan melirik Jong Woon dari ekor matanya. Cepat antar aku ke rumahnya sekarang! " Jong Woon diam. "Apa kau mendengarku? " , ucap Hyun Yoo lagi. Jong Woon hanya diam , sejurus kemudian dia keluar dari mobil dan beranjak membuka pintu samping mobil tempat Hyun Yoo duduk. " Ikut aku ! " , perintah Jong Woon pada Hyun Yoo menggeret tangannya keluar mobil. " Aish ! " , Hyun Yoo sedikit meringis dan menuruti saja kemauannya , toh, kekuatan Jong Woon menarik tangannya saat ini lebih kuat dari usahanya untuk melepaskan. Hyun Yoo terus mengikuti arah Jong Woon berjalan, melihat punggung Jong Woon dari belakang yang masih memegang tangannya. Dan sedikit mengalihkan pandangannya ke arah sekelilingnya yang penuh dengan nisan yang berjejer rapi. Hyun Yoo menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Membuyarkan kemungkinan yang akan terjadi. Tiba-tiba, Jong Woon berhenti. Membuat Hyun Yoo reflek berhenti. 


" Jong Woon-ah, kenapa. . ." , belum selesai ia merangkai kata-katanya, mata Hyun Yoo seketika terbelalak tak percaya. Kedua tangan Hyun Yoo terangkat menutup mulutnya. Sungguh ! Apa benar yang ada dihadapannya ini? Nisan bertuliskan Lee Donghae? "Tidak ! Kau jangan meninggalkanku Lee Donghae" , ucapnya menggeleng-geleng kepala pelan  yang masih setia menutup mulutnya. Sejurus kemudian kristal bening mengalir begitu saja dari pelupuk mata yeoja itu. Tes..tes .. Lama-lama begitu deras. Ia tak bisa menahan semua sakit yang ia rasakan pada dadanya, semakin sesak menerima kenyataan ini. Tangan yang satunya kemudian bergerak memegang dadanya. Sakit! ya,  yang ia rasakan adalah sakit. Kaki Hyun Yoo terasa lemas sekarang, iapun tersungkur di samping nisan Lee Donghae. Jong Woon hanya diam, menatap sayu Hyun Yoo, membiarkan yeoja itu meluapkan semua sakit kehilangan namja yang dicintainya. Meskipun hatinya juga ikut sakit, melihat sahabat yang ia cintai begitu terluka dan terpukul.


" Oppa ... Kenapa kau meninggalkaku begitu saja. Kau sudah berjanji akan terus menemaniku, menjagaku, dan mencintaiku. Kenapa sekarang kau mengingkarinya oppa?  ", isaknya tangis Hyun Yoo begitu kencang. Ia meremas rumput tempat Lee Donghae bersemayam dan memukul-mukul lemah dengan tangis yang tak henti-hentinya ia keluarkan. " Oppa~" ,teriaknya serak, efek tangisnya. Jong Woon tak tahan lagi , melihat yeoja ini semakin terpukul. Dia pun berjongkok, merangkul pundak Hyun Yoo dari samping . Menyenderkan kepala yeoja itu ke dada bidangnya itu untuk bersandar. Mengelus pundak yeoja itu , memberi  ketenangan. Pundak yeoja itu naik turun akibat isak tangisnya itu. Dirasa, saat ini , baju yang Jong Woon kenakan mulai basah, mungkin karena efek tangis Hyun Yoo yang saat ini ada di dekapannya. " Uljima~ " , lirih Jong Woon kemudian.


Hyun Yoo-ah, Ini adalah tangismu yang terakhir . . 

Tak akan ada tangis-tangis yang lain . .
Akan kubuat senyum ceria itu terukir lagi di wajahmu . .
Hyun Yoo-ah, Uljima, ada aku disini . . 
Akan kubuat kau bahagia di sisiku . .

TempeBacemCabe


Akhirnya selesai juga Chapter- 2 nya . . fiyuuhh~~ Mian lama, karena gak ada inspirasi lanjutannya gimana. . maklumlah baru pemula buat ni FF . . Kritik dan saran ,ne? Hargai author . . Tulis di komen bawah ini . . ^0^