Jumat, 03 Januari 2014

CRUSH --- CHAPTER 5

Judul : Crush
Author : Choi Hyuk Ra (Rentika)
Genre : Romance , Hurt.
Inspired from  : Song of Sandeul - Crush
Cast : Song Hyun Yoo as You
           Yesung as Kim Jong Woon
           Park Hyo Jin (new cast)
Other Cast : Temukan sendiri.



Anyeong! Chapter 5 udah rilis! Mianhae  LUAMAA BUANGET and mianhae kalo semakin Geje geurigo banyak typo-yuponya pas baca, karena author juga manusia. Udah deh gak banyak bacot. Lets Fly!

Seorang namja memandang udara di atasnya seakan menantikan sebuah jawaban dari awan yang bergelayut menghiasi langit cerah Seoul pagi ini. Angin musim semi yang tak henti-hentinya , membuat rambut hitam pria itu , terkadang melambai-lambai, tak mengurangi kadar ketampanan pria ini. Sekilas pikiran tentang Ayahnya yang memaksanya untuk menikah . Dia tahu , kalau Ayahnya melakukan itu, hanya untuk mengambil keuntungan dalam bisnisnya saja. Tapi, tidakah ayahnya bisa mengerti perasaannya kali ini? Tidak adakah cara lain selain menikah dengan wanita yang tidak dicintainya? Ini sungguh tak adil buatnya. Haruskah ia menjalani seluruh hidupnya bersama wanita itu, Park Hyo Jin untuk selamanya? Dia saja belum mengutarakan isi hatinya pada Hyun Yoo. Dia juga ingin tahu perasaan Hyun Yoo padanya seperti apa. Karena sikap Hyun Yoo padanya semakin berubah padanya .
“Argghhh~ apa yang harus aku lakukan ?” , erangnya mengacak rambut yang sudah acak. Seminggu lagi , adalah hari pernikahanku bersama Park Hyo Jin. Setelah ini, Jong Woon diharuskan oleh Eommanya untuk menjemput gadis itu di rumahnya. Mereka harus segera menyiapkan baju pernikahan mereka. Walau dengan terpaksa ia menuruti perkataan eommanya .

Sampailah ia di rumah keluarga besar Tuan Park. Sebelum masuk saja sudah tergambar dengan jelas, betapa orang ini memegang saham terbesar di sebuah perusahaan . Pantas ayahnya ingin bekerja sama dengan Tuan Park. Rumahnya sungguh seperti sebuah istana. Taman – taman yang hijau rapi terbentang di sisi kanan kirinya. Rumput yang dibentuk sedemikian rupa, menciptakan sebuah karya seni yang indah. Mobil yang berjajar rapi di bagasi rumahnya, terlihat jelas. Jong Woon sudah berada di depan pintu sekarang .

Ting Tong ~

Ting Tong ~

Tak lama, terbukalah pintu itu. Tampak seorang ahjuma , mungkin pembantu di rumah tersebut, membukakan pintu besar rumah itu.

“Maaf cari siapa tuan muda?”

“Saya Jong Woon , saya. .”

Sebelum sempat melanjutkan. Terdengar suara yeoja menyeru Ahjuma tersebut “ Bi, siapa ?”
Ahjuma tersebut mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara . Jong Woon secara otomatis juga mengikuti arah dimana Ahjuma itu menoleh.

“Ini Nyonya. .Tuan Jong Woon”

“ Oh, Jong Woon? Persilahkan dia masuk, Aku akan memanggil Hyo Jin”, ucap Nyonya Park datar. Mungkin Nyonya Park masih kesal dengan tingkah Jong Woon yang meninggalkan pertemuan perjodohan secara tiba-tiba. Tapi, biarlah , pikir Jong Woon.

“ Silahkan Tuan”, Ahjuma mempersilahkan Jong Woon dengan ramah. Yang hanya dibalas oleh Jong Woon dengan anggukan kepala singkat , dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar itu. Jong Woon sekarang sudah duduk di sebuah sofa ruang tamu rumah itu. Tidak terlihat Nyonya Park yang tadi menyuruhnya masuk.

“Jong. . Jongwoon” , Ucap suara yeoja yang tak lain adalah Park Hyo Jin. Hyo Jin sedikit terbata, karena ia tidak menyangka saja. Jong Woon benar-benar menuruti orang tuanya untuk vitting baju pernikahan untuk pernikahan mereka nanti. Dia kira ia tak datang. Meskipun, memang Jong Woon datang, karena dipaksa oleh Orang tuanya. Itu tidak ada niatan dalam hatinya. Lihatlah, sekarang saja, ia menatap Hyo Jin dengan tatapan datar.

“Kajja!”, ajak Jong Woon datar. Jong Woon beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya keluar rumah besar itu. Park Hyo Jin mengikuti Jong Woon, dia hanya menatap Jong Woon nanar dibelakangnya.  Sampainya ia dekat mobil miliknya, dia langsung masuk ke dalam mobilnya. Tak membukakan pintu samping mobil untuk yeoja itu. Park Hyo Jin hanya menatap arah gerak Jong Woon yang sudah masuk duluan ke dalam mobil dengan tatapan nanar. Jong Woonpun membukakan pintu samping mobilnya untuk dirinya sendiri dan bergegas masuk. Tak memeperhatikan yeoja yang sempat berhenti sejenak, sambil menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Par Hyo Jin memberanikan dirinya untuk membuka pintu mobil itu dan duduk di samping kemudi Jong Woon. Ada rasa tak menentu dalam hatinya. Dia tidak berani menatap Jong Woon di sampingnya . Hyo Jin memperhatikan jalan yang ada di sampingnya  melalui jendela mobil. Sesekali ia melirik Jong Woon yang serius dengan jalan didepannya. Hening. Jong Woon sama sekali tak ingin berbicara dengan yeoja ini.  Tak berminat.

“Jong..Jong Woon” , Lagi-lagi Hyo Jin menampakkan kegugupannya pada namja ini.

“Wae?”, tanya Jong Woon singkat dan dengan muka yang datar.

“Bolehkah aku bertanya , emm. . kenapa sikapmu begitu acuh padaku? Apakah aku melakukan kesalahan?”, tanyanya dengan kerut terlihat di keningnya.

“Ani.”, jawab singkat.

“Lalu?” Tanya yeoja itu lagi.

“Karena aku tidak mau menikah dengan gadis yang tidak aku cintai.”

“Jadi, kau melakukan ini hanya ter. .paksa? Lalu, kenapa kau terima perjodohan ini? Seharusnya kau menolaknya ,kenapa masih. . ” belum sempat mengucapkan kalimat itu sampai selesai.

“Ya, aku melakukannya dengan terpaksa. Aku tidak menerima pernikahan ini. Hatiku menolaknya. Kenapa aku masih menerimanya? Ya , karena aku masih belum tahu cara untuk menghentikan pernikahan ini, maaf ”, jelas Jong Woon datar , masih focus pada jalan didepannya. Seketika nafas Hyo Jin terekat. Dugaannya selama ini benar , ini hanya cinta sepihak. Kenapa ia mencintai orang yang sebenarnya mencintai orang lain. Kenapa? Ya, ia tahu bahwa Jong Woon pastilah mencintai Hyun Yoo, sahabatnya.  Hatinya terasa sakit saat ini, seolah Jong Woon melemparkan jarum yang tajam ke dadanya sekarang. Sesak sekali, mata Hyo Jin mulai berkaca-kaca, membuat ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela lagi. Ia tak ingin menginginkan Jong Woon melihat kelemahannya. Toh, Jong Woon juga tak akan sudi memandangnya saat ini. Sungguh miris.

“Aku ingin kau jadi miliku, Menatapku special seperti gadis itu, Hyun Yoo,Andaikan aku datang sebelum dia, dan memutar waktu , Akankah kau melihatku?Mencintaiku? Dan menikah denganku?Jika tidak, aku akan berusaha bagaimanapun itu caranya. .” gumam Hyo Jin dengan senyum miris di sela-sela air mata yang hampir jatuh membasahi pipinya.

Sampailah mereka di butik tempat mereka akan vitting baju pengantin.

“Eoseo Eoseyo”, sambut pegawai butik itu. 

“Apakah ada yang bisa saya bantu?”, tanya pegawai itu kemudian pada namja yang berdiri di sampingnya. Yang ditanya hanya diam. Hyo Jin memandang ke arah Jong Woon dengan tatapan nanar dan sedikit kesal.  Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada pegawai wanita itu .

“Ne, kami mencari sebuah gaun pengantin yang cocok buat kami. Bisakah?” Hyo Jin menganggukan kepala dengan senyum yang dipaksakan . Jong Woon melirik gadis disampingnya datar dan malas.

“Ne, silahkan ikut saya Nona.”. Hyo Jin mengikuti arah pegawai itu mengantarnya. Sedangkan Jong Woon duduk dalam sebuah sofa sambil mengotak atik ponselnya. Ia sedang mengirimkan pesan singkat pada Hyun Yoo , untuk janjian di suatu tempat. Ia ingin memberikan kejutan padanya.Karena ia baru ingat bahwa hari ini adalah bertepatan dengan ualng tahun Hyun Yoo. Jong Woon masih focus melenggangkan jari-jarinya bebas diatas  ponsel miliknya.

Tak beberapa lama kemudian,
Sreeet~ Gorden terbuka , menampilkan sosok Hyo Jin yang anggun dan berkilau dengan gaun pernikahan yang dipakainya. Gaun yang pastinya sangat berkelas di kalangan orange lit. Jong Woon masih belum mengalihkan pandangannya pada yeoja di depannya. Membuat Hyo Jin menatap nanar , sekaligus ia sedikit kesal dengan namja yang dihadapannya. Dadanya masih bergemuruh. Dengan sekuat tenaga, ia mulai mengucapkan suara.

“ Jong Woon~ Eotthe?”

Jong Woon mendongak perlahan , dia sedikit kagum dengan gaun yang dipakainya. Membuat yeoja yang berdiri dihadapannya terlihat lebih anggun. “ Bagus~” , jawabnya singkat dengan muka datar . Hyo Jin hanya mengigit bibir bawahnya kesal dengan tatapan yang menunjukkan raut kekesalan. Hyo Jin menghembuskan nafasnya kesal. “ Aku rasa ini saja “, ucapa Hyo Jin pada pegawai wanita itu.
“Sekarang anda Tuan, boleh ikut saya, saya akan pilihkan kemeja yang bagus dan cocok buat anda.”, Jong Woon yang mendengr itu , hanya menurutinya saja dengan malas.

Sreettt~

5 menit kemudian , gorden terbuka, menampakkan pria yang begitu elegan dengan tuxedo dan kemeja yang membuat kadar ketampananya semakin bertambah. Mungkin gadis yang melihatnya akan pingsan seketika, ketika, melihat penampilan Jong Woon kali ini. Agak berlebihan mungkin, tapi, inilah kenyataannya. Hyo Jin tertegun seketika melihat pria yang ada dihadapannya. Benarkah ini Jong Woon? Jong Woon yang dipandang hanya memandang datar yeoja dihadapannya. Tak ada raut kesenangan dalam wajahnya.

“Omo~ Tuan , Nona , anda begitu serasi. Pakaian ini sungguh cocok untuk anda. Bolehkah saya mengambil foto anda berdua ?” , tawaran itu , hanya diiyakan sebelah pihak oleh Hyo Jin. Jong Woon bingung dan hanya mengikuti saja dengan terpaksa.

“Lebih dekat nona~” perintah pegawai wanita itu dengan sumringah.  Hyo Jin menuruti pegawai itu untuk mendekat. Walau sedari tadi , degup jantungnya tak dapat dikontrol lagi. Sedangkan Jong Woon? Jong Woon hanya melihat tak suka, dan mengalihkan pandangannya pada pegawai wanita itu dengan senyuman yang dipaksakan natural.

“ Hana. . Deul . . Set  Jeprret!” “Whoaa~ pasangan yang serasi, membuatku iri”, ucap pegawai wanita itu.
Hyo Jin hanya membalasnya dengan senyuman.

             Sementara itu, mereka tidak tahu bahwa ada seseorang yang  tidak sengaja melihat kedua insan dibalik jendela transparan butik tersebut dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Hingga akhirnya, tatapan Jong Woon dan yeoja dibalik kaca jendela itu bertemu. Yeoja itu  Hyun Yoo.  Jong Woon dengan senyum yang dipaksakan tadi itu kembali memudar .  Hyun Yoo yang mendapat balasan tatapan dari Jong Woon , langsung beralih, dan pergi dari tempat itu. Dada Hyun Yoo tiba-tiba bergemuruh , ada sesuatu yang ganjal dalam hatinya. Kenapa ia begitu sakit melihat Jong Woon berdua dengan yeoja lain dengan memakai gaun pengantin. Apakah mereka akan segera menikah? Mungkin ia. Dan memang apa urusannya dengannya. Seharusnya sebagai sahabat tidakkah ia akan merasa senang jika sahabat sendiri sudah menemukan pendamping hidup? Kenapa hatinya begitu sakit , sampai-sampai tak terasa peluh sudah membasahi pipi putihnya saat ini. Ia tak kuasa membendungnya “Hey, kenapa aku menangis? Ada apa denganku? Seharusnya aku ikut senang jika, sahabat sendiri akan menikah ,kan? Kenapa malah sedih dan sakit seperti ini?” , gumam Hyun Yoo yang terus menerus meruntuki dirinya. “Aissh, aku mungkin sudah gila”, lanjutnya sambil mengusap kasar peluh yang terus membasahi pipinya. Tak diperdulikannya , orang yang melihatnya dengan tatapan heran. Dia terus melangkahkan kakinya asal tanpa arah.


            Kaki Jong Woon seperti beku seketika. Entah kenapa ia merasa bersalah pada Hyun Yoo saat ini. Matanya hanya menatap Hyun Yoo yang mulai berjalan menjauh dari butik tesebut. Ingin ia berlari mengahmpirinya saat ini juga. Ya, ia harus berlari menyusulnya. Tapi, kenapa kakinya begitu kaku? Dilepaskannya jas dan tuxedo yang ia pakai , dan mulai melangkahkan kaki keluar butik tersebut. “Jong Woon!!”, mata Hyo Jin terbelalak kaget dengan sikap namja itu. Tak diperdulikannya Hyo Jin yang memanggilnya. Ia harus menjelaskannya pada Hyun Yoo. Tunggu! Menjelaskan untuk apa?  Dia saja tidak ada hubungannya dengan Hyun Yoo, hanya sekedar sahabat. Dan apa masalahnya ? Apapun itu, Jong Woon tak peduli, ia tetap akan menyusulnya.

“Kajimaa~~” lirih Jong Woon yang terus berlari mengikuti Hyun Yoo.

“Jebal , kajima~~”, lirih Hyo Jin sedih pada Jong Woon yang sudah hilang dalam jarak pandangnya. Ia 
meremas gaun yang dipakainya . Kakinya terasa lumpuh , dia sudah tak bisa menopang tubuhnya lagi. Iapun tersungkur dilantai.

“No..na? Gwenchana?”, tanya pegawai itu cemas. Park  Hyo Jin hanya menundukkan kepalanya, meremas gaun pengantin itu sedih.

Hyun Yoo, kau tahu ini begitu sakit untukku ,
Kau juga harus merasakan hal yang sama sepertiku,
Aku tak terima ini, Jong Woon , kau harus jadi milikku, apapun itu, karena aku mencintaimu. .
-Park Hyo Jin-

Hyun Yoo terus berlari . Tak terlalu berkonsentrasi dengan jalan didepannya. Terkadang ia tertabrak oleh orang yang sibuk lalu lalang melaluinya.  Tetes demi tetes air mata terus meluncur dari mata indahnya.
“Oh, jebal Hyun Yoo, kenapa kau tak berhenti menangis~”, gumanya yang mengusap air matanya kasar. Lama-lama langkah Hyun Yoo , semakin lemah.  Ia terlihat sedikit terseyok-seyok, seolah tubuhnya tak bisa lagi di topang.  Dia terus berkutat dengan pikirannya sampai akhirnya ia tak mengerti bahwa lampu di seberang jalan masih menunjukkan warna hijau. Dia terus menyebrang tanpa melihat kanan dan kiri. Dari arah kiri, terlihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang , yang menuju arah yeoja itu. Semakin dekat, dan semakin dekat , hingga kemudian sebuah tangan berhasil menarik paksa tangan yeoja itu. Membuat  yeoja itu terhuyung ke belakang dan membalik paksa tubuhnya yang sukses ditangkap oleh tubuh bidang seorang namja. Namja yang tak lain adalah Jong Woon , mendekap Hyun Yoo begitu erat, seakan ia takut kehilangan yeoja itu. Jong Woon menutup matanya, Ia masih menikmati moment ini. Ia bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan khas dari yeoja yang didekapnya saat ini.
Ia juga merasakan bahwa yeoja yang didekapnya ini sedang menangis. Terlihat jelas dari tubuh yeoja ini yang bergetar dan terisak.

Tak berselang kemudian, Hyun Yoo baru menyadari bahwa ia didekap oleh seorang namja. Tapi, siapa dia? Bau ini seperti bau yang khas tubuh namja di butik tadi. Tidak mungkin dia!

“Jong Woon~”, gumamnya dalam hati dengan mata masih terbelalak kaget, tak percaya akan hal ini.

“Lepaskan !!” , Hyun Yoo mencoba melepaskan diri dari dekapan Jong Woon. Pemberontakan itu, tak mempan baginya. Jong Woon malah semakin mengeratkan dekapannya.

“Babo, kau tidak tahu kalau rambu lalu lintasnya masih hijau. Apa yang sedang kau pikirkan? kalau saja , aku tak menarik tanganmu , kau pasti akan tertabrak mobil. Aku tak ingin itu terjadi.” , ucapnya lembut di sela pelukannya. Hyun Yoo terdiam sejenak . Dan kemudian mulai memberontak.

“Lepaskan aku ~” , sedikit lirih dengan suara bergetar. “Aku bilang lepaskan aku babo ! Aku tak bisa bernafas ! aish~”, desak Hyun Yoo. Jong Woonpun melepaskan tubuh Hyun Yoo dari dekapannya.  

“Mianhae”, ucap Jong Woon pelan, menatap yeoja yang dihadapannya yang terlihat terus menunduk. Jong Woon mengerti bahwa ia menyembunyika sesuatu darinya. Kenapa ia tak jujur padanya saja?

“Ani, bukan salahmu”, Hyun Yoo menggelengkan kepalanya dalam wajah tertunduk. “Aku memang sudah gila. Mianhae. . keurigo . . Chukhae~”, Hyun Yoo membalikkan tubuhnya sambil terus menundukkan kepalanya  dan kemudian berjalan menjauhi Jong Woon.  

Jong Woon menatap punggung tubuh Hyun Yoo yang semakin menjauh . Tidak! Dia seharusnya tidak diam saja. Ia tidak ingin yeoja itu menyalahkan dirinya sendiri seperti itu. Hingga tak terasa kaki Jong Woon mulai bergerak, hendak melangkah menyusul yeoja itu. Dengan langkah pasti Jong Woon melangkah , berjalan menyusul  yeoja itu. Ia menarik pundak yeoja itu agar berbalik mengahadapnya. Tubuh yang ditarik sedikit terlonjak . Hyun Yoo mendongak membelalakkan matanya. Seketika . . . Chu~ Jong Woon berhasil mencium bibir pink Hyun Yoo saat yeoja itu mendongak. Hyun Yoo masih terbelalak kaget . Matanya masih terbuka. Ia merasa tubuhnya telah beku. Entahlah, dia tak bisa menolak ciuman ini. Saat ini, Ia masih bisa melihat wajah Jong Woon sedekat ini dengan mata yang masih terpejam . Sedetik kemudian, Jong Woon membuka matanya dan menjauhkan mukanya dari Hyun Yoo. Dia tersenyum melihat ekspresi terkejut Hyun Yoo saat ini. Lihatlah ! Hyun Yoo tampak berkedip mata puppy eyesnya berkali-kali untuk menetralisir kegugupannya dan kekagetannya. Hyun Yoo menelan salivanya kasar sambil terus menatap wajah tampan Jong Woon.  Itu yang membuat Jong Woon semakin ingin menciumnya. “Hehe. . dia lucu sekali”

“Apa maksudmu dengan . .”,

“Saranghae Hyun Yoo~ ”, ucap Jong Woon tiba-tiba. Akhirnya ucapan itu meluncur saja di bibir namja ini. Perasaan yang selama ini ia tutupi , akhirnya terkuak sudah. Dia sudah tak tahan lagi menahan perasaannya lebih lama. Mungkin menurutnya , inilah waktu yang tepat.

“ MWO?!”, Hyun Yoo terbelalak kaget dengan pengutaraan Jong Woon. Apa yang dia katakana? Apa ia tidak salah dengar? Apa ia sekarang ada di alam mimpi? Tidak, tidak, ini nyata.

“Ma-mak-sudmu?”, ucapnya gugup.

“Sepertinya aku mencintaimu , bahkan aku mencintaimu sebelum kau bersama Dong Hae, Apalagi saat kau menjadi pacar namj aitu , hatiku rasanya kelu, tapi, saat melihatmu tersenyum bahagia di sampingnya. Aku ikut bahagia. Mungkin dia bisa menjadi  yang terbaik untukmu. Aku rela mengorbankan cinta ini hanya untuk melihatmu bahagia, Dan setelah kepergiannya , aku semakin menyayangimu sebagai yeoja yang special di hatiku. Aku akan berusaha menjadi namja yang bisa kau jadikan sandaran saat kau bersedih . Aku ingin menggantikan Donghae dihatimu , bisakah? ”, Jong Woon terus menatap lekat yeoja yang ada dihadapannya , meminta sebuah jawaban dari pernyataannya.

“Dan. . apa yang aku liat di butik itu? Bukankah kau . . ” Hyun Yoo bertanya balik , seperti meminta sebuah penjelasan.

“Itu . .  aku dipaksa menikah oleh gadis itu, hanya untuk kepentingan bisnis Ayahku. Dia ingin mengambil keuntungan dari pernikahan ini. Tidakkah itu tindakan egois?  Tapi, aku tak ingin, aku tak ingin menikah dengannya Hyun Yoo-ah . Aku mencintaimu . Aku tak ingin menikahi seorang yeoja selain dirimu.” Ucapnya  pada Hyun Yoo sambil memegang tangan Hyun Yoo dan mengusapnya pelan.

“Dan . . .Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, kau bisa memikirkanya”, lanjutnya lagi disertai senyum simpul tampan namja ini. Hyun Yoo menghembuskan nafasnya pelan .  Seolah mengumpulkan energy untuk mengungkapkan sesuatu yang sulit sekali untuk diucapkan saat ini. Perasaan sesungguhnya yang ada pada dirinya. Hyun Yoo menunduk sejenak, sekilas melihat pertautan tangannya yang terus di genggam oleh Jong Woon. Ia tersenyum, dan kemudian mendongak, memberanikan menatap manik mata Jong Woon. Manik mata Jong Woon yang teduh dan nyaman itu kini menatap mata indah Hyun Yoo.  Mereka saling menatap satu sama lain. Walau saat ini detak jantung mereka  teus saja berlomba-lomba untuk berdegup cepat . Hyun Yoo harus memberanikan diri. Iapun lantas tersenyum.

“Ani, aku takut jika tak mengungkapkannya sekarang , aku akan menyesal untuk selamanya. ”, ucapnya kemudian.

“Aku baru merasa bahwa kehadiranmu selalu berarti buatku. Mungkin karena kau selalu ada untukku saat aku sedih dan aku membuatku selalu nyaman bersamamu . Ditambah lagi Hatiku selalu berdetak jika di sampingmu. Entah kenapa, aku sakit melihatmu bersama yeoja lain. Hatiku sesak . Mungkin aku sudah gila. Tapi . . aku juga mencintaimu Kim Jong Woon, Saranghae~” lanjutnya.

 Seketika , hati Jong Woon seperti terdapat kembang api , yang di dalamnya mereka meletus indah menghiasi relung hatinya. Oh, akhirnya , inilah yang ia tunggu selama ini. Ia pun tersenyum bahagia.
Jong Woon langsung membawa tubuh mungil Hyun Yoo dalam pelukannya.

“ Berjanjilah, untuk tetap disampingku , apapun yang terjadi. Jangan menghilang dari jarak pandangku. Mengerti?”  Hyun Yoo hanya tersenyum dan menanggapinya dengan anggukan kepala di sela pelukan mereka. Jong Woon bisa merasakan pergerakan itu. Dan semakin mengeratkan pelukannya pada Hyun Yoo.

“Gomawo” , lirih Jong Woon, di samping telinga Hyun Yoo. Hyun Yoo hanya tersenyum dan mulai memejamkan matanya menikmati aroma Jong Woon dalam dekapannya. Mereka saling menyalurkan perasaan bahagia mereka dalam kenyaman pelukan tersebut.

Berbeda jauh dengan seseorang yang melihat nanar kejadian tersebut, bahkan dia telah melihat adegan ciuman itu, didepan mata kepalanya sendiri. Seketika tubuhnya bergetar hebat, tanganya mengepal, meremas ponsel yang sedari tadi digunakannya untuk menelpon Jong Woon, tapi,  tak dianngkatnya. Tidakkah itu menyakitkan? Dicampakkan dan dipermalukan di butik tadi membuatnya geram.

Aku tak tahan lagi!!Kau akan mendapatkannya Hyun Yoo-ah!! Kau akan merasakan sepertiku!! bagaimana dicampakkan dan dipermalukan sepertiku!! 
-Park Hyo Jin-


Kya! Kya! Akhirnya bertahun-tahun sudah FF ini baru di posting #alay
Mian, sempet lupa sama ceritanya. .
and Mian kalau ada typo-typo yang gak jelas . . dan berantakan . .
Maklum Buatnya ngebut ~~~ :3
Bye! See you next year! Eh, next time!


****************************

CRUSH --- CHAPTER 4B (Continue)



“ KAU AKAN MENIKAH DENGAN PARK HYO JIN SECEPATNYA! TAK ADA PENOLAKAN JONG WOON !” , teriak suara di balik ponsel itu. Siapa lagi kalau bukan Tuan Kim, yang pagi-pagi sudah meledakkan amarahnya pada namja itu. Karena dia sudah geram dengan sikap anaknya yang mulai membuatnya jengkel.

“Tapi, ABOJI!”
PLIP!
Si empunya malah mematikan ponselnya secara sepihak. “Yakk ABOJI!!” . “Aissh , Jinja~” , sambil mengacak-acak rambutnya kesal. 
                                                               
TING TING!
 Pintu apartement Jong Woon berbunyi. Sejenak ia terperanjak.
“ Nugu?” batinya.
Klek!
Pintu apartement terbuka. Menampilkan sesosok wanita cantik dengan dress creamn kasualya selutut, menambah aura kecantikan yeoja itu. Hyun Yoo. Ya, yeoja itulah yang berdiri di depan apartement Jong Woon.
“ Eo?!” Hyun Yoo agak kaget, karena sepertinya Jong Woon baru bangun dari tidurnya. Baju terlihat lusuh dan rambut yang acak-acak. Menggambarkan Jong Woon mungkin juga belum mandi.

“ Yakk! Kau belum mandi eoh? “ , ejek Hyun Yoo melihat penampilan Jong Woon, sahabat kecilnya itu. Yang di tanya malah tak menjawab.

“ Anyeong~~ Anyeong~~” kibas tangan Hyun Yoo ke depan muka Jong Woon.
Seketika Jong Woon mengedipan matanya berulang kali , menyadarkan diri. Entah kenapa, ia sejenak terpesona dengan penampilan Hyun Yoo.

“ Gwenchana? “ Tanya Hyun Yoo memastikan.
“e-eoh” , angguk Jong Woon gugup, sambil mengusap-usapa tengkuknya.

“ Kau tak mempersilahkan tamu terutama sahabatmu ini masuk?” , Tanya Hyun Yoo menyipitkan matanya sambil menyilangkan tangan di depan dada, dan sesekali mempoutkan bibirnya pulnya.

“Eoh, keureom, masuklah~” ,ucap Jong Woon memepersilahkan Hyun Yoo. Yang di persilahkan langsung menuju ke dapur dekat ruang tamu.

“ Kau. . Kau kenapa sepagi ini datang ke rumahku?” , tanya Jong Woon.

“ Emm. . aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkanku kemarin malam, dan untuk imbalanya aku akan memasakkanmu masakan yang paling special.”, jawab Hyun Yoo dengan senyumnya.

“Geure ! aku jadi penasaran!”, ucap Jong Woon antusias.

“ Palli ~ mandilah! Aku tak mau masakanku ini di makan oleh orang bau seperti kau” , pinta Hyun Yoo sambil mengibaskan sebelah tangannya ke hidungnya.

“ Heissh! Arra!” angguk Jong Woon dengan senyumnya kemudian. Dan iapun bergegas ke kamar mandi.

Selesai ia mandi dan berganti pakaian, iapun langsung menemui Hyun Yoo , dan duduk di meja makan yang tak jauh dari jarak pandangnya melihat yeoja itu. Tangan satunya ia gunakan untuk menopang dagunya. Sambil secara lekat memperhatikan setiap gerakan yang Hyun Yoo lakukan di dapur. Apalagi dengan celemek yang ia pakaipun ia masih terlihat mempesona. Ingin sekali Jong Woon memeluk Hyun Yoo dari belakang, tapi, itu tak mungkin, karena ia belum mengungkapkan perasaannya pada yeoja itu. Apalagi status mereka hanyalah sekedar teman dekat. Dia pasti akan terkejut , jika tiba-tiba aku memeluknya. Ia harus menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya. Tapi, kapan? Ia juga tak tahu kapan. Yang pasti , biarlah ini berjalan sesuai waktu.

“Taddaa~ Bibimbap ala Hyun Yoo” , ucapnya riang dengan menyuguhkan masakan yang sudah jadinya di atas meja makan Jong Woon.

“ Eoh” , membuat Jong Woon membuyarkan lamunannya.

“ Cicipilah~ katakanlah dengan jujur, enak atau tidak . Arrasho?” , ucap Hyun Yoo antusias saat Jong Woon mulai menggapai makanan dan akan memasukkan ke mulutnya.  Di tatapnya penasaran, Jong Woon yang mulai mengunyah dan merasakan masakannya.

“Enak ?” tanya Hyun Yoo penasaran , sedikit menyipitkan matanya.

Ekspresi Jong Woon masih datar. Tak ada ekspresi yang menggambarkan enak atau tidak masakan buatan Hyun Yoo itu.

“ Emm. . sedikit asin . Tapi, Over All enak. Hemm. . Masitta~”, ucap Jong Woon yang mulai menyendokkkan lagi makanan itu ke mulutnya.

“ Jeongmal ?”

“ Em” , angguk Jong Woon mengiyakan, dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Hyun Yoo hanya menahan tawa melihat tingkah Jong Woon yang terlihat sangat lucu.


                                              *********************************

Ngeekkk~ Mianhae terlalu pendek ,
Part 5 akan lebih panjang kok ^__^ langsung di share
Mianhae ada typo -typo yang kurang mengenakkan badan. 


Jumat, 09 Agustus 2013

CRUSH --- CHAPTER 4a ( Strange Feel )

Judul : Crush
Author : Choi Hyuk Ra (Rentika)
Genre : Romance , Hurt.
Inspired from  : Song of Sandeul - Crush
Cast : Song Hyun Yoo as You
           Yesung as Kim Jong Woon
           Park Hyo Jin (new cast)
Other Cast : Temukan sendiri.




                   Anyeong! Chapter 4 udah rilis! Mianhae kalo semakin Geje and banyak typo-yuponya pas baca, karena author juga manusia. Udah deh gak banyak bacot. Lets Fly!



PART 4
“Anak Tuan Kim itu benar-benar tidak sopan! Sebaiknya kita pikirkan terlebih dahulu rencana perjodohan ini.” Gerutu Tuan Park atas sikap Jong Woon tadi. Park Hyo Jin, Ia sedari tadi hanya memalingkan wajahnya ke arah luar, jendela samping mobilnya. Tampak raut kekecewaan disana. Namja yang disukainya tidak benar-benar menerima perjodohan ini. Tidak tahukah Jong Woon bahwa ia sangat menginginkan perjodohan ini? Bahwa ia ingin Jong Woon menjadi miliknya seutuhnya. Apa ini semua karena Park Hyun Yoo? Seberapa pentngkah ia baginya? Sedetik kemudian ia hembuskan nafasnya kesal.

                Di sisi lain, Jong Woon mengendarai mobilnya dengan terburu-buru, tak dihiraukannya keramaian lalu lalang mobil malam itu. Yang ia pikirkan hanya Hyun Yoo dan Hyun Yoo. Dia dimana ? Dia kenapa? Pikirannya kalut saat ini. Jong Woon mengambil ponsel yang ada disamping jok mobilnya, mencoba menghubungi Hyun Yoo. Sayang, tak ada jawaban darinya. Tak menyerah, ia mencoba menghubunginya lagi. Tapi, hasilnya NIHIL. Jong Woon mengacak rambutnya frustasi dan memukul stir kemudinya.  Tak jarang juga ia menghembuskan napas kasar . Hati dan pikirannya benar-benar kalut.

            Dia tak boleh terlalu panik.  Ia harus mencari cara untuk menemukan Hyun Yoo berada. Sebuah ide terlintas dipikirannya. Yah, sebuah GPS di ponselnya , mungkin akan sedikit membantunya menemukan Hyun Yoo. Ia yakin ponsel Hyun Yoo aktif, dan itu akan mempermudah mencari keberadaan Hyun Yoo. Jong Woon mulai membuka aplikasi GPS di ponselnya. “Incheon?!! Berarti dia masih di daerah sini. ” , gumamnya. Sedikit kelegaan , tapi, dia masih bingung harus mencarinya dimana. Haruskah ia menelusuri semua kota Incheon?  Itu sungguh tak masuk akal.

            Oke, tunggu aku Hyun Yoo!!
            Bertahanlah!

            Tiba-tiba terlintas di pikirannya , bukankah jam segini adalah waktu Hyun Yoo untuk pulang dari kerjanya. Jong Woon tahu betul  jam-jam aktivitas Hyun Yoo. Ya, pasti Hyun Yoo tak jauh-jauh dari tempat kerja magangnya. Apalagi Hyun Yoo pernah bercerita kalau jalan menuju tempat ia tinggal sangatlah sepi saat malam hari. Di tambah lagi di pinggir-pinggir jalan terdapat kedai soju. Yang banyak dinikmati oleh para pemabuk. Tapi, mau bagaimana lagi, Hyun Yoo harus bekerja,  ia tidak ingin merepotkan keluarganya untuk membayar uang kuliahnya. Ia ingin mandiri, dan mencukupi kebutuhannya sendiri. Hyun Yoo hanya menampilkan ekspresi beraninya pada Jong Woon ketika bercerita tentang itu dan selalu mengatakan aku akan baik-baik saja, tak akan terjadi masalah yang berbahaya. Tapi, Jong Woon tahu, dia sebenarnya sangatlah penakut.

            Saat ini, Jong Woon berada di sekitar tempat Hyun Yoo bekerja. Ia putuskan untuk turun dari mobil. Tak diperdulikannya salju yang mulai turun mengotori pundaknya dan hawa dingin malam hari yang menusuk kulit. Walaupun, ia sudah memakai jas , tapi, tak cukup untuk menjadi penghangat malam itu.  “ Hyun Yoo-ah !!!” , teriak Jong Woon sambil menelusuri jalan tersebut mencari Hyun Yoo. Ia terlihat lelah dan kedinginan. Tapi, ia tak peduli, saat ini ia harus menemukan Hyun Yoo. “Hyun Yoo, Eoddiya??”, lirihnya panik seraya mengacak rambutnya kesal, karena tak menemukan Hyun Yoo. Tapi. . . tunggu! Sepertinya ia melihat sesuatu dibalik tembok itu. Jong Woonpun mendekati  tempat itu perlahan , memastikan apa yang ia lihat itu. Tenggorokan Jong Woon seketika tercekat. Dia tak percaya apa yang dilihatnya sekarang. Hyun Yoo tergeletak lemah tak sadarkan diri. Dengan rambut dan baju yang sedikit tak beraturan. Lutut Jong Woon terasa lemas, dan iapun mulai berjongkok, melihat raut wajah yeoja yang ia cinta lebih dekat.
“ Apa yang terjadi denganmu, Hyun Yoo-ah?!!”, teriak Jong Woon dab menepuk pelan pipi Hyun Yoo.

“Hyun Yoo-ah~ Palli Irreona!!” , lanjutnya membangunkan Hyun Yoo dari pingsannya. Tapi, tak ada respon dari yeoja itu. “ Bertahanlah~” , lirihnya.

Tak butuh waktu lama lagi ia harus mebawa Hyun Yoo pulang. Ia harus menggendong tubuh Hyun Yoo. Tangan Jong Woon berusaha meraih punggung Hyun Yoo dengan hat-hati. Tapi, itu malah membuat si empunya, terbangun. Sesekali Hyun Yoo mengerjapkan matanya. Menetralisir pandangan di depannya. Ia terlonjak kaget, tat kala ada yan menyentuhnya.

” Ka!! Jebal! Ka!! Hiks. . hiks. . ” Hyun Yoo menghempaskan tangan Jong Woon sambil memejamkan mata dan menutupi telinganya. Refleks ia mundur dan saat ini ia malah menenggelamkan kepalanya ke kedua lututnya. Ia takut kalau yang menyentuhnya sekarang adalah orang mabuk tadi. Melihat Hyun Yoo ketakutan, hati Jong Woon terasa sakit. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tak berada di sisinya. Padahal ia sudah berjanji akan selalu ada di sisi gadis itu.

“ Jangan sentuh aku!! “ , pintanya saat Jong Woon akan mendekapnya. Jong Woon sedikit terlonjak, Sikap Hyun Yoo saat ini seperti menggambarkan bahwa ia sedang trauma akan suatu hal, yang ia tak tahu kenapa. Jong Woon tak tahan lagi melihatnya seperti ini, Jong Woon menarik paksa kedua bahu Hyun Yoo. “ Hyun Yoo-ah~ Lihat aku! Ini aku Jong Woon”, sedikit mengguncang bahu Hyun Yoo, karena, Hyun Yoo sesekali sempat meronta.

Jong Woon ,kau datang, batin Hyun Yoo senang. Seketika air mata Hyun Yoo kembali deras mengalir di pipinya. Ia terus menunduk, linangan air amata terus menetes. Ia sangat senang. Namja yang sudah seperti Guardian Angel untuknya, telah datang. Tapi, ia tak bisa mengekspresikan rasa senangnya. Yang hanya ia lakukan hanyalah menangis. Mungkin ia masih takut akan kejadian yang menimpa dirinya tadi. Jong Woon mendekap erat tubuh Hyun Yoo, memberikan dada bidangnya untuk bersandar dan meluapkan tangisannya. Sesekali mengusap-usa lembut rambut Hyun Yoo.

“ Menangislah, aku tak akan pergi darimu, aku akan disini untukmu”

Kemudian Jong Woon mulai merenggangkan pelukannya. Tangan Jong Woon terangkat , memegang dagu Hyun Yoo lembut, membantunya mendongak dan menatapnya. Dan beralih mengusap-usap lembut pundak Hyun Yoo, memberikan ketenangan. “ Gwenchana~ Gwenchana~” , bisiknya kemudian. Membuat Hyun Yoo berhenti menangis dan hanya membuat isakan – isakan kecil. Seketika jantung Hyun Yoo serasa berdetak tak seperti biasa melihat tatapan Jong Woon tulus.

Tatapan diantara mereka berdua tak dapat diartikan. Jong Woon terus saja menatap wajah yeoja dihadapannya. Tak terasa, ia malah semakin menarik dagu Hyun Yoo semakin mendekat. Jong Woon mulai memejamkan matanya. Sedangkan Hyun Yoo hanya terbelalak kaget, apa yang akan dilakukannya . Pikirannya langsung kalut. Hembusan nafas Jong Woon mulai terasa di pipi Hyun Yoo. Hyun Yoo tak ingin melihat apa yang dilakukan Jong Woon selanjutnya. Iapun ikut memejamkan mata. Sampai akhirnya . . . 

Chuu~~

Jong Woon mulai melumat lembut bibir pink Hyun Yoo , tak ada paksaan. Dan tak ada rasa nafsu di dalamnya. Yang hanya adalah rasa kasih sayang tulus untuk Hyun Yoo. Sepertinya Hyun Yoo masih kaget dengan perlakuan Jong Woon, sehingga ia tak membalas ciuman namja itu. Ia terdiam dengan pikirannya sendiri. Cukup lama mereka menautkan bibir mereka, hingga akhirnya , Jong Woon merasa ada yang meremas jasnya. Ia pun melepas tautannya itu. Nafas kedua insan itu, sedikit tersengal-sengal akibat tautan yang dibuat mereka. Tangan Jong Woon terangkat kembali, mengusap lembut bibir Hyun Yoo yang basah akibat ciumannya. Seulas senyum terukir manis di bibir Jong Woon. Sebaliknya Hyun Yoo mendongak dan membelalak tak  percaya. Ia seperti membeku sekarang. Ia sungguh tak mengerti maksud ciuman ini. Entahlah~ apa ia terlalu naïf?

Ku harap kau segera mengerti ,
Dan membuka hatimu untukku, Hyun Yoo-ah~

Cukup lama ia menatap mata sayu dan lelah Hyun Yoo. Iapun mulai tersadar dan sedikit malu karena tingkah Jong Woon yang tiba-tiba. Sesekali ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ehem~ kajja kita pulang! “, Jong Woon mencoba menormalkan suaranya agar tidak terlihat gugup. Jong Woon yang melihat Hyun Yoo semakin menundukkan kepalanya , mencoba meraih tangan yeoja itu, dan menggengamnya. Seakan ia tak ingin yeojanya hilang dari sissinya lagi. DEG! Hyun Yoo yang digenggam tangannya hanya diam, bahkan semakin menunduk.

Mungkinkah ini cinta? Kenapa. . ?
Genggaman tangan hangatmu sekarang, membuat hatiku berdesir tak karuan,
Perasaan ini, perasaan yang sama ketika pertama kali aku bertemu dengan Donghae.
Hahh~ apa aku jatuh cinta lagi ?
Ani, Ani~

“ Gwenchana?”, Tanya Jong Woon ketika melihat Hyun Yoo geleng-geleng kepala sendiri. 

“ Nde?” Reflek Hyun Yoo tersontak dari lamunannya dan mendongak ke samping.

“ Kenapa kau tadi geleng-geleng kepala sambil memegang dadamu?”, Tanya Jong Woon penasaran.

“Apa kau tidak apa-apa? Apa dadamu sakit? Apa seharusnya kita pergi ke dokter?”, lanjutnya khawatir.

“Ah? A. . Aniyo~ Gwenchana”, sangkal Hyun Yoo sambil mengibaskan-ibaskan tangan satunya.

“Jinja ?”, Tanya Jong Woon meyakinkan.

“Ehm!” Hyun Yoo mengangguk dan kembali menunduk.

                Huufftt~~ Sepertinya memang iya, aku harus pergi ke dokter,
                Pikiran dan hatiku mulai gila. .

*******************************

                Sepanjang jalan, Jong Woon menfokuskan pada jalan yang didepannya. Ia tak berniat untuk mengajak bicara Hyun Yoo. Ia memberi  kesempatan untuk Hyun Yoo beristirahat, mungkin dia lelah. Di sela-sela menyetirnya ia berpikir,  dengan kejadian apa yang menimpanya sehingga membuatnya ketakutan seperti tadi. Apalagi, pakaian yang dipakai Hyun Yoo sudah tak serapi biasanya. Rambut Hyun Yoo juga terlihat acak-acakan. Jong Woon menggeleng cepat. Ani! Ia harus berpikir positif. Ia akan menanyakannya nanti.

“Eoh ? Kau sudah tidur?” , Jong Woon terkesiap, karena kepala Hyun Yoo tiba-tiba bersandar ke pundaknya. Ya, saat ini Hyun Yoo tertidur di pundak Jong Woon yang sedang sibuk menyetir. Sesekali Jong Woon melihat raut damai dan juga lelah yang terpancar di wajah manis Hyun Yoo. Tak terasa bibir Jong Woon menari sudut membentuk senyuman.

*******************************

           Sebuah mobil hitam berhenti di sebuah rumah. Ya, Hyun Yoo sekarang memang sudah tak tinggal di apartement. Dua minggu lalu , setelah kematian Donghae, ia harus menerima kepahitan lagi. Dia harus merelakan ayahnya yang sebagai kepala rumah tangga sekaligus penopang nafkah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Hyun Yoo sangat depresi akan hal itu. Tapi, hal itu tak berlangsung lama. Untungnya, dia punya sahabat seperti Jong Woon yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka. Dan itu membuatnya kembali tegar, bahwa dirinya tak sendirian.

        Karena kepergian sang ayahnya, ia mulai mencari pekerjaan, untuk membayar semua uang kuliah dan kebutuhan keluarganya. Diapun menjual apartementnya hanya untuk mencukupi itu, dan kemudian pindah ke rumah yang saat ini Hyun Yoo tempati. Rumah yang terlihat lumayan kecil dan sederhana, terletak di atap. Cukup nyaman untuk di tinggali 1 orang saja. Meski begitu, Hyun Yoo tetap bersyukur dengan apa yang ada. Yang terpenting dia masih punya tempat berlindung, tidur, makan dan sebagainya ,itu sudah cukup.

         Jong Woon hanya diam di tempat. Berusaha tak melakukan gerakan yang bisa mengganggu ketenangan orang yang saat ini terlihat sangat nyaman memejamkan matanya dengan bersandar di bahu tegap Jong Woon. Karena gerakan sekecil apapun , munngkin saja. . akan membuat yeoja di sampingnya bangun. Jong Woon tampak tersenyum . Ia terus menatap wajah manis Hyun Yoo lekat. Seakan ia ingin waktu berhenti berputar.  Ia telusuri seluruh lekuk wajah yeoja yang ada di sisinya. Sampai ketika, saat pandangannya beralih ke bibir Hyun Yoo. Glek! Ia menelan salivanya dengan susah payah. Jantung Jong Woon kembali berdebar tak sesuai irama. “ Arggh~ Jangan Lagi~” geutu Jong Woon kesal. Jong Woon langsung mengalihkan pandangan ke luar jendela, dan menghirup oksigen sebisanya. Sambil terus meremas dadanya, yang terus berdetak aneh.

“ Eungh~” Tak berapa menit kemudian, ada pergerakan dari yeoja di sisinya. Hyun Yoo mengerjapkan matanya dan sesekali melenguh kecil. Saat matanya benar-benar terbuka, Ia terkejut . Kenapa ia bisa tidur dan bersandar di bahu Jong  Woon? Hyun Yoo kira ia sedari tadi bersandar di kaca. Melihat kenyataan itu, dengan sigap ia menjauhkan kepalanya dari bahu Jong Woon. Jong Woon hanya tersenyum geli melihat tingkah yeoja di sampingnya .

Aisshh~ Memalukan~~ , gerutunya dalam hati kesal dan sedikit salah tingkah. Mungkin mukanya mulai memerah saat ini. Hyun Yoo menghirup nafas panjang untuk menetralisir kegugupannya. Ia harus terlihat biasa saja.

“ Sudah sampai ya ?” , tanyanya berusaha untuk tak terlihat canggung.

“Ne” , jawab Jong Woon singkat dengan senyum  yang terukir di wajahnya.

“ Ehm. .” Hyun Yoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena kecanggungan.

“ Kalau begitu, Gomawo sudah mengatarkanku, Jong Woon”, lanjutnya dan mulai menggapai pintu mobil di sisinya.

“ Changkaman!”, cegah Jong Woon. Iapun keluar dari mobil dan berjalan kesisi mobil, tempat Hyun Yoo duduk. Jong Woonpun membukakan pintu mobil untuk Hyun Yoo.

“ Go. .gomawo”, ucapnya ragu setelah keluar dari mobil . Tingkah Jong Woon memang sedikit aneh dan membuat Hyun Yoo tampak canggung.

“ Tak masalah. Cepatlah istirahatkan tubuhmu. .Kau terlihat lelah. .” , ucap Jong Woon dengan senyum tulusnya.

“ Ne”, Jawab Hyun Yoo dengan membalas senyum tulus namja itu.
Jong Woon terus memandang punggung Hyun Yoo yang semakin menghilang di balik pintu rumahnya.

TaoBaekhyunChanyeol


To be continued~~~~~~

Mian semakin GEJHE dan AMBURADUL ~ HUWAAHH~ MIANHAE~ T,T  dan banyak Typo-typonya~
Saking lamanya gak ngelanjutin , jadi , bingung ceritanya enaknya mau diterusin kayak gimana, -__-)?
jadinya begini dehh~~ Okke deh! Moga suka yaah~
KRITIK dan SARAN yang membangun aku tunggu~
Hargai AUTHOR ,ne ! ^^
KOMEN MU SANGAT BERHARGA! #BOW
THANKS FOR VISIT BEFORE! 

Kamis, 23 Mei 2013

CRUSH -- Chapter 3

Judul : Crush
Author : Choi Hyuk Ra (Rentika)
Genre : Romance , Hurt.
Inspired from  : Song of Sandeul - Crush
Cast : Song Hyun Yoo as You
         Yesung as Kim Jong Woon
  Park Hyo Jin (new cast)
Other Cast : Temukan sendiri.

                   Anyeong! Chapter 3 udah rilis! Mianhae kalo semakin Geje and banyak typo-yuponya pas baca, karena author juga manusia. Udah deh gak banyak bacot. Lets Fly!



PART 3
*********************
Sejak kejadian itu, Hyun Yoo tak mau makan ataupun tak mau berangkat kuliah. Dia ingin sendiri. Hanya ingin ditemani dengan angin sepoi yang menerpa rambut pendeknya saat ini. Udara di Seoul sangat cerah, tapi, tak secerah hatinya. Lihatlah! Saat ini dia sedang duduk di kursi ayunan, termenung di sebuah taman dekat apartementnya. Memandang kosong ke depan dengan mata sayu dan lingkaran hitam yang terlukis disana. Kelihatan sangat lelah memang. Lelah bukan karena tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk , tapi, lelah dengan takdir yang menurutnya kejam menyiksanya. Namja yang 1 tahun menjalin cinta dengannya harus  pergi selamanya. Itulah yang ia pikirkan selama ini. Kenapa Tuhan mengambilnya dengan cepat? 

Hyun Yoo menunduk, matanya mulai berair. Seakan bendungan air matanya ini akan jebol seketika. Kala kejadian masa lalunya bersama Lee Donghae tergambar di benaknya.

FLASBACK ON#

Tepatnya ,saat pertama kali bertemu Lee Donghae. Dia bertemu Lee Donghae di sebuah Perpustakaan. Suatu hari di perpustakaan , Hyun Yoo ingin mencari buku Kesenian untuk tugas esainya. Sayangnya, buku itu terlampau tinggi tempatnya untuk ia gapai. Hyun Yoo yang berpawakan sedikit pendek, mencoba berjinjit-jinjit menggapai buku itu. Sesekali dia mendengus kesal dan mencoba kembali meraih buku itu. Hingga sebuah tangan kekar mengambil buku yang yeoja itu ingin ambil. 

"Igo . . . " , kata namja yang tepat di belakang Hyun Yoo, tapi, Hyun Yoo tak tahu namanya.

Hyun Yoo terdiam sejenak dengan tangan yang masih terangkat. Dan kemudian  menoleh, " Eoh, Gamsahamnida. . " , Hyun Yoo langsung menganggukkan kepalanya sopan berterima kasih. " Chonmaneyo " , balas namja itu dengan senyumannya. Sebuah senyuman yang pasti akan membuat para yeoja yang melihatnya akan diam membeku. 

Saat Hyun Yoo mendongak, tatapan mereka seketika bertemu. Namja itu masih mengeluarkan senyum pemikatnya. Tatapan tajam namja itu seakan menghipnotis yeoja yang ada dihadapannya. Diam tak bergerak. Sepertinya waktu berhenti berputar, seakan ada bunga sakura yang turun bertebaran disekeliling mereka. Membuat jantung Hyun Yoo berdetak dengan kencang tak seperti biasanya. Tak pernah ia rasakan perasaan ini sebelumnya. Kenapa perasaannya seperti ini? Padahal ia sama sekali tak mengenal namja ini. "Apa ini Love In First Sight? ", batinya. Hyun Yoo masih terpaku. Tiba-tiba sebuah tangan bergerak - gerak di depan matanya. Membuat kesadarannya kembali. Hyun Yoo sedikit tersentak. " Eoh! "

" Gwenchanayo ? " , tanya namja itu.

" e . . emm. . Gwenchana. " , jawab Hyun Yoo dengan rona merah yang muncul di pipi mulusnya. Membuat Hyun Yoo menunduk malu. 

" Agasshi, jurusan sastra? ", Hyun Yoo serentak mendongak, kembali menatap namja itu. 
" N..Ne ", Jawab Hyun Yoo sedikit tergagap. Tak dipungkiri keguugupan yang ia rasakan. Menatap namja tampan dihadapannya. Dengan senyum mautnya. Arghh~ dia bisa gila. 

" Wahh, kebetulan aku juga jurusan sastra , perkenalkan namaku Lee Donghae. Bagapseumnida" , ucap namja itu memperkenalkan diri. 

" Nde, N..Nado " jawab Hyun Yoo yang masih tergagap. Efek jantungnya yang memompa cukup cepat mungkin? 

Semenjak itu, mereka sering bertemu. Bukan karena se-fakultas yang sama, tapi, memang Lee Donghae selama kuliah disana , sepertinya . . sudah mengincar yeoja bernama Hyun Yoo ini sebelumnya. Sampai akhirnya, mereka mulai bersahabat. Hyun Yoo mulai memperkenalkan Lee Donghae pada Kim Jong Woon -- sahabat kecilnya. Mereka bertiga tak segan-segan bertukar pikiran bersama-sama dan saling bercanda ria. Sungguh akrab persahabatan mereka bertiga. Terkadang sikap Lee Donghae yang perhatian ,membuat Hyun Yoo senang. Tapi, beda halnya dengan Jong Woon yang mulai mencintai sahabatnya ini. Hatinya seperti tercabik-cabik tat kala melihat perhatian Lee Donghae pada Hyun Yoo yang terlihat seperti bukan sekedar sahabat. Hingga pada akhirnya, Lee Donghae menembak Hyun Yoo dengan romantis di sebuah restaurant. Yang sampai sekarang menjadi tempat favorit mereka. Kemesraan demi kemesraan ia tampilkan , sekalipun itu di depan Jong Woon, yang tak Hyun Yoo ketahui bahwa namja itu juga mencintainya, tapi , takut untuk mengungkapkan. Jong Woon hanya bisa menerima dan menampilkan senyum palsu  kepada kedua sahabatnya itu, memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja, tapi, sebenarnya tidak. Dalam hati, Ia meruntuki kebodohannya, tak mengungkapkan cintanya dari awal. Yang bisa Jong Woon lakukan hanya memendam rasa pada Hyun Yoo, walau itu akan membuatnya sakit.

FLASBACK OFF#

Hyun Yoo tak henti-hentinya meneteskan air mata. Tat kala memori kejadian dan kebersamaan masa lalu bersama Lee Donghae itu terputar kembali. Isakan demi isakan ia keluarkan. Hatinya sakit memikirkan bahwa takdir telah merenggut nyawa kekasihnya. Ia masih belum terima. 

"Chagiya~ Chagiya~" 

Hyun Yoo tersentak dari isakannya. Seperti ... suara Lee Donghae? Suara namja yang Hyun Yoo rindukan. Hyun Yoo membelalakkan mata sayunya bingung. Hyun Yoo masih bertanya-tanya, apa pendengarannya salah?Apa dia memang sudah gila? Hyun Yoo masih bertanya-tanya. Entahlah~ suara itu terdengar jelas di telinganya.

"Chagiya~ Chagiya~" , ulang suara itu. Ya Tuhan, itu suara Donghae. Batinnya senang. Tapi , dimana dia? " Cha..chagiya~ Oppa-ah~" teriak Hyun Yoo dengan suara seraknya. Dia mendongak, menoleh ke kiri dan ke kanan.

  " Oppa-ah~ eoddiga ? ", Hyun Yoo masih mencari-cari sumber suara. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. Menyeret kakinya pelan seraya menoleh ke kiri dan ke kanan. Tapi, tak ada sosok yang ia cari. Tiba-tiba, kepalanya mulai berdenyut, matanya mulai buram menatap  pandangan di depan, Tidak! Ia harus bertahan , ia tak boleh pingsan. Ia sangat rindu pada Donghae. Dia harus melihatnya. Tekad bulat itu terus bergemuruh dalam hati. Tapi, semuanya sia-sia , tanah yang ia pijak mulai berputar-putar. Hyun Yoo tak bisa menahan kakinya berpijak sekarang. Iapun linglung ke samping. Untungnya, ada seseorang yang menopang tubuhnya. Hyun Yoo melihat bayangan Lee Donghae samar."Donghae-ah~", lirihnya, sebelum tatapannya semakin buram. Iapun menutup matanya dan mulai tak sadarkan diri. 

********************

Seorang namja sedang berjalan sedikit tergesa-gesa ke arah apartementnya. Namja itu Jong Woon. Saat ini , Jong Woon menggendong seorang yeoja yang tak sadarkan diri ala bridal style. Jong Woon menatap sayu wajah lelah yang terlukis jelas di raut yeoja yang ia gendong kini. 

Sesampainya, di depan pintu apartement, tangan Jong Woon yang masih setia menggendong Hyun Yoo,  berusaha menekan password pintu apartement.

PIPE! Ttilili..lilit... 

Pintu apartement terbuka , Dia segera mengarahkan kakinya ke kamar  tidur. Membaringkan yeoja itu di tempat tidurnya. Setelah itu, Jong Woon menggeret kursi kecil, dan kemudian duduk di samping tempat tidur Hyun Yoo. Memandang yeoja itu sayu . Yeoja yang saat ini tidur terpejam di hadapannya. Terlihat damai menurutnya. Tapi, rasanya sakit ketika melihat wajah lelah yeoja ini. Lelah terhadap beban hidup yang ia alami. Terlihat yeoja itu mulai mengerutkan dahinya, sedikit mengigau. Keringat juga mulai tampak di dahi dan pelipisnya. Tangan Jong Woon kemudian terangkat, menempelkan telapak tangannya pada yeoja itu. 

" Astaga . . demam!! " batinnya panik, setelah menempelkan tangannya ke dahi Hyun Yoo. 

Jong Woon segera berlari ke arah dapur, mengambil baskom dan mengisinya dengan air yang cukup serta tak lupa sapu tangan untuk mengompres dahi Hyun Yoo. Jong Woon menghampiri Hyun Yoo yang terlihat tak nyaman dengan tidurnya itu, mungkin efek panas yang dia rasakan. Diapun meletakkan baskom yang berisi air di bawah kursi tempat ia duduk. Tangannya dengan telaten memeras sapu tangan yang sudah dicelupkan di baskom berisi air itu. Kemudian, melipat sapu tangan kecil tersebut menjadi 2 dan meletakkannya di dahi Hyun Yoo. Jong Woon kembali duduk di samping tempat tidur Hyun Yoo. Kembali memandang  wajah yeoja itu dari ujung kepala , dahi yang terpampang indah, hidung mancung Hyun Yoo . Hingga . . ketika matanya tertuju pada bibir pink Hyun Yoo. GLEK! Jong Woon menelan ludahnya susah payah. Jantung Jong Woon terasa berdegup kencang. Ingin sekali ia mencium lembut bibir manis itu. Dengan sedikit ragu, Jong Woon mencoba mendekat, mempersempit jarak diantara mereka. Hingga Jong Woon bisa merasakan deru nafas Hyun Yoo yang saat ini tertidur damai. CHU~

1 detik, 2 detik, 3 detik , 4 detik , 5 detik . . .

Hanya  5 detik Jong Woon menempelkan bibirnya pada bibir Hyun Yoo. Ya, hanya menempelkan. Dia memang tak berniat untuk lebih memperdalam. Ia takut akan mengganggu istirahat Hyun Yoo dan membangunkannya. Apalagi, ia masih belum berani menyatakan perasaannya secara langsung. 
" Saranghae . . " bisiknya setelah selesai melepaskan tautan bibirnya. Jantungnya masih berdegup kencang. Sebelah tangan Jong Woon memegang dadanya yang masih berdetak kencang.

Semalaman Jong Woon terus mengganti kompres dan meletakkan kembali ke dahi Hyun Yoo. Hingga malam semakin larut , Jong Woon merasakan matanya mulai berat. Dan iapun tertidur di sisi Hyun Yoo, dengan posisi ,memiringkan kepalanya bersandar pada satu tangannya yang dilipat, yang ia gunakan sebagai penopang untuk tidur. Sedangkan tangan satunya menggenggam tangan Hyun Yoo lembut. 

Hari berlalu , Malam yang sunyi berganti pagi yang cerah, disertai kicauan burung-burung gereja yang mewarnai pagi itu. Gumpalan awan yang terlukis indah di langit biru. Menambah keindahan kota Seoul. Sinar mataharipun mulai menjelajah diantara sela-sela gorden apartement Jong Woon. Mengusik namja yang sedari tadi tidur dengan posisi tak nyaman. Membuat sang namja terbangun dari mimpinya. 

" Sudah pagi? " , Bangunnya sambil mengerutkan kening dan mulai mengucek-ucek matanya. "Akhh~ punggungku pegal sekali " ,eluhnya, mungkin efek tidur yang tak nyaman itu. Ia pun mulai menggerakkan persendian bahunya, sedangkan tangan satunya memegang bahu yang ia gerakkan. Sejenak Jong Woon menghentikan aktivitasnya memandang wajah damai Hyun Yoo.  Terlihat ia begitu lemah, hingga sinar mataharipun tak membuatnya terasa terganggu. Jong Woon mengecup singkat dahi Hyun Yoo dengan lembut. 

Lalu, memegang dahi Hyun Yoo, memastikan bahwa demamnya sudah mulai reda. Setelah itu, melepaskan sapu tangan yang sedari tadi menempel di dahi Hyun Yoo. Sejurus kemudian Jong Woon beranjak dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kaki, membuka gorden putih kamarnya. Mata simpit Jong Woon menyipit , sedikit silau, tat kala pantulan sinar matahari menerpa wajahnya. Setelah selesai dengan urusan itu, Jong Woon bergegas ke dapur, membuatkan sup untuk Hyun Yoo. 

***********************

Mata Hyun Yoo kembali terbuka dengan pelan. Agak samar melihat pandangan di depannya. Ia kerjapkan matanya perlahan. Hingga akhirnya matanya mulai terbuka sempurna. Ia menatap langit-langit kamar itu sejenak. " Tunggu ! Ini sepertinya bukan apartementku" ,batinnya bingung. 

Dia kemudian mencoba menyandarkan badanya di tempat tidur itu. " Argghh~ ini di mana? kenapa aku bisa sampai di sini?." , erangnya dengan memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Kejadian saat di taman kemudian terlintas di kepalanya.

  " Donghae-ah~", lirihnya setelah mengingat kejadian di taman lalu, kejadian di taman lalu terputar kembali, ketika ia tiba-tiba mendengar suara Donghae menyerukannya. Setelah itu, ia tak sadarkan diri dan melihat samar wajah Donghae. Dan setelah itu, ia tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Seperti. . . Donghaelah yang menolongnya pingsan. Tapi, Entahlah. . Mungkin itu hanya halusinasinya saja. Tak mungkin , seseorang yang sudah mati akan hidup kembali. Lalu, siapa yang menolongnya, hingga sampai ke tempat ini? Itulah yang masih dipertanyakan oleh Hyun Yoo. Tiba-tiba, Ia mencium bau masakan di luar kamar. 

" Siapa yang memasak pagi-pagi begini? ", herannya dalam hati. Karena penasaran, Hyun Yoopun menggerakkan badanya ke pinggir tempat tidur tersebut. Duduk sejenak menetralkan pusing akibat efek seharian ia tertidur pingsan. Ia melangkahkan kakinya pelan keluar kamar. Ia melihat seorang namja dengan hem putih polosnya dan celemek hijau terpasang disana. Namja yang tak tahu itu siapa. Karena namja itu masih membelakangi Hyun Yoo yang sedari tadi hanya diam di depan kamar. Tak lama, Hyun Yoo memberanikan diri untuk menyeret kakinya pelan ke arah namja itu. Namja itu terlihat masih sibuk membereskan masakannya . Hingga akhirnya, namja itu membalikkan badannya dengan menbawa mangkok berisi bubur yang siap ia hidangkan menuju meja makan. Hyun Yoo berhenti melangkah dan mulai membelalakkan matanya yang sayu itu, " Jong Woon-ah . ." , lirihnya. 

" Oh?. . kau sudah bangun? Duduklah! Aku sudah membuatkanmu bubur ." Jong Woon menggeret kursi dan menarik tangan Hyun Yoo lembut, mendudukkan yeoja itu disana. Hyun Yoo terlihat masih mencoba mencerna kata-kata Jong Woon. Perhatian yang Jong Woon berikan membuatnya tak habis pikir. Dia rela memasakkan makanan untuknya pagi-pagi sekali. Sepertinya dia juga kurang tidur karena menemaninya semalaman saat dia pingsan. " Kenapa kau lakukan ini? " , tanya Hyun Yoo dalam hati. Dia terus mengikuti arah pergerakan Jong Woon melakukan aktivitasnya. Setelah selesai, Jong Woon kembali ke meja makan, duduk di hadapan Hyun Yoo. Seketika Hyun Yoo menunduk, mengalihkan pandangannya yang sedari tadi terus mengikuti pergerakan namja itu. 

" Kenapa belum dimakan ? Cepatlah makan . . Kau harus banyak makan, supaya kau cepat sembuh.", kata Jong Woon disertai dengan senyum manisnya.

"Nde ..", angguknya pelan dan mulai meraih sendok makan yang ada di atas meja, menyuapkan sup ke mulutnya. Sedangkan Jong Woon menatap yeoja di hadapannya intens dengan senyum yang terus merekah di bibirnya. Ia mengikuti pergerakan tangan Hyun Yoo yang memakan bubur itu hati-hati. Ingin sekali ia melihat ekspresi Hyun Yoo mengenai masakannya. Tapi, yeoja itu sepertinya menikmati masakan Jong Woon. Lihatlah~ dia terlihat lahap , walau dengan sikap hati-hati , dia menyuapkan sendok itu ke mulutnya. Namun, itu sudah membuat Jong Woon senang. 

" Otthe? Massitta? " , tanya Jong Woon penasaran, karena Hyun Yoo sedari tadi tak memberikan ekspresi tak enak atau enak tentang masakan Jong Woon. Hyun Yoo mendongak , menatap namja yang duduk di depannya. Hyun Yoo hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi , mengiyakan, masakan Jong Woon yang memang enak. Jong Woon tersenyum puas melihat Hyun Yoo memakan masakan buatanya. Tidak sia-sia , ia memasakkan bubur itu. 

Hening. Jong Woon terus memperhatikan yeoja dihadapannya. Sedangkan Hyun Yoo, menikmati masakan yang Jong Woon hidangkan untuknya. Hyun Yoo merasa sedari tadi Jong Woon memperhatikannya. Dan itu membuatnya sedikit salah tingkah. Membuat orang yang sedari memakan masakannya itu terlihat canggung. Iapun tak tahan lagi dengan rasa canggung yang ia buat sendiri. Hyun Yoo mulai angkat bicara ,

" K..kau tak makan? " , tanyanya pada namja itu. 

" Sudah. ." , angguk Jong Woon dengan tetap menampakkan senyumnya. Hyun Yoo menunduk ,menghindari senyum Jong Woon, dan mengalihkan pandangannya kembali ke mangkok berisi bubur itu. 

  " Karena aku sudah kenyang hanya dengan melihat wajah cantikmu yang melahap bubur buatanku" , ucap Jong Woon lirih tanpa sadar, tapi, masih terdengar oleh yeoja yang ada didepannya. 

" Mwo? " , Hyun Yoo tersentak tak mengerti , mendongak dan menatap namja itu seraya mengerutkan alisnya. Apa yang Jong Woon katakan barusan?

Jong Woon membelalakkan mata sipitnya itu tak percaya. " Tunggu! kenapa aku mengatakan itu padanya? Apa aku sudah gila? Arggh~ " , runtuknya dalam hati." Ne? Ahh. . A. . Ani . . Aniyo . Ehmm . . aku . .aku mau ke kamar mandi dlu. " , ucap Jong Woon salah tingkah sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.  

Hyun Yoo masih menatap kepergian Jong Woon tak percaya. Dia memiringkan kepalanya sejenak mencoba berpikir, kata-kata itu terus terulang di benak Hyun Yoo. Sepertinya , Hyun Yoo pernah mendengar kata-kata itu. Bayangan di masa lalu bersama Lee Donghae di Restaurant terakhir ia bertemu, tergambar di benaknya. Ya, benar, itu kata-kata yang hampir sama diucapkan oleh Lee Donghae dulu . " ahh. . . Ini hanya kebetulan, ya, kebetulan saja",  yakinnya pada dirinya sendiri.  Diapun menghentikan aktivitasnya. Kata-kata itu membuatnya tak berselera makan lagi.  Hyun Yoopun bergegas ke dapur mencuci mangkok bubur itu. Setelah itu, ia memutuskan untuk kembali ke apartementnya. Karena ia tak ingin Jong Woon khawatir, Ia pun menuliskan note yang ia taruh di atas meja makan. 
                                                                 *********************
Jong Woon keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya di dalam sana. Ia menggosok-gosokkan rambut yang basah itu dengan handuk sambil berjalan ke arah dapur. Sesampainya di dapur , tepat di ruang makan, Jong Woon terkejut karena yeoja itu sudah tak ada. Rasa khawatir merambat di relung hatinya. " Kemana dia ?." , " Hyun Yoo-ah ! Hyun Yoo-ah! " , panggilnya beranjak ke kamar, tapi, di kamar juga tak ada. Dia kembali lagi ke meja makan. Di temukannya note kecil tergeletak di sana. 

Jong Woon-ah terima kasih atas semuanya.
 Saat kau membaca note ini, aku sudah kembali ke apartement. 
Jadi, Jangan khawatirkan aku, Aku ingin sendiri sekarang.
Hyun Yoo

" Huuft . . " Jong Woon menghela nafas pelan. Jong Woon menerawang ke depan. Harusnya Hyun Yoo tak menghadapi semuanya dengan sendiri. Itu malah akan membuat beban bagi dirinya. Dia masih punya sesorang untuk bersandar yaitu Jong Woon. Sebagai seorang sahabat, bukankah harus berbagi suka dan duka bersama? 

Suatu saat nanti, aku akan ungkapkan perasaanku . .
Tak peduli , kau menerimaku atau tidak. .
Aku tak ingin memendam terus perasaan ini . . 
Aku hanya ingin kau tahu , bahwa aku mencintaimu. .
Saranghaeyo Hyun Yoo-ah~ (Jong Woon)

SKIPP>>

                                                        ********************

  6 bulan kemudian . . .

Malam berganti siang, hari berganti hari , minggu berganti minggu ,hingga bulan berganti bulan  Hyun Yoo sudah mulai mencoba melupakan kepergian kekasihnya. Walau  perlu waktu lama untuk melupakan semua kenangan-kenangan masa lalunya. Jong Woon -- sahabat masa kecilnya selalu menemaninya dan menghiburnya. Seakan menyuruhnya Jangan melihat ke belakang , tetaplah lurus memandang ke depan . Tapi, sekeras apapun mecoba melupakan kenangan itu, sebuah kenangan tidak akan terhapus begitu saja. Itu yang dialami Hyun Yoo. Dia akan teringat kembali masa-masa lalunya jika ada seseorang yang mengingatkannya pada Lee Donghae. Dan itu membuat Hyun Yoo merasa sedih. Namun, Hyun Yoo tetap membiarkan kenangan itu hanya sebagai kenangan. Ya . . . hanya kenangan , Kenangan yang indah. 

Sikap Jong Woon yang selalu menghiburnya, membuat Hyun Yoo tertawa kembali dan memberikan perhatian padanya, membuat Hyun Yoo merasa sangat nyaman. Lebih dari Lee Donghae berikan dulu. Apalagi, sekarang Hyun Yoo merasa sangat aneh jika Jong Woon tak ada di sisinya. Seperti ada sesuatu yang hilang. Entahlah~ ia tak mengetahui perasaannya itu dengan jelas. 

Jong Woon Family's House

Semua keluarga Jong Woon berkumpul meja makan. Sepertinya ada suatu hal penting yang harus dibicarakan. 

" Suamiku, apa kau yakin Jong Woon akan menerima perjodohan ini?  Dia kan sudah besar , dia sudah punya selera tersendiri. Atau mungkin . .  dia juga sudah punya kekasih. " , terlihat eomma Jong Woon tak yakin dengan perjodohan yang suaminya lakukan.  

" Mau apa lagi, aku harus melaksanakan perjodohan ini. Ini akan membantu bisnis  kita , istriku. Kau tahu, bisnis kita semakin lama mengalami penurunan. Jika Jong Woon menerima perjodohan ini dengan anak rekan bisnisku, itu akan sangat membantu untuk meningkatkan investasi kita. " , papar Appa Jong Woon.

" Tapi suamiku . . " , sanggah eomma Jong Woon tak sampai melanjutkan perkataannya, suaminya menyela.

" Tenanglah, hal ini bisa aku atasi." Jawab Appa Jong Woon tenang sambil menyesap kopi, seakan tahu apa yang dikatakan istrinya selanjutnya.

Terlihat Jong Woon memasuki rumah, setelah dibukakan oleh pembantu. Ia langsung melenggangkan kaki ke dalam dan menuju ruang makan. Ini aneh sekali menurutnya. Ia tak mengerti kenapa ia mendadak harus disuruh pulang ke rumah dan diajak makan malam seperti ini. Dan ditambah lagi, Appanya yang sungguh sibuk dengan bisnisnya terlihat menyempatkan waktu untuk acara keluarga seperti ini. Jong Woon mengerutkan keningnya sejenak. Ia berharap akan menerima kabar baik. Iapun berjalan ke arah kursi samping eommanya. Menunduk memberi salam sejenak. Dan mulai duduk. Sedangkan dongsaengnya -- Kim Ahra , yang masih SMA, duduk di samping Appanya. 

" Ada apa appa dan eomma memanggilku untuk makan malam, ini sungguh aneh? " , tanyanya heran sambil menoleh bergantian ke arah eomma dan appa-nya , ketika menyebut kata -- Appa dan Eomma . 

" Jong Woon-ah, begini . . . langsung saja Appa jelaskan , aku menerima perjodohanmu dengan rekan bisnisku. " jelas Appa Jong Woon.

"Ne ? " , tanya Jong Woon tak mengerti apa yang dikatakan Appanya . Jong Woon masih terbelalak tak percaya. Apa ?! perjodohan? Apa maksudnya dengan perjodohan? Apa aku mau dijodohkan? aish, yang benar saja, batinnya dalam hati.

" Mak . . maksud Appa? " , lanjut Jong Woon tak percaya.

" Maksud `Appa . . .kau akan kujodohkan dengan anak perempuan rekan bisnisku, dan minggu depan kita akan berkumpul seperti ini dengan orang tua calon istrimu nanti. Setelah itu, menentukan tanggal pertunangan dan kemudian segera menentukan tanggal pernikahan " , papar Appa Jong Woon tenang , tapi, tegas dalam pengucapannya. 

" Huh! Jangan bercanda Appa , aku tak akan menerima perjodohan ini. ", ucap Jong Woon dengan smirknya.

" Kau harus ! "  

" Wae? Kenapa harus ? Apa Appa tak tahu . . . ? sudah ada yang mengisi hatiku. Dan aku bisa memilih calon istri yang cocok untukku. Aku bisa menentukan sendiri, Aku sudah dewasa, Appa! " Jong Woon sungguh tak mengerti tujuan Appanya kali ini. Eomma yang ada di sisinya terus menggenggam erat tangan Jong Woon di sampingnya. 

" Arra . . Aku tahu kau sudah dewasa dan bisa menentukan pilihanmu sendiri. Kau tahu, Appa terpaksa menerimanya karena bisnis kita sedang dilanda krisis kebangkrutan. Hutang  perusahaan semakin menumpuk. Jika hal itu, terjadi, perusahaan akan bangkrut dan siapa yang akan membiayai adikmu sekolah nanti , siapa yang akan membiayaimu kuliah dan memenuhi kebutuhan kita sehari-hari ? hem?! " , jelas Appa Jong Woon.

"  Appa !! " , Jong Woon berdiri dari kursinya, tak tahan lagi dengan sifat keras kepala Appanya. Eomma Jong Woon langsung memegang tangan Jong Woon, mengajaknya kembali duduk. 

" Pokoknya kau harus! Ini demi keluarga ini, Jong Woon. ", paksa Appa Jong Woon. 

" Tapi, kenapa harus perjodohan? bisa saja kita berinvestasi dengan rekan bisnis tanpa adanya perjodohan,kan ?! Ck, sungguh tak masuk akal!" , ucap Jong Woon kesal. Dia sungguh tak menginginkan perjodohan ini. Sungguh, tak habis pikir dengan apa yang Appa-nya kehendaki, Tidakkah Appanya mengerti sekali ini saja tentang perasaannya? Kenapa segala sesuatu yang Jong Woon lakukan harus ditentukan? Jurusan ditentukan , sekolah ditentukan, lalu, apa lagi? pendamping hidup juga ditentukan? Aishh . . Itu sungguh keterlaluan, batinnya. 

" Appa egois!! Aku tidak akan menyetujuinya sampai kapanpun!  Tak akan! " , Jong Woon tak tahan lagi berdebat dengan Appanya yang keras kepala dan egois itu. Dia memutuskan berdiri dan beranjak pergi dengan menyangklet tas dipundaknya. Tak memperdulikan teriakan Appanya yang memanggil-manggil namanya. Ia anggap sebagai angin lalu.

" Yakk! Jong Woon-ah!! dengarkan Appa dulu!!  Aishh! Anak itu, Tak sopan sekali ! " Teriak Appa Jong Woon yang tak digubris oleh anaknya. Lalu berdiri hendak menghentikan laju langkah Jong Woon . Tapi, sebelah tangan laki-laki itu tertahan oleh sebuah tangan. Dilihatnya, ternyata eomma Jong Woon menahannya. 

" Tenanglah , suamiku! Biarkan dia pergi dulu . . " ucap Eomma Jong Woon memegang lengan suaminya dan sesekali ia memberi ketenangan dengan mengusap-usap lembut.

" Tapi, istriku. . . " 

" Geure . . Kita bicarakan lagi nanti ,ne? Kau istirahatlah dulu . . Kau pasti lelah dengan semua masalah ini " , kata eomma Jong Woon menggandeng lengan suaminya. 

   ************************

At Night in Park Family's House

Seorang yeoja sedang berdiri di depan cermin panjang dalam kamarnya. Dia Park Hyo Jin. Yeoja berambut coklat panjang, sedikit curly dibagian bawah. Tampak ia sedang memasangkan pakaian, lebih tepatnya Dress yang cocok untuknya. Sedikit bingung untuk memilihnya. Sekian lama ia pilah-pilah Dress yang cocok untuknya. Ia putuskan untuk memilih Dress Syifon dengan lengan terbuka berwarna crream yang menampilkan lengan putih mulus yeoja itu.  Dengan hiasan bunga mawar di bagian dada kirinya. Raut bahagia tak lepas dari wajahnya. Bagaimana tidak, Ia akan dijodohkan keluarganya dengan seorang namja tampan bernama Kim Jong Woon. Namja yang ia kagumi sejak pertama kali ia menginjakkan kaki ke tempat perkuliahan. Ketika pertama kali bertemu, dia seperti melihat pangeran tampan yang ada di Dongeng Cinderella. Sungguh tampan.Walaupun ia satu mata kuliah dengan Jong Woon, ia tak berani untuk menyapa ataupun berkenalan dengannya. Dan sekarang, lihatlah! betapa bahagianya ia bisa dijodohkan dengan pangeran tampannya itu. Ia tahu memang. . kalau perjodohan ini karena Ayah Jong Woon ingin berinvestasi dengan ayahnya , yang notabene sebagai pengusaha yang mempunyai saham terbesar saat ini. Itu tak masalah, yang terpenting, ia memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan Jong Woon.

Setelah mengganti pakaiannya dengan Dress cantik. Dia memoles wajahnya natural dengan make-up lengkap yang ada di depan kaca riasnya. Dia harus terlihat cantik dan elegant didepan keluarga Kim terutama pada Jong Woon. 

" Cha~ Selesai ! Yeppo~ " , Park Hyo Jin tersenyum senang , memuji diri sendiri. 

Diapun melenggangkan kaki keluar kamar , menemui keluarganya yang menunggu dia dari tadi. 
" Wuahhh. . Yeppudaa anak appa~ ", ucap Tuan Park tersenyum senang , ketika anaknya menuruni tangga tingkat rumah mewah itu. Yang dipuji hanya tersenyum malu. 

" Sudah siap ? " , tanya eomma Hyo Jin. 

" Siap! Kajja! ", senyumnya senang sambil menggaet tangan eomma dan appanya.
                                   ***********************
Sampailah keluarga Park di sebuah Restaurant . Restaurant yang classic tapi, tetap menampilkan kemewahan restaurant itu. Di bagian dalam restaurant, dindingnya berwarna merah maroon gelap dengan motif bulat warna emas. Tidak banyak memang orang yang datang ke tempat itu. Maklumlah, hanya orang-orang yang berduit saja yang bisa ke situ, tak terkecuali keluarga Park. 

Ketika memasuki restaurant, terlihat keluarga Kim sedang menunggu kedatangan keluarga Park. Park Hyo Jin mencoba mencari sosok Jong Woon.Ia terlihat mengerutkan dahi, sosok yang ia cari tak ada. Apa dia tak menyetujui perjodohan ini? Hyo Jin terlihat sedikit murung. Tapi, setelah sampai didepan keluarga Kim, ia tunjukkan senyum elegantnya  dan mulai mengangguk memberi hormat pada keluarga Kim. Keluarga Kim pun mempersilahkan keluarga Park untuk duduk. 

" Apa kabar Tuan Kim? Apa kalian menunggu lama? " , ucap suara berat Tuan Park sambil membenarkan jasn dan duduknya. Sementara Hyo Jin dan eommanya duduk dengan elegantnya.

" Tidak,Tidak,kami baru saja tiba 1 menit yang lalu.",sanggah nada berat milik Tuan Kim. Tuan Park hanya mengangguk mengerti.

" Apa ini putrimu Tuan Park ?Neomu Neomu Yeppuda seperti ibunya. Pasti ibunya dulu mudanya secantik ini " puji Tuan Kim  ke Hyo Jin. Yang dipuji hanya mengangguk dengan senyum simpulnya, " Gamsahamnida. " ,ucap pelan yang masih bisa didengar oleh semua Tuan Kim.

" hahaha. . Ahh. . tidak putriku ini lebih mirip ayahnya. tapi, sifatnya itu yang sangat mirip denganku. "  , jawab Ny.Park menyangkalnya. 

" Ngomong-ngomong, apa putramu ini yang akan di jodohkan dengan putriku? "

" Ahhh . . tidak, ini putra bungsuku, Kim Jong Hyun, dia masih SMA. Yang akan kujodohkan dengan putrimu adalah Putraku yang pertama,  Kim Jong Woon. "

" Lantas,  kemana dia? ", tanya balik tuan Park dengan mengerutkan keningnya heran.

" Emhh . .i. .ituu. .Dia ada urusan sebentar. Sepertinya dia agak sedikit terlambat. Tapi,dia bilang akan menyusul segera. " , Jawab Tuan Kim agak gagap, karena kelakuan putranya yang terlambat dalam acara keluarga ini. 

Bukannya Jong Woon tidak sengaja terlambat, ia memang sengaja terlambat, karena ia ingin memikirkan ini terlebih dahulu. Memikirkan , apakah ini memang takdir yang harus ia jalani sesungguhnya? Menikahi orang yang tak ia cintai? Kalau benar, ia akan terima, walau banyak keraguan dalam dirinya. 

" Ohh . . " , Tuan Park mengangguk mengerti. Walau ia sedikit heran dengan kelakuan putra pertama Tuan Kim itu. Tapi, ia mencoba memakluminya ,mungkin ada urusan yang tak bisa ditunda, sehingga putra Tuan Kim sedikit terlambat untuk datang.

Keluarga Kim mencoba mengalihkan perhatiannya mengenai masalah Jong Woon yang tak datang tepat waktu. Tuan Kim terus mengobrol panjang, dan tak segan-segan bercanda dengan Tuan Park .Ny. Park ataupun Ny. Kim juga saling memuji satu sama lain. Kim Jong Hyun, sibuk memainkan games I-PHONE nya , tak berniat mendengar percakapan kedua orang tua itu. Sementara  Hyo Jin sedari tadi tak berkonsentrasi pada percakapan antara orang tua paruh baya ini. Dia memikirkan Jong Woon. Dia takut , kalau Jong Woon tak menerima perjodohan ini. Apalagi , setahunya, Jong Woon dekat dengan Hyun Yoo. Tapi, ia tak tahu sedekat apa Jong Woon dengan Hyun Yoo. Hyo Jin menundukkan sedikit kepalanya. Dalam hati, ia berharap Jong Woon datang ke perjodohan ini.

" Jeoseonghamnida , aku terlambat. "  , terdengar suara seorang namja. Seketika Hyo Jin mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu. Jantung seketika berhenti berdetak. Ia tak percaya siapa yang ia lihat saat ini. Seketika , terlintas senyum manis di bibir Hyo Jin.

Jong Woon Oppa
Pangeran tampanku yang aku idam-idamkan,
Yang sebentar lagi akan menjadi suamiku?
Ini sungguh mimpi yang sungguh-sungguh nyata. 
BUKAN. . BUKAN MIMPI. .INI NYATA. . 

" Ohh, ini putramu? Wah, tampan seperti ayahnya. Duduklah,nak! " , ucap Tuan Park dengan ramah mempersilahkan. Jong Woon mulai duduk di samping adiknya, tepat di depan Hyo Jin. Hyo Jin tak melepaskan pandangan kagumnya pada Jong Woon, ia terus mengikuti pergerakan Jong Woon. 

" A . . Anyeonghaseyo ." , sapa Hyo Jin gugup pada namja tampan dihadapannya . Tapi yang disapa hanya mengangguk acuh. Hyo Jin hanya tersenyum kecut mendapat perlakuan tersebut. Sementara, Tn. Kim berdecak kesal. "Sungguh tak ramah sekali ", gumamnya. Rasanya ingin ia jitak kepala anaknya itu. Jong Woon yang tahu Appanya saat ini memandang kesal, sejurus kemudian mengalihkan pandangannya malas ke yeoja di hadapannya. 

Jadi ini yeoja yang dijodohkan denganku,
Sepertinya aku pernah melihatnya,
Entahlah, mungkin hanya imajinasiku saja,

         Sedangkan yang ditatap, sedikit salah tingkah dan tersipu malu. Terlihat semburat merah di pipi tirusnya. Hyo Jinpun sedikit menyembunyikan mukanya , tak menatap Jong Woon. Jika ia menatapnya , mungkin ia akan pingsan seketika. Apalagi, tatapan Jong Woon yang terkenal di kalangan wanita, sebagai tatapan Ddang- Charisma, yang bisa membuat para wanita yang melihatnya akan meleleh seketika. Melihat orang yang dilihatnya tersipu malu, ia tersenyum geli akan hal itu. Dan mulai mengalihkan pandangannya malas ke arah sekeliling. 

" Ok, semuanya sudah berkumpul. Kapan kita melangsungkan pernikahan? " , tanya Tuan Kim. 
" Secepatnya , lebih baik. " , Jawab Tuan Park.

" Bagaimana kalau pernikahannya kita laksanakan 2 bulan lagi, sedangkan pertunangannya kita laksanakan minggu depan . . ?" , ucap Tuan Kim memberi usul.

" Baiklah, aku setuju, bagaimana Hyo Jin?", tanya Tuan Park pada Park Hyo Jin.

" Ne , aku setuju setuju saja Appa ", Hyo Jin hanya mengangguk pelan, dengan senyum yang merekah di bibirnya. " Ck! yeoja ini . ." , decak Jong Woon kesal dengan senyum smirknya menatap Hyo Jin.

" Kalau kau ,nak Jong Woon? ", tanya Tuan Park pada Jong Woon.

" Eoh? Terserah.", jawab  Jong Woon singkat dengan menghadapkan wajah malas pada Tuan Park. "Aissh , Kau!", gumam Tn. Kim menahan emosi, Tn.Kim menatap kesal pada Jong Woon saat mendengar putranya menjawab dengan tingkah acuhnya itu. Tuan. Kim yang tak enak hati hanya tersenyum ngambang pada Tuan Park. Sesaat kemudian,  ponsel Jong Woon bergetar, iapun mengambil ponsel itu dari sakunya. Dilihatnya siapa orang yang menghubunginya saat ini. " Hyun Yoo-ah?? " , gumamnya. Jong Woonpun meminta izin untuk pergi ke toilet pada semua orang di tempat itu. Hyo Jin mendongak , menatap Jong Woon yang mulai berdiri dan pergi ke toilet. Sepertinya ia mendapatkan telepon dari seseorang, yang entah Hyo Jin tak tahu itu siapa . Hyo Jin yang penasaran hanya bisa memandang Jong Woon pergi. Sesampainya di toilet, Jong Woon menekan tombol hijau pada ponsel touch creennya. 

" Ne? Yeobesse . . " , terdengar suara yeoja yang sedang terengah-engah dibalik ponsel Jong Woon. Jong Woon yang bingung mengernyitkan dahi. 

" Jonghh . . Jong Woon-ah , ahk. . ahhk . .akk. .kuuh takut . . Ak..kuuhh. .hiks! hiks! hiks! .", Jong Woon sedikit membelalakkan mata sipitnya. Di seberang sana, terdengar suara isakan-isakan . Sepertinya Hyun Yoo menangis. Tapi, kenapa? Jong Woon semakin khawatir dibuatnya. 

" Yaak! Wae??!! " , terlihat raut cemas di wajah Jong Woon.

" Hiks. .Hiks . Akkuhh . .akhh. .khuhhh. .hiks. .hiks. .", suara yeoja itu mulai melemah.
" Ya! Neo Eoddisseo?!! ", Jong Woon semakin panik dengan keadaan yeoja yang menelponnya saat ini. 

" Jong Woon-ahh. . " jawab yeoja itu semakin melemah dan pelan. Sesaat kemudian tak ada suara dan isakan lagi , melainkan suara gemeretak, seperti suara ponsel jatuh. Jong Woon semakin panik, Iapun melangkahkan kakinya kasar dan sedikit berlari, keluar dari restaurant itu tak memperdulikan keluarganya yang saat ini melongo melihat kepergian Jong Woon ,yang sama sekali tak memberi salam pada mereka terutama pada Hyo Jin. Hyo Jin mendengus napas kasar. Hyo Jin kecewa , sedikit kesal pada namja itu, ia sungguh tak menyangka namja yang ia sukai begitu cuek dan tak ramah.Inikah sifatnya?  Ia memandang kosong lurus ke depan dan sejurus kemudian terukir senyum smirk di bibirnya.

Jong Woon Oppa,
Aku tahu kau tak menyukaiku,
Tapi, suatu saat nanti kau harus menjadi milikku, HARUS!

                                            *******************************

TempeBacemCabe

Fiyuuhh . . Akhirnya sesai juga Chapter 3 nya , Meski agak geje, and ada cast baru, tapi, moga kalian suka. Kritik dan saran selalu aku terima, tapi, jangan pedes-pedes ye, aku gak betah pedes, soalnya . . Salam BanillAvrilya!!